Jember Menuju Kota Ramah Anak. Melaju Atau Meragu?

Oleh : Mahdiyah.

Kabupaten Jember resmi ditetapkan sebagai kabupaten menuju ramah anak oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Prof. Dr. Yohana Yembise dalam kunjungannya ke Kota Jember beberapa waktu lalu.

Kunjungan Menteri PPPA ke Kota Jember dalam rangka meluncurkan Kabupaten Jember menjadi kota ramah anak pada saat Festival Egrang VII dan Refleksi Pengasuhann Anak Berbasis Komunitas yang diselenggarakan Tanoker bersama warga di kecamatan Ledokombo, diawali dengan kunjungan bersama dengan Bupati Jember ke SMPN 3 Jember untuk menilai apakah di SMPN 3 Jember sudah layak dan ramah anak dengan melihat dan mendengarkan paparan pihak sekolah berkaitan dengan berbagai fasilitas dan kegiatan yang disediakan untuk para siswa.

Kunjungan tersebut menghasilkan ketetapan bahwa SMPN 3 Jember sebagai pilot project sekolah ramah anak dan akan didampingi oleh tim khusus untuk menjadi sekolah ramah anak.

Ketetapan ini tentu merupakan kabar gembira bagi pemerintah Kabupaten Jember dan masyarakat secara umum. Sebab hal ini selaras dengan point ke 22 Janji Kerja Nyata Bupati Jember periode 2016-2021 yaitu Menjadikan Jember sebagai Bumi Sholawat yang ramah lingkungan, ramah warga berkebutuhan khusus, ramah ibu dan anak serta ramah kelompok minoritas.

Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang indikator Kabupaten/Kota Layak Anak mengatur setidaknya ada 31 indikator sebuah kota dikatakan layak anak, salah satunya yaitu terdapat sekolah ramah anak. Sekolah ramah anak ini merupakan salah satu syarat untuk menuju kota ramah anak, karena banyak indikator yang perlu diperhatikan untuk sampai ke titik disebut sekolah layak anak. Beberapa indikator sekolah tersebut ramah anak adalah terdapat kantin sehat, bebas rokok, bebas miras, narkoba, LGBT dan kekerasan. Menteri PPPA dalam laman Gosulsel.com (14/04/2016)

Namun tampaknya menjadi Kota Ramah Anak masih membutuhkan proses panjang bagi Kabupaten Jember. Sebagaimana dilansir prosalina.com (22/9), bahwa menteri PPPA telah memastikan belum ada sekolah ramah terhadap anak di Kabupaten Jember. Selain belum terdapat sekolah ramah anak juga masih banyak pekerjaan rumah yang menggunung bagi pemerintah Kabupaten Jember untuk sampai pada level Kabupaten Ramah Anak.

Merujuk pada data yang dilansir oleh laman-laman berita daerah menunjukkan bahwa Angka kematian bayi di Jember masih tinggi; kasus gizi buruk & gizi kurang mencapai 8000 anak; angka kekerasan seksual pada anak juga meningkat setiap tahunnya; pekerja anak di area perkebunan juga belum tuntas terselesaikan. Berkaitan dengan kenakalan remaja Jember, pada tahun 2014 ada 10 pelajar yang telah terinveksi HIV/AIDS disebabkan sex bebas. Bahkan di akhir tahun 2015 Jember digemparkan oleh kasus 5 siswa SD meracik sendiri miras oplosan dan menegaknya hingga dirawat intensif di RSD. Sementara di awal tahun 2017 digegerkan tewasnya 3 remaja setelah menegak  miras oplosan. Selanjutnya bulan Mei 2017, 14  remaja tertangkap karena pesta miras pasca kelulusan.

Data diatas adalah data yang terexpose dimedia, dan dapat dipastikan bahwa realita ini semacam gunung es yang nampak kecil dipermukaan namun besar di bawah permukaan. Tentu kita semua berharap tidak akan ada kasus serupa dan masalah anak dapat diatasi dengan tuntas di Bumi Sholawat ini.

Menjadi Kota Ramah Anak menjadi mimpi setiap daerah sebagai wujud dari turut mensukseskan pembangunan nasional yang berkelanjutan. Sebab telah menjadi pemahaman awam bahwa anak dan generasi adalah penjamin keberlangsungan masa depan bangsa dan negara. Sehingga tidak mengherankan jika program Kota Malang Anak ini menjadi program nasional yang melibatkan seluruh komponen masyarakat.
Sehingga menjadi penting bagi kita warga Jember untuk mencari solusi fundamental dan bersama mewujudkannya.

Maraknya kasus kerusakan generasi di sebabakan oleh banyak hal, baik faktor internal maupun faktor eksternal.  Karenanya, menjadi kota dengan julukan ramah anak saja tidak cukup untuk mensolusi berbagai kerusakan generasi yang ada, terlebih sekolah yang ramah anak saja belum ada apalagi menjadi kota yang ramah anak?. Itu adalah proses  panjang yang harus didukung oleh berbagai pihak, mulai dari kesadaran individu, keluarga, masyarakat, pemerintah daerah dan negara.

Sinergitas semua pihak hanya akan terwujud jika kesemuanya memiliki kesamaan pandangan terhadap solusi masalah generasi. Bahwa generasi hidup dalam rangkaian sistem kehidupan yaitu keluarga, sekolah, masyarakat dan negara. Maka ke-4 unsur tersebut harus ramah anak dan generasi.

1. Keluarga ramah anak dan generasi: Menanamkan pondasi dasar berupa aqidah kepada Anak. Menjalankan peran dan fungsi keluarga secara optimal dengan tuntunan beragama.

2. Sekolah ramah anak dan generasi: Sistem sekolah yang menanamkan keimanan dan pengetahuan islam serta ahli dalam ilmu pengetahuan-teknologi dengan landasan ketaqwaan.

3. Masyarakat ramah anak dan generasi: Masyarakat yang memberikan kontrol sosial dengan standart nilai-nilai benar yang bersumber pada Dzat yang Maha Benar dan memberi suasana kondusif untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

4. Negera ramah anak dan generasi: Negara membuat regulasi yang memberi perlindungan kepada kepribadian anak dan generasi. Tayangan yang mendidik, menjaga pergaulan dengan menerapkan aturan pergaulan Islami, menerapkan kurikulum yang berorientasi kepada penanaman aqidah dan menerapkan sistem-sistem lain berkaitan dengan penjagaan generasi berdasarkan aturan yang lahir dari Allah pencipta manusia.

Ketika semua aturan-aturan yang diberlakukan oleh keluarga hingga Negara ditujukan untuk menjaga generasi disesuaikan dengan aturan Allah, maka Islam Rahmatan Lil Alamin di bumi sholawat yang kita cintai akan terwujud. Tidak hanya menjadi kota ramah anak, tetapi akan menjadi kota yang mendapat berkah dari langit dan bumi.

Dimuat di Radar Jember

Post a Comment

0 Comments