Jodoh Pasti Datang Bertamu

Oleh : Nur Baya

Adegan demi adegan di airport minggu pagi menyuguhkan pemandangan monoton nyaris menjenuhkan binti membosankan.

Masih seperti landscape bandara beberapa hari yang lalu saat kali pertama kaki Dian memijak di bandara ini. Geliat kesibukan menyapa hari menjanjikan asa. 

Beberapa orang  berpapasan dengannya berjalan tergesa bahkan setengah berlari-lari kecil.

Berburu waktu mengejar deadline, nampak semburat di wajah  mereka mewartakan kesibukan tingkat dewa.

Dian berjalan santai menuju pintu keluar. Travel bag mungil yang menyertai kepulangannya ditarik dengan pelan sambil sesekali pandangannya disapukan ke beberapa sudut penjuru mata angin.

Tetiba..

Jantungnya berdesir, hawa dingin perlahan menyusup ke  rongga hati tanpa permisi.

Deru nafas kian memburu serasa ada ribuan tangan berlomba mencengkram lehernya.

Denyut nadi berdetak 4x lipat, dalam durasi hitungan detik jantungnya memompa darah semakin tak terkendali, kini getarannya mendekati 8 skala richter.

Keringat tak mau ketinggalan, tanpa dikomando ikut-ikutan menyembul dari balik jilbab navi yg ia kenakan. Dian mencoba membangun pilar pertahanan sekuat tenaga.

Ya Allah, kenapa indera ini beradu tatap dengan sepasang mata itu? Rintihnya lirih.

Ia memejamkan mata sejenak lalu dengan buas menghirup udara sekitar untuk memastikan dia tak kehabisan oksigen.

Tuhaaaaannn, pekiknya dalam hati.

Takkan mampu kuhapus sosoknya sepanjang Engkau masih menganugerahiku kehidupan, selagi Engkau belum mencabut rezekiku berupa ingatan.

Yaaaahhh sepasang mata itu adalah netra yang dulu selalu kurindu, indera yg selalu menawarkan keteduhan.

Tak pelak lagi, pemilik indera itu, adalah laki laki yang kusangka akan menemaniku mendayung perahu kehidupan menuju JannahMu.

Laki-laki yang kuduga akan kujabat jemarinya sesaat setelah shalat jamaah ditunaikan, laki - laki yang kuharap mengecup keningku saat berpamitan mencari rezekiMu Allah.

Laki - laki yg padanya ingin kumandatkan sebagai Muhammad dalam episode perjalanan panjangku menjejaki semestaMu ini.

Astagfirullah Al Adziiimmm, kuatkan hatiku agar tangisku tak berderai di hadapannya ya Allah.

Demikian pekikan hati Dian yang menggema di relung hatinya.

Ingin rasanya ia berbalik membelakangi sosok lelaki itu. Tapi kenapa lelaki itu justru melemparkan senyuman?

Kenapa pula dia menghujaninya dgn tatapan penuh misteri? Dian tertunduk mencoba berdamai dan menenangkan diri.

Meskipun lelaki itu tak pernah raib dari kepingan ingatan dan tetap bertahta di sudut hatinya namun kenangan tentangnya telah ia benamkan jauh jauh dari permukaan qalbu. Ia telah menguburnya dalam - dalam di Taman makam Pahlawan Perasaan antah berantah.

Dian percaya dan meyakini sepenuh keyakinan bahwa suatu saat nanti jodohnya akan datang bertamu dan mengetuk pintu hatinya sekaligus mengetuk pintu rumah orang tuanya.

Biarlah lelaki di bandara itu cukup menjadi lelaki kenangan saja. Lelaki yang sempat mampir dalam episode kehidupannya.

#30DWC9Day20

** Nurb@y@ Tanpa Siti

Post a Comment

0 Comments