Inilah Makna Syahadat Sesungguhnya

RemajaIslamHebat.Com - Laa ilaaha illallah... Kalimat yang sangat ringan diucapkan dengan lisan, namun memiliki bobot yang agung. Karena pada hakikatnya ia merupakan intisari ajaran Islam. Akan tetapi tentu saja kalimat ini bukan sekedar ucapan tanpa makna dan tanpa konsekuensi yang harus dijalankan.

Sahabat muslimah, mungkin seringkali kita mengucapkan kalimat tersebut tapi jarang sekali kita mendalami maknanya..

Allah telah memberikan fitrah kepada setiap manusia, sehingga manusia itu memiliki kecenderungan untuk mensucikan, mensakralkan atau menyembah sesuatu. Itulah salah satu fitrah yang Allah karuniakan kepada manusia yang disebut “harizah at tadayyun”. Begitu pula keberadaan Allah sebagai Pencipta (Al Khaliq) itu wajibul wujud (keberadaannya mutlak), bersifat azali (tidak berawal dan berakhir) dan akal kita bisa membuktikannya dengan melihat dan mengamati seluruh ciptaan-ciptaanNya.
Jadi, fitrah dan akal manusia mengharuskan ibadah hanya kepada sang Pencipta (Al Khaliq) semata. Allah SWT berfirman:

Katakanlah, “Siapakah Tuhan Pencipta lagit langit yang tujuh dan Pemilik ‘Arsy yang agung?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah.” Katakanlah, “Lalu apakah kalian tidak bertakwa?” Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedangkan Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya jika kalian tahu?” Mereka akan menjawab, “Kepunyaan Allah.” Katakanlah, “(Kalau demikian), lalu dari jalan manakah kalian ditipu?” Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka dan sungguh mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (TQS al-Mu’minun [23]: 86-90).

Dalam banyak ayat al-Quran Allah SWT telah menegaskan bahwa Dialah satu-satunya Zat Yang layak disembah. Allah SWT, misalnya, berfirman:ُ

Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (TQS al-Baqarah [2]: 163).
ُ

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Maha hidup dan terus-menerus mengurus makhluk-Nya (TQS Ali Imran [3]: 2).

Kata ilâh baik secara bahasa maupun secara syar’i hanya memiliki satu makna, yaitu al-ma’bûd (zat yang disembah). Jadi, makna lâ ilâha tidak lain adalah lâ ma’bûda (tidak ada zat yang berhak disembah/diibadahi). Karena itu makna syahadat Lâ ilâha illâlLâh bukan hanya kesaksian atas keesaan Al-Khâliq saja, tetapi sekaligus kesaksian bahwa tidak ada yang berhak untuk disembah dan diibadahi kecuali Allah SWT Yang wâjib al-wujûd. Hal ini berkonsekuensi pada upaya mengesakan Allah SWT semata dalam wujud ibadah kepada Allah SWT dalam segala bentuknya sekaligus menolak segala bentuk ibadah kepada selain Diri-Nya. Ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT mencakup segala jenis ibadah dan pengabdian. Karena itu syahadat Lâ ilâha illâlLâh mencakup ibadah mahdhah (ritual) sesuai dengan apa yang telah Allah SWT syariatkan dan tidak menyekutukan Dia dengan apapun dalam ibadah mahdhah itu. Syahadat Lâ ilâha illâlLâh mencakup penisbatan segala sifat kesempurnaan secara mutlak dan nama-nama agung kepada Allah SWT.

Syahadat Lâ ilâha illâlLâh mencakup pengesaan dalam hal permohonan dan doa hanya kepada Allah SWT saja. Syahadat Lâ ilâha illâlLâh juga mencakup ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT dengan selalu terikat hanya pada syariah-Nya. Tidak boleh seorang Muslim terikat dengan aturan apapun yang bertentangan dengan syariah-Nya. Syariah Allah SWT sendiri mengatur segala aspek kehidupan manusia baik dalam konteks individu, masyarakat maupun negara.Allah SWT telah melarang ibadah dan pengabdian kepada selain Diri-Nya.

Dengan kata lain Allah SWT melarang tunduk dan patuh pada aturan atau hukum yang bertentangan dengan syariah-Nya. Ketundukan dan kepatuhan pada selain syariah-Nya dipandang sebagai bentuk ibadah dan pengabdian kepada selain Diri-Nya. Allah SWT berfirman:

Mereka (kaum Yahudi dan Nasrani) telah menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah (TQS. at-Taubah [9]: 31).

Saat mendengar ayat di atas, Adi bin Hatim berkata, “Wahai Rasulullah, mereka tidaklah menyembah para pendeta dan rahib mereka.” Namun, beliau menyanggah pernyataan itu:

Benar (mereka menyembah para pendeta dan para rahib mereka). Sungguh para pendeta dan para rahib itu telah mengharamkan yang halal atas mereka dan menghalalkan yang haram untuk mereka. Lalu mereka mengikuti para pendeta dan para rahib mereka itu. Itulah ibadah (pengabdian) mereka kepada para pendeta dan para rahib mereka.
(HR Ahmad dan Tirmidzi).

Maka dari itu, syahadat Lâ ilaha illâlLâh mencakup pengesaan Allah SWT dalam wujud ibadah dan pengabdian dengan segala bentuknya. Makna syahadat itulah yang mesti diwujudkan oleh setiap Muslim dalam semua  aspek kehidupan mereka. Mewujudkan makna syahadat Lâ ilaha illâlLâh sebagaimana diamalkan oleh Rasul saw., para sahabat dan generasi kaum Muslim terdahulu itu menjadi tugas dan tanggung jawab kita.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb.[Info Muslimah Jember]

Post a Comment

0 Comments