Kaya, Fokus Utama Umat Saat ini

Oleh: Fitriani (Mahasiswi UNIDAYAN Baubau dan Pengurus Komunitas Wonderful Muslimah IPK4) 

Kaya adalah sesuatu yang pasti semua orang impikan. Memiliki mobil mewah, rumah mewah, perhiasan dan semua yang mewah-mewah. Kaya juga bisa membebaskan kita dari berbagai macam kesulitan, seperti terjerat utang dan lain sebagainya.  Namun , sayangnya materialisme yang dianut saat ini telah lama berhasil membabibutakan mata. Kebanyakan orang saat ini lebih tergiur untuk menghalalkan berbagai macam cara, hanya untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Perolehan materi secara instan rupa-rupanya banyak menggoda masyarakat kita hari ini, tanpa melihat dan menelaah lebih dalam apakah itu halal atau haram.  Apakah itu betul atau hanyalah modus penipuan belaka.  Seperti kasus yang belum lama terjadi akhir-akhir ini, yaitu kasus yang menimpa guru besar padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi yang dikenal sebagai orang yang memiliki kemampuan untuk menggandakan uang. Bisnisnya ini telah  berhasil mengumpulkan banyak masa yang sampai mencapai puluhan ribu orang, yang menjadi pengikutnya. Praktek penggadaan uang dengan sistem multi level marketing  dengan rata-rata perorang menyetor uang Rp 25 juta”. Kemudian uang tersebut akan berlipat-lipat ganda. Dan orang-orang mempercayai itu sebagai kelebihan yang diberikan oleh Allah kepadanya.  Namun, Dimas Kanjeng ditangkap pada Kamis (22/9) lalu karena di duga terlibat pembuhunan dua  orang santrinya dan menjadi tersangka penipuan menggandakan uang. Kasus ini berawal  dari terkuaknya  kasus pembunuhan sadis dengan korban Ismail dan Abdul Ghani, dua orang santrinya sendiri.  Melalui 9 orang , Taat menyuruh mereka untuk membunuh korban dengan bayaran Rp 320 juta. mereka dibunuh karena korban mencoba untuk mau mengungkapkan bisnis penipuan penggandaan uang yang dilakukannya selama ini. Namun, dengan membunuh kedua orang santrinya ini, rupa-rupanya tidak berhasil menyembunyikan penipuannya ini. Karena tidak berselang lama, ada laporan yang masuk ke polda Jatim dan satu laporan diBareskrim Polri. Mereka melaporkan diri sebagai korban dari bisnis penipuan menggandakan uang yang dilakukan oleh Kanjeng Dimas Taat, Salah satu korbannya yakni, Muhammad Ain Yaqin melaporkan kasus penipuan yang dilakukan Taat dengan kerugian mencapai Rp25 miliar ke Bareskrim pada 20 Februari 2016. (antaranews.com).  Dan kini, jumlah korban yang tertipu, semakin hari semakin bertambah banyak,contohnya sudah  2.180 orang yang menjadi korban.(klikkabar.com) .

Terlebih, praktek penipuan juga pernah terjadi pada bulan Februari beberapa bulan lalu, di Pasarwajo, Kabupaten Buton.  Seorang perempuan berinisial M di tangkap aparat Polres Buton, Sulawesi Tenggara atas dugaan kasus penipuan penggandaan uang.(Kabarbuton.com) Faktor penyebabnya Jika kita analisis lebih dalam, ada beberapa hal yang menjadi faktor penyebabnya, diantaranya yaitu:

1.ini adalah hasil dari diterapkannya sistem Sekularisme.  Umat Islam saat ini telah memisahkan agama dari kehidupannya dan tidak menjadikan Islam sebagai landasan kehidupannya. Sehingga mereka menghalalkan berbagai macam cara untuk berlomba memperoleh materi sebanyak-banyaknya. Sehingga hanya dengan sedikit iming-imingan, mereka langsung tergoda tanpa melihat bagaimana Islam memandangnya.

2. Minimnya kadar iman, hingga membuat mereka salah mengambil langkah dan buta serta hanya berfokus pada materi dan materi. Karena jika kita lihat dari kacamata islam, modus penggandaan uang itu tidak mungkin terjadi begitu saja. Pasti menggunakan sihir yang melalui perantara jin). sementara kita tau bersama, bahwa yang namanya sihir berarti telah meneyekutukaan Allah, mempercayakan sesuatu selain kepadaNya. ( Sesungguhnya orang yang mempersekutukan ( sesuatu dengan ) Allah, maka pasti Allah mengharamkan Surga kepadanya, dan tempatnya ialah Neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.( Al-Maa’idah : 72)

3. Tingginya biaya hidup saat ini, seperti BBM yang terus naik tiap tahunnya, melonjaknya biaya kebutuhan pokok, mahalnya biaya kesehatan dan pendidikan, dan lain sebagainya, hingga membuat mereka terhimpit dan tergoda dengan cara-cara instan yang belum diketahui hukum asalnya bagaimana.

4.Minimnya peran negara dalam memberantas penipuan yang kian hari kian merajalela saat ini. Negara justru membiarkan praktek perdukunan dan paranormal berkedok Islam ini berkembang. Bahkan mendapat tempat istimewa ditengah-tengah masyarakat. Faktanya kasus penipuan penggandaan uang ini, sudah sering terjadi sejak zaman orde lama, sampai dengan saat ini.(Cirebontrust.com) Salah satu penyebabnya, tidak adanya unsur jera dari hukuman yang diberikan oleh pemerintah kepada para pelaku, hingga pelaku-pelaku penipuan ini tetap eksis. Padahal Rasulullah bersabda “ Hukuman bagi tukang sihir adalah dengan dipenggal lehernya dengan pedang “(HR. At- Tirmidzi) Olehnya itu hendaknya kita kembali pada agama Allah SWT secara kaffah. Karena sungguh tak mungkin Islam dapat bersanding dengan kapitalisme sekularisme. Saatnya kita mencampakkan kapitalisme sekularisme, lalu kita ganti dengan akidah dan syariah Islam. Wallahua’lam bissawab.[]

Post a Comment

0 Comments