Intelektual (yang) Berdusta, (Jelas) Bukan Intelektual !! (Tanggapan terhadap Kasus Kebohongan Prestasi Mahasiswa Doktoral Asal Indonesia)

Oleh: Dian S Kusumawardani, M.T (Alumnus S2 ITB, Ketua Bidang Kajian Strategis dan Publik FIMB)

ADALAH Dwi Hartanto, seorang mahasiswa doktoral di Technisse Universiteit Delft, Belanda yang mengakui bahwa selama ini ia telah berbohong terkait dengan sederet klaim prestasi menterengnya di bidang kedirgantaraan. Sebagaimana dimuat di berita beberapa media Indonesia baru-baru ini. Miris bukan?? Meskipun Hartanto akhirnya melakukan klarifikasi dan sudah menyampaikan permohonan maafnya secara terbuka, namun tentu saja hal ini menyisakan tanda tanya besar sekaligus keprihatinan atas tindakan seorang yang telah tersematkan identitas intelektual  pada dirinya. 

Kasus kebohongan Dwi Hartanto bukanlah satu-satunya dan bukan yang pertama kali mencoreng integritas kalangan intelektual. Banyak kasus yang telah terjadi sebelumnya, mulai dari intelektual yang menjadi pejabat politik kemudian terseret kasus korupsi, oknum intelektual yang mengkonsumsi narkoba dengan alasan penelitian, kasus dugaan plagiarisme yang terjadi di sebuah kampus ternama di Jakarta, atau yang terakhir tentang manipulasi pretasi yang dilakukan oleh Dwi Hartanto.

Padahal sejatinya intelektual adalah seseorang yang memiliki pengetahuan mendalam tentang benar dan salah. Pengetahuannya tersebut membuatnya mampu membedakan mana yang benar dan salah,  serta berkomitmen untuk senantiasa berpihak dan mendedikasikan seluruh potensi yang dimilikinya di jalan kebenaran. Itulah jati diri intelektual sejati, sang pencari dan pejuang kebenaran, bukan sebaliknya.

Namun, realitanya seringkali bertolak belakang. Intelektual di tengah tatanan kehidupan sekuler-kapitalis-materialis tak jarang terbawa arus untuk mengkhianati nurani dan ilmu yang dikuasainya. Kebenaran dilabrak, kesalahan pun dilakoni! Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, terkadang dengan argumentasi (dalih) ilmiah, hal yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar! Inilah potret kehidupan yang menafikan kesadaran akan kehadiran Sang Pencipta yang Maha Mengawasi, kehidupan yang membuat halal dan haram menjadi kabur. Kehidupan yang menempatkan pencapaian materi dan popularitas di atas segala-galanya, sehingga nurani dan kecerdasan intelektual pun dibutakan karenanya.

Kondisi yang jauh berbeda akan kita dapati jika kita melihat bagaimana Islam memposisikan seorang intelektual dengan kapasitas intelektualitas yang dimilikinya. Dalam Islam, seorang mukmin yang berilmu, semakin tinggi ilmunya maka akan semakin kuat ketaqwaannya, semakin takut pula untuk bermaksiat dan melakukan kesalahan/pelanggaran. Menarik untuk menyimak kutipan pernyataan dari buku “Jalan Baru Intelektual”  berikut ini:

“Di Oxbridge (Oxford dan Cambridge) seorang profesor bisa sangat pakar dalam ilmu fisika atau filsafat etika, pada saat yang sama dia bisa saja seorang homoseks, alkoholik dan meremehkan gereja. Dia akan tetap dihormati karena penguasaan pengetahuannya. Di Madinah, jika seorang ilmuwan memisahkan aqidah (keimanan), akhlaq dengan ilmu yang dikuasainya maka kealimannya batal. Seorang yang menjadi salah satu simpul sanad bagi sebuah hadits, jika dia ketahuan berdusta sekali saja, namanya akan tercatat sampai akhir zaman di kitab musthalah al-hadits sebagai kadzab (pendusta) yang riwayatnya tidak valid. Apalagi kalau sampai dia meninggalkan shalat dan bermaksiat.” (2013: 239)

Bertolak belakang bukan? Mana pilihan Anda? Apakah sosok intelektual ahli maksiat hasil cetakan peradaban sekuler ala Barat, atau intelektual mulia dalam peradaban Islam yang tunduk dan taat karena keimanannya? Tentu saja intelektual lulusan Madinah yang menerapkan sistem pendidikan Islam dalam bingkai institusi politik Islam, yakni Khilafah.  Sebab, sistem pendidikan Islam dan penerapan Islam kaffah (menyeluruh) inilah yang telah melahirkan intelektual ulul albab. Intelektual yang perkataannya adalah petunjuk cahaya, serta tindakannya adalah pembelaan dan perjuangan di jalan kebenaran bagi kemaslahatan umat.

#intelektualmuslimintelektualjujur
#ilmuwanmuliadalamnaunganislam
#forumintelektualmuslimahbandung


Post a Comment

0 Comments