Kapitalisme dan Sosialisme Bahaya Laten bagi Peradaban

Oleh: Hana Annisa Afriliani, S.S. (Penulis Buku)

Belakangan ini menyeruak isu kebangkitan PKI yang tentu saja langsung menuai protes dari berbagai kalangan. Sampai-sampai beberapa waktu yang lalu, kantor YLBHI digeruduk massa karena disinyalir sebagai tempat berkumpulnya orang-orang PKI.

Banyak pihak trauma akan sejarah kelam pemberontakan G30S PKI. Hal tersebut tentu menjadi tragedi yang tak boleh terulang lagi. Akhirnya semua orang satu suara: Tolak Kebangkitan PKI.

Namun sesungguhnya, bukan hanya pembantaian keji terhadap para jendral dan ulama masa itu yang membuat kita harus dengan tegas menolak kebangkitan PKI, melainkan juga ideologi sosialisme yang melandasinya.

Sosialisme muncul sekitar abad ke-19 dalam revolusi industri, sebagai reaksi penolakan atas diberlakukannya mesin-mesin produksi yang menggantikan tenaga manusia. Pergolakan kaum buruh pun tak dapat dibendung, rendahnya upah dan tekanan ekonomi menjadi pemicunya.

Sosialisme berasal dari kata socius yang artinya masyarakat. Maka sosialisme adalah paham yang bertujuan untuk membentuk kesejahteraan kolektif yang produktif dan membatasi kepemilikan individu.

Sosialisme menentang keras kesenjangan sosial di tengah masyarakat, maka sosialisme gencar menyuarakan kemakmuran kolektif dengan cara memusatkan seluruh pengelolaan kekayaan kepada negara.

Wujud perjuangan politik ideologi sosialisme yakni dengan menciptakan kondisi chaos di tengah-tengah masyarakat, bahkan menghalalkan kudeta.

Selain itu, ciri utama ideologi sosialisme adalah pengingkarannya terhadap keberadaan Sang Pencipta. Ideologi ini menganggap bahwa manusia berasal dari materi yang terbentuk melalui proses dialektika materialisme. Maka, para penganut sosialisme kebanyakan berpaham atheis (tak beragama).

Beberapa tokoh penganut paham sosialisme antara lain Robert Owen, Saint Simon, Pierre Joseph Proudhon, Charles Fourier, Karl Heinrich Marx, dan F. Angels.

Dari nama-nama tokoh itu yang paling terkenal adalah Karl Marx. Ia dikenal sebagai "Bapak Pergerakan Sosialisme dan Komunisme internasional. Salah satu pernyataannya yang terkenal adalah " agama adalah candu".

Oleh karena itu, ideologi sosialisme berupaya menghapus agama dalam kehidupan karena agama dianggap sebagai kebuntuan berpikir manusia serta penghambat kemajuan bangsa.

Bagaimana dengan Kapitalisme?

Selain itu, kita pun harus menyadari akan bahaya laten ideologi kapitalisme yang saat ini sedang berkuasa di seluruh dunia, termasuk di negeri ini.

Jika sosialisme menekankan bahwa negara harus memegang penuh seluruh kendali perekonomian hingga membatasi kepemilikan individu, maka kapitalisme menempatkan negara hanya sebagai regulator.

Sementara roda perekonomian diserahkan kepada mekanisme pasar. Tak ada batasan dalam hal kepemilikan harta. Setiap individu yang mampu berhak memiliki harta sebanyak-banyaknya.

Kapitalisme lahir dari akidah sekulerisme, yakni memisahkan agama dari kehidupan. Jadi dalam pandangan ideologi kapitalisme, agama cukup ditempatkan di ranah privat saja, sementara di ranah publik, haram menyertakan agama. Tuhan dianggap selayaknya pembuat jam. Hanya menciptakan, selanjutnya gerak jarum jam bukan lagi campur tangan sang pembuat.

Dari pemaparan di atas, jelaslah bahwa kedua ideologi tersebut bertentangan dengan fitrah manusia, tak memuaskan akal, dan tak menentramkan jiwa.

Sejatinya manusia diciptakan oleh Sang Pencipta, bukan berasal dari materi sebagaimana anggapan ideologi sosialisme. Al-Quran telah banyak memaparkan tentang keberadaan Sang Pencipta, di antaranya sebagai berikut:

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. Yunus : 3)

Pembatasan kepemilikan individu juga bertentangan dengan Islam. Karena hakikatnya setiap individu berhak memiliki harta sebanyak-banyaknya selama sebab-sebab bepemilikannya halal, yakni bukan hasil mencuri, merampok, korupsi, menipu, dll. Selain itu, harta tersebut harus dikembangkan agar orang lain pun turut merasakan manfaatnya.

Adapun kapitalisme yang menganggap bahwa Tuhan tak boleh turut campur dalam kehidupan manusia merupakan sebuah penyesatan yang nyata.

Karena sejatinya, Allah menciptakan manusia dan mengikatnya dengan berbagai aturan yang mesti dijalani, yakni hukum syara.

Semua itu terdapat dalam Al-Quran dan As-Sunnah yang keduanya merupakan sumber rujukan hidup bagi manusia.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. (Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).

Jadi, jelaslah bahwa sosialisme dan kapitalisme merupakan bahaya laten bagi peradaban. Jika hari ini ideologi sosialisme hanya diemban oleh negara China dan Korea Utara, maka kapitalisme-sekuler sampai hari ini masih menghegemoni hampir seluruh negeri-negeri muslim.

Akibat diterapkan sistem kapitalisme, kesenjangan sosial kian menganga lebar. Harta kekayaan hanya terpusat di segelintir orang saja, sementara rakyat miskin sibuk memperjuangkan nasibnya sendiri.

Negara hanya memfasilitasi pengadaan bahan pangan, sementara pendistribusian diserahkan melalui mekanisme harga. Akhirnya hanya yang berduit yang mampu membeli, yang miskin gigit jari.

Pemerintah juga abai menjamin pemenuhan hak rakyat atas kesehatan dan pendidikan. Karena sektor-sektor tersebut telah dikuasai oleh swasta dan asing, akibatnya pendidikan mahal, kesehatan semakin tak terjangkau.

Alih-alih jaminan kesehatan lewat BPJS, rakyat justru terbelit oleh birokrasi yang berbelit-belit, belum lagi fakta pelayanan pasien BPJS yang minim kualitas. Rakyat kian diambang derita meski dikelilingi kekayaan alam yang melimpah ruah.

Padahal dalam Islam, haram untuk melakukan privatisasi sektor-sektor publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sebaliknya, seluruh kekayaan alam wajib dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat.

Sungguh, sudah saatnya kita menyadari bahwa hanya ideologi Islam lah satu-satunya ideologi yang layak diemban dan diterapkan dalam kehidupan. Karena ideologi Islam bersumber dari akidah Islam, terpancar dari aturan buatan Sang Khaliq. Sudah tentu antigagal dan anticacat.

Lebih-lebih fakta sejarah telah mengungkapkan secara gamblang bahwa ideologi Islam pernah memimpin dunia selama lebih dari 1400 tahun lamanya. Di bawah kepemimpinannya lah umat manusia memperoleh kesejahteraan hakiki dan kehidupan yang diselimuti oleh keberkahan. Wallahu'alam bi shawab.....

“Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barangsiapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” [Ali ‘Imran: 19]MuslimahNewsID]
__________

Post a Comment

0 Comments