Indonesia Darurat LGBT

Oleh Shafiya

Kembali, Indonesia dihebohkan dengan ditangkapnya 51 pemuda yang tengah berpesta seks di salah satu tempat Spa di daerah Jakarta Pusat.

Penggerebekan itu terjadi pada Jumat (6/10) pukul 22,00. Para gay pelaku seks bebas itupun ditahan sementara di Polres Jakarta Pusat demi dimintai keterangan.

Praktek Prostitusi, LGBT, dan bentuk pergaulan rusak lainnya di masyarakat, memang bukan kali ini saja terjadi.

Kerusakan moral generasi akibat jauhnya nilai- nilai akhlak dan agama, sudah menjadi persoalan akut dan mengancam generasi.

Hal ini terjadi akibat tidak adanya ketegasan pemerintah dalam mengatur kebijakan. Bukannya membasmi secara tuntas, malah terkesan memfasilitasi budaya liberalisasi dan hedonisme Barat tumbuh subur di dalam negeri.

Sehingga para penganut paham LGBT ini bisa sedemikian bebasnya berperilaku, atas nama HAM dan kebebasan berekpresi.

Mereka telah menciptakan dekadensi moral ditengah- tengah umat, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi budaya, akhlak dan agama, prilaku menyimpang kaum Nabi Luth ini telah mencoreng wajah bangsa Indonesia.

Inilah yang terjadi jika kita membiarkan ide rusak pemisahan agama dalam kehidupan (sekularisme), terus bercokol dalam kehidupan.

Paham rusak ini telah menjadikan hawa nafsu dan kesenangan dunia sebagai kendali bagi manusia.

Di dalam Islam, perilaku menyimpang seperti LGBT dianggap hina lagi menjijikan.

Allah berfirman:

Dan (Kami juga telah mengutus Nabi) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat hina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?” (Al-A’raaf: 80).

Islam tidak membiarkan sama sekali pelaku penyimpangan seperti LGBT bebas. Apalagi sampai membiarkan mereka tumbuh subur di tengah umat, mereka akan ditindak dengan tegas.

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Nabi Luth, maka bunuhlah pelaku dan pasangannya.” (HR Tirmidzi dan yang lainnya, dishahihkan Syaikh Al-Albani).

Oleh karena itu, tidak ada kemaslahatan apapun yang akan kita peroleh jika terus membiarkan paham rusak sekularisme sebagai landasan dalam kehidupan.

Sekularisme hanya akan menjadikan LGBT dan paham-paham rusak lainnya terus bercokol dan merusak tatanan kehidupan.

Sudah saatnya kita mencampakkan ide rusak yang tidak mengindahkan peran Allah sebagai pengatur dalam kehidupan.

Menggantinya dengan penerapan syariah Allah yang syamil serta kamil. Karena hanya dengan syariatnya saja kita bisa bebas dari penyakit LGBT dan "penyakit" lainnya, hidup mulia dan sejahtera.

Di bawah Institusi Islam, Daulah khilafah Islam, yang menerapkan syariat Allah secara keseluruhan.

Wallahualam bi Ashawab. []

Post a Comment

0 Comments