Islam Memudahkan Pernikahan

Oleh : Nur Yuliyantini

Pernikahan adalah akad menghalalkan hubungan laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan kebahagiaan hidup berkeluarga yang diridhai Allah subhaanahu wa ta'ala.

Menikah adalah salah satu asas pokok yang paling utama dalam mengatur pergaulan mewujudkan masyarakat yang mulia.

Pernikahan bukan saja merupakan jalan yang amat mulia untuk mengatur kehidupan berumah tangga, tetapi juga dipandang sebagai jalan menuju pintu perkenalan antara suatu kaum dengan kaum lain, dan perkenalan akan menjadi jalan menyampaikan pertolongan yang satu dengan lainnya.

Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan ini adalah dengan akad nikah, bukan dengan cara yang kotor dan menjijikan, seperti yang nampak dalam kehidupan kapitalisme liberalisme; pacaran, kumpul kebo, melacur, berzina, lesbi, homo, dan lain sebagainya yang menyimpang dan diharamkan Islam.

Islam memerintah menikah serta melarang zina, sodomi dan homoseksual. Allah SWT berfirman:

“Karena itu nikahilah wanita-wanita yang menyenangkan hati kalian”  (QS. Ali Imran: 14)

Pada saat yang sama, Allah SWT juga mengharamkan zina:

"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (QS. al-Isra : 32)

Ayat ini memberikan pengertian melalui dalalah iltizam bahwa negara harus menutup semua jalan yang bisa mendekatkan ke arah perzinahan.

Karena itu negara harus melarang beredarnya pornografi dan pornoaksi di tengah masyarakat, menghalangi campur baur antara laki-laki dan perempuan di masyarakat.

Negara juga harus mengawal terwujudnya pelaksanaan hukum syara' pada warganya, seperti memberi sanksi pada wanita yang tidak menutup aurat, melarang wanita mengumbar kecantikannya di depan publik.

Negara juga harus menjamin pemenuhan nafkah warganya yang akan menutup alasan ekonomi bagi seseorang untuk melacur.

Pernikahan dapat menjaga kehormatan diri dan pasangan agar tidak terjerumus kedalam hal-hal yang diharamkan. Juga berfungsi untuk menjaga komunitas dari kepunahan, dengan terus melahirkan dan mempunyai keturunan.

Sasaran utama disyariatkannya pernikahan dalam Islam diantaranya adalah membentengi manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang dapat merendahkan dan merusak martabatnya.

Islam memandang pembentukan keluarga merupakan sarana efektif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.” (Muttafaq Alaihi)

Ketika Rasul memerintahkan untuk menikah, maka Rasul juga menyerukan mempermudahnya

“Perempuan yang paling besar mendatangkan berkah Allah untuk suaminya adalah perempuan yang paling ringan maharnya” (HR, Ahmad, Hakim, Baihaqi)

Dari hadits di atas, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyerukan kepada calon pengantin, orang tua dan calon mertua, untuk memudahkan mahar dan sederhana. Maka seyogyanya pernikahan dilaksanakan sewajarnya sesuai keadaan.

Hanya saja, pengaruh buruk kehidupan kapitalisme telah banyak menimpa orang tua. Tidak sedikit orang tua sekarang menitikberatkan pada banyaknya harta, keseimbangan kedudukan, status sosial dan keturunan sebagai kriteria dalam memilih calon jodoh putra-putrinya.

Masalah kufu’ (sederajat, sepadan) hanya diukur berdasarkan materi dan harta saja. Sementara pertimbangan agama tidak mendapat perhatian serius.

Sedangkan Islam sangat memperhatikan kafa-ah atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat berdasarkan kualitas iman dan takwa serta akhlak seseorang, bukan diukur dengan status sosial, keturunan dan lain-lainnya.

Dengan adanya kesamaan antara kedua suami isteri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami -insya Allah- akan terwujud.

Allah ‘Azza wa Jalla memandang derajat seseorang sama, baik itu orang Arab maupun non-Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan derajat dari keduanya melainkan derajat takwa.

Karenanya, negara berperan sangat besar menjaga kehormatan harkat dan martabat rakyatnya laki-laki maupun perempuan, dan memberikan pengurusan langsung persoalan masyarakat kepada penguasa atau pemerintah.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

”Imam (pemimpin) itu adalah (bagaikan) seorang pengembala. Dia bertanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya” (HR. Bukhori, Muslim, Ahmad, Abu Daud, dan At Turmudzi).

Ketika negara menerapkan syariat Islam, maka keturunan manusia akan terjaga. Eksistensi umat manusia dengan segenap martabat kemanusiaannya juga terjaga. Masyarakat pun terbebas dari perilaku menyimpang yang sangat membahayakan kehidupan manusia.

Maka peran negara untuk mempermudah pernikahan bagi masyarakatnya sangat dibutuhkan. Tanpa adanya peraturan, akan mempersulit kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah subhaanahu wa ta'ala.

Wallahu a'lam.

Post a Comment

0 Comments