Islam Mengatur Semuanya

Oleh: Rijjal Ghazali

Bicara soal ‘apa itu Islam’ maka mau tidak mau, kita harus bicara pada ranah definisi. Definisi sering disebut dengan istilah batasan. Maksudnya adalah membatasi penjelasan, agar penjelasan tersebut mendeskripsikan atau menggambarkan apa yang dideskripsikan.Sehingga, apa-apa yang tidak tercakup dalam ‘sesuatu’ tersebut, maka tidak akan dimasukkan dalam ‘sesuatu’ yang dideskripsikan. Dengan kata lain, sebuah definisi adalah bicara soal ‘apa-apa yang nyata’ dari objek yang didefinisikan. Jika definisi kok tidak menggambarkan 'apa-apa yang nyata', berarti definisi tersebut memang tidak menggambarkan kenyataan, atau bisa jadi definisi tersebut sengaja menyembunyikan 'apa-apa yang nyata'.

Ketika kita mendefinisikan Islam, maka kita harus bisa mendeskripsikan realitas Islam itu seperti apa adanya. Realitas Islam bersifat tetap, tidak berubah walau waktu berubah. Artinya, realitas Islam saat ini sama dengan realitas Islam pada masa Rasulullah saw. Mengapa? Sebab, realitas Islam tercermin dari Al Quran dan As Sunah. Dan keduanya, juga tidak mengalami perubahan apa pun dari sejak dulu hingga sekarang. Sehingga deskripsi tentang Islam, harus mencerminkan tentang hal-hal atau aspek-aspek yang tercakup dalam Al Quran dan As Sunah.

Sebuah definisi, akan bisa menggambarkan secara apa adanya jika mencakup dua hal, yaitu aspek jami’ (menyeluruh) dan mani’ (melindungi). Maksud dari jami’ adalah mencakup keseluruhan atau semua hal yang yang berkaitan dengan hal-hal yang didefinisikan. Sebuah definisi, juga harus bersifat mani’ (melindungi) atau protektif. Artinya, melindungi sesuatu yang didefinisikan dari pemahaman-pemahaman atau hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang didefinisikan.

Kita sering mendengar orang mendefinisikan Islam dengan deskripsi-deskripsi yang kurang deskriptif dan mengundang banyak tafsir karena tidak bersifat mani’ (protektif, melindungi). Contoh, orang mengatakan: Islam adalah agama tauhid. Definisi ini kurang bersifat protektif (melindungi) sehingga mengundang banyak tafsiran atau memunculkan banyak pertanyaan yang memerlukan jawaban pasti. Misalnya, jika Islam adalah agama tauhid, apakah ini berarti agama nabi-nabi terdahulu, semisal Nabi Adam as., Nabi Nuh as., Nabi Musa as., Nabi Yusuf as., Nabi Sulaiman as., Nabi Isa as., dan Nabi Muhammad saw. juga merupakan agama Islam? Sebab, nabi-nabi terdahulu juga mengajarkan ketauhidan. Jika iya, apa buktinya? Jika iya, apakah syariat nabi-nabi terdahulu juga bisa kita pakai? Jika iya, kenapa yang dipakai umat Islam saat ini hanya syariatnya Nabi Muhammad saw. saja? Mengapa syariat Nabi Adam as, syariat Nabi Musa as, syariat Nabi Isa as, tidak dipakai? Jika iya, kenapa kitabnya cuma Al-Quran saja? Lagipula, ketika ditanyakan ‘Siapakah Nabi umat Islam?’ mengapa jawabannya adalah ‘Nabi Muhammad saw.’? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan muncul jika definisi di atas (Islam adalah agama tauhid) dipakai. Ini hanya sekedar contoh definisi yang sering dipahami oleh banyak orang saat ini. Masih ada begitu banyak ‘definisi’ yang ‘kurang jelas’ dan ‘kurang deskriptif’ atau kurang menggambarkan realitas yang sesungguhnya dari ajaran agama Islam.

Definisi Islam yang benar-benar bisa mendeskripsikan Islam secara keseluruhan tanpa menimbulkan banyak tafsir disampaikan oleh An-Nabhani dalam kitabnya Nizhamul Islam. Beliau menyatakan, Islam adalah agama yang diturunkan Allah swt., kepada Nabi Muhammad saw., untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan diri sendiri, dan hubungan manusia dengan sesamanya. Inilah definisi yang menurut penulis adalah definisi yang benar-benar komprehensif (jami’) dan protektif (mani’). Dikatakan komprehensif karena mampu menggambarkan Islam secara keseluruhan. Semua hal yang dibahas oleh Islam, masuk ke dalamnya. Sedangkan dikatakan protektif karena mampu mencegah makna-makna lain yang bisa menimbulkan multitafsir masuk ke dalam definisi tersebut.

Dalam definisi tersebut dikatakan “Islam adalah agama yang diturunkan Allah”. Ini menafikan bahwa semua agama yang tidak diturunkan Allah, bukanlah agama Islam. Semisal Hindu, Buddha, Konghucu, atau Shinto. Agama-agama tersebut bukanlah Islam, karena tidak diturunkan Allah.Sekalipun agama-agama tersebut memiliki kitab suci, tetap saja tidak bisa disebut agama Islam. Lantas, bagaimana dengan agama nabi-nabi terdahulu yang kitab sucinya juga diturunkan Allah, semisal Injil kepada Nabi Isa as., Taurat kepada Nabi Musa as., atau Zabur kepada Nabi Dawud as.? Apakah agama-agama tersebut juga merupakan agama Islam dan kitab suci mereka juga merupakan kitab suci umat Islam? Untuk menjawabnya, maka harus melihat kalimat lain dalam definisi tersebut. Dalam definisi disebutkan kalimat “kepada Nabi Muhammad saw.” Ini artinya, Islam adalah agama yang hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Sementara agama yang diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw., tidak bisa disebut sebagai agama Islam, melainkan disebut agama tauhid, yang mengajarkan ketauhidan, yang mengajak manusia untuk menyembah Allah, meng-esa-kan Allah, mentauhidkan Allah, tidak menyekutukan Allah, dan tidak menyamakan Allah dengan makhluk. Karena itu, Allah swt. menegaskan dalam Al Quran,

“…Hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Aku cukupkan untuk kamu nikmat-Ku, serta Aku ridhai Islam sebagai agama kamu….” (QS. Al Maidah: 3)

Ayat di atas menjelaskan bahwa agama nabi-nabi terdahulu tidak diakui lagi setelah Allah menurunkan agama Islam, sekalipun prinsip-prinsip ketauhidan merupakan pokok ajaran dari agama nabi-nabi terdahulu.

Seandainya agama nabi-nabi terdahulu juga merupakan agama Islam, tentulah kita diwajibkan mengikuti atau menjalankan syariat nabi-nabi terdahulu. Mengapa? Sebab, menjalankan ajaran agama nabi-nabi terdahulu juga merupakan menjalankan ajaran agama Islam. Padahal, Allah telah menetapkan syariat untuk masing-masing agama. Allah swt. berfirman,

“Untuk masing-masing (umat) di antara kamu, Kami telah tetapkan aturan dan syariatnya sendiri-sendiri.” (QS. Al Maidah: 48)

Maka, ketika umat Islam menjalankan sebuah syariat, maka syariat itu adalah syariat Islam yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Ibadah haji yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim as., telah diadopsi oleh Nabi Muhammad saw. sebagai syariatnya. Karena itu, ketika bulan Dzulhijah tiba, umat Islam sedang mengerjakan salah satu syariat Nabi Muhammad saw., bukan sedang menjalankan syariat Nabi Ibrahim as.

Sementara kalimat “mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan diri sendiri, dan hubungan manusia dengan sesamanya” dalam definisi di atas mengandung pengertian bahwa Islam mencakup semua aspek kehidupan manusia yang terwakili dengan interaksi-interaksinya. Interaksi-interaksi manusia hanya pada tiga aspek, yaitu hubungan manusia dengan Allah yang tercakup dalam akidah (keyakinan) dan ibadah; hubungan manusia dengan dirinya sendiri yang tercakup dalam makanan-minuman, pakaian, dan akhlak; serta hubungan manusia dengan sesamanya yang tercakup dalam muamalat (sosial, pergaulan, politik, ekonomi, pendidikan, dan sebagainya) dan uqubat (sanksi). Sehingga, semua aspek kehidupan manusia, mulai dari persoalan paling pribadi hingga persoalan yang berhubungan dengan orang banyak, semua ada dalam Islam. Inilah kekomprehensifan Islam.

Dari definisi di atas, kita bisa memahami bahwa agama Islam tidak hanya mengatur hubungan yang bersifat spiritual (ruhiyah) semisal hubungan manusia dengan Allah; tetapi juga menunjukkan sifat politis (siyasiyah) yaitu pada aspek yang pengaturan hubungan manusia dengan sesama manusia. Aspek spiritual (ruhiyah) meliputi hal-hal yang berkaitan dengan keakhiratan seperti surga, neraka, pahala, siksa dan dosa, termasuk masalah ibadah, seperti shalat, zakat, haji, puasa dan jihad. Sedangkan aspek politis (siyasiyah) meliputi hal-hal yang berkaitan dengan keduniaan seperti politik, ekonomi, sosial, pemerintahan, pendidikan, sanksi atau hukum, dan sebagainya. Inilah ruang lingkup ajaran agama Islam, yaitu meliputi aspek spiritual dan politik.

Ini berbeda dengan agama selain Islam, yang mereka hanya mengatur pada aspek individual semata, yaitu pada aspek spiritual dan moral (akhlak). Sedangkan pada aspek politik (tentang bagaimana mengatur sebuah tatanan masyarakat), agama lain tidak mengenal konsep seperti ini. Sehingga dalam hal pengaturan hubungan antarsesama manusia, umat selain Islam cenderung menyandarkan pada akal manusia. Tidak mengherankan jika mereka mengambil konsep Kapitalisme dan Komunisme sebagai pandangan hidup untuk mengatur kehidupan manusia.

Jadi, definisi yang tepat tentang Islam haruslah definisi yang mampu menggambarkan Islam secara menyeluruh, namun mencegah makna-makna lain untuk bisa masuk ke dalam definisi tersebut. Dan definisi yang mencakup semua itu adalah definisi yang menyatakan bahwa Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt. kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan sesama manusia.

Berdasarkan hal tersebut, maka jelas bahwa kekuasaan atau politik, atau aturan (tata cara) bernegara, sebenarnya merupakan bagian dari ajaran Islam. Kekuasaan tersebut merupakan bagian dari sistem muamalah atau sistem yang mengatur interaksi manusia dengan sesama manusia. Namun, apa hubungan kekuasaan dengan akad? Dan apa bentuk akad yang tercipta dalam sistem politik?

Bentuk akad dalam sistem politik (kekuasaan) adalah akad baiat atau janji setia. Baiat ini dikenal dalam Islam, sebab memang sudah dicontohkan sendiri oleh Rasulullah saw. Baiat adalah janji setia kaum muslim kepada calon pemimpin politik (khalifah), untuk senantiasa mentaati pemimpin politik tersebut, baik suka atau tidak suka, baik pada saat lapang ataupun sempit, baik kebijakan pemimpin tersebut sesuai dengan pandangannya atau berbeda; selama kebijakan pemimpin tersebut tidak menyimpang dari syariat Allah (syariat Islam). Jadi, akad yang diikatkan di sini adalah akad untuk menerapkan hukum Allah swt. Sebab, hukum asal dari penerapan hukum Allah adalah wajib bagi kaum muslim. Karena itu, kaum muslim harus menerapkan hukum Allah tersebut. Lantas, bagaimana hukum Allah itu bisa diterapkan? Apakah setiap orang harus menerapkan hukum Allah? Jawabannya, tentu tidak. Maka untuk memimpin penerapan hukum Allah tersebut, kaum muslim harus mengangkat seorang pemimpin, dan kaum muslim harus berjanji setia (berbaiat) kepada pemimpin tersebut untuk senantiasa mentaatinya, baik dalam suka atau tidak suka, selama pemimpin tersebut tidak menyimpang dari hukum Allah. Jadi, pernyataan bahwa Islam tidak mengenal politik atau Islam harus dipisahkan dari politik, sejatinya merupakan pernyataan yang mengkerdilkan Islam.[]

Post a Comment

0 Comments