Kampus Jangan Jadi Diktator!

Oleh : Rahmadinda Siregar, (Aktivis Lingkar Studi Mahasiswi Peduli Negeri)

ADA apa dengan kampus hari ini? Mungkin itu sedikit pertanyaan di antara rekan-rekan aktivis mahasiswa yang melihat situasi kampus akhir-akhir ini yang tidak lagi ‘bersahabat’ terhadap pergerakan mahasiswa khususnya Lembaga Dakwah Kampus (LDK).

Kampus sebagai sebuah ajang pergulatan pemikiran ilmiah kini tidak lagi netral. Berbagai kebijakan yang dikeluarkan kampus terasa semakin menyempitkan ruang gerak mahasiswa yang kritis mengemukakan pendapatnya kepada publik.

Hal itu mengundang berbagai tanya. Bukankah kampus tidak boleh berpolitik? Tapi hari ini, kita menyaksikan banyak dari kalangan pimpinan kampus (Rektor) justru menjadi ‘kepanjangan tangan’ dari penguasa untuk semakin membungkam suara-suara kritis mahasiswa.

Hal ini mengingatkan kita kembali ke zaman orde baru. Di mana pada masa itu, salah satu kebijakan dari Mentri Pendidikan dan Budaya (Mendikbud) adalah Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang dinilai kontroversi, sebab dianggap sebagai upaya rezim Suharto dalam ‘mematikan’ daya kritis mahasiswa terhadap pemerintah.

Sebagaimana diketahui munculnya kebijakan NKK/BKK ini bukanlah tanpa sebab, adanya kekhawatiran Rezim Suharto dengan terulangnya upaya menumbangkan rezim seperti yang terjadi di zaman orde lama.

Tumbuh suburnya pergerakan mahasiswa pada masa itu, dan berjalannya kaderisasi dengan baik menjadikan kritik terhadap pemerintah oleh mahasiswa ikut subur. Berbagai kebijakan pemerintah banyak yang dikritisi melalui berbagai aksi.

Hingga puncaknya protes dilakukan terhadap pemerintah dalam rangka menolak dominasi modal asing di Indonesia pada 15 Januari 1974. Peristiwa itu dikenal sebagai peristiwa ‘malapetaka 15 januari”.

Dengan lahirnya kebijakan NKK/BKK melalui Mendikbud, Daoed Joesoef, berdasarkan SK No. 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus, maka mahasiswa dilarang untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik, yang sejatinya adalah kegiatan menyampaikan kritik atas ketidakadilan rezim pada masa itu.

Bahkan ancaman drop out (do) bisa dikenakan bagi yang melanggar. Terbitnya NKK/BKK tersebut disertai dengan pembubaran Senat Mahasiswa di tiap Perguruan Tinggi (PT).

Hal yang sama tampaknya akan terulang kembali di rezim Jokowi. Terbitnya Perppu Ormas No. 2 tahun 2017 adalah bagian dari pembungkaman suara-suara kritis.

Sebab di dalam pasal-pasal yang ada, terdapat banyak pasal karet yang dinilai akan menimbulkan tafsir tunggal penguasa terhadap pihak-pihak yang dianggap berseberangan dengan pemerintah.

Keberadaan perppu ormas tidak hanya meresahkan masyarakat, tetapi juga kalangan pergerakan mahasiswa. Sehingga penolakan terhadap perppu ini juga menjadi bagian penting yang disuarakan mahasiswa.

Sayangnya, pihak kampus di berbagai perguruan tinggi terlalu ‘berlebihan’ dalam menyikapi hal tersebut. Seruan Aksi 299 tentang penolakan perppu ormas dan kebangkitan PKI yang digencarkan oleh sejumlah mahasiswa se-Sultra, termasuk di dalamnya Universitas Halu Oleo (UHO), direspon keras jajaran pimpinan UHO.

Di samping itu, di berbagai perguruan tinggi upaya-upaya deradikalisasi terhadap lembaga dakwah kampus dilakukan. Dicabutnya legalitas UKM LK3 El-Fath dan IMAM UNPAM yang notabenenya organisasi kerohanian Islam menunjukkan sikap ‘phobia’ yang berlebihan terhadap Islam.

Bahkan pelarangan pemakaian cadar yang merupakan hak berekspresi semakin dikekang oleh institusi kampus.

Perguruan tinggi hari ini menjelma menjadi sebuah institusi ‘kepanjangan tangan rezim’ dalam rangka membungkam daya kritis mahasiswa serta perang melawan ‘radikalisme’ yang sejatinya perang melawan Islam ideologis dalam penerapan syariat Islam secara kaffah.

Oleh sebab itu, mahasiswa sebagai ujung tombak perubahan harus menyadari hal ini. Suara-suara kritis mereka tidak boleh diam hanya karena dibungkam. Sebab, konsekuensi menyampaikan kebenaran adalah sunnatullahnya tantangan dan ancaman.

Allah swt berfirman: "Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya." (Q.S Al Anfal :30)

Wallahu a'lam bishshowab

Post a Comment

0 Comments