Hukum KB Steril

Tanya:
Assalamualaikum wr.wb.
Ustadzah, saat ini marak para ibu atau bapak yang melakukan steril atau vasektomi dan tubektomi. Apalagi ada program gratis oleh pemerintah. Itu bagaimana hukumnya dalam Islam?
(B. Sholihah-Tegal gede)

Jawab:

Ibu Sholihah yang dirahmati Allah, ada banyak alasan mengapa para perempuan menggunakan alat kontrasepsi. Baik Spiral/IUD, kondom, pil, dsb.

Sebagian beralasan pemakaian KB untuk mengatur jumlah anak, mengatur jarak kelahiran, memudahkan perawatan tumbuh kembang anak, atau untuk para suami menghendaki istri yang tetap cantik bentuk tubuhnya dg melahirkan jumlah anak tertentu dan jarak yang tertentu.

Dalam Islam, pemakaian KB untuk semua alasan di atas adalah mubah atau dibolehkan.

"Pengaturan kelahiran, yang dijalankan oleh individu (bukan dijalankan karena program negara) untuk mencegah kelahiran (man’u al-hamli) dengan berbagai cara dan sarana, hukumnya mubah, bagaimana pun juga motifnya (Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima’i fi Al-Islam)."

Allah Ta'ala Dzat yang menciptakan manusia, sangat paham seluk beluk manusia dengan segala persoalannya. Maka, diberilah syari'at Azl atau senggama terputus(Coitus Interupptus) sebagai solusi pengaturan kelahiran oleh suami, sebagaimana yang biasa dilakukan sahabat di masa rasulullah SAW dahulu.

Coitus interuptus atau senggama terputus adalah metode pengendalian kelahiran di mana penis dikeluarkan dari vagina sebelum ejakulasi. Penis dikeluarkan sebelum ejakulasi sehingga sperma tidak masuk ke dalam vagina, maka tidak ada pertemuan antara sperma dan ovum, sehingga kehamilan dapat dicegah.

Dan hampir semua kontrasepsi  mengambil asas azl ini yaitu mencegah bertemunya sperma dan ovum.

Sebàgaimana penjelasan Syekh Taqiyuddin An-Nabhani, An-Nizham al-Ijtima’i fi Al-Islam, halaman-148 bahwa dalil kebolehannya antara lain hadits dari sahabat Jabir RA yang berkata,”Dahulu kami melakukan azl [senggama terputus] pada masa Rasulullah SAW sedangkan al-Qur`an masih turun.” (HR Bukhari).

Namun kebolehannya disyaratkan pada kontrasepsi tersebut tidak adanya bahaya (dharar). Kaidah fiqih menyebutkan: Adh-dhararu yuzaal (Segala bentuk bahaya haruslah dihilangkan) (Imam Suyuthi, Al-Asybah wa An-Nazha`ir fi Al-Furu`, [Semarang : Maktabah Usaha Keluarga], hal. 59).

Kebolehan pengaturan kelahiran terbatas pada pencegahan kehamilan yang temporal (sementara), seperti dengan pil KB , IUD, kondom.

Adapun pencegahan kehamilan yang permanen (sterilisasi), seperti vasektomi atau tubektomi, hukumnya haram.

Sebab Nabi SAW telah melarang pengebirian (al-ikhtisha`), sebagai teknik mencegah kehamilan secara permanen yang ada saat itu. Dari Ibnu Mas’ud RA, dia berkata;

Dahulu kami pernah berperang bersama Nabi SAW sedang kami tidak bersama isteri-isteri. Lalu kami berkata (kepada Nabi SAW),’Bolehkah kami melakukan pengebirian?’ Maka Nabi SAW melarang yang demikian itu.” (HR Bukhari no 4615; Muslim no 1404; Ahmad no 3650; Ibnu Hibban no 4141). (Taqiyuddin An Nabhani, An NizhamAl Ijtima’i fi Al Islam, hlm. 164; Al Mausu'ah Fiqqhiyyah 19/199).

Kesimpulannya sterilisasi baik itu vasektomi ataupun tubektomi dilarang dalam syari'at.
Wallahu'alam bish showab.
(Usth. Lailin Nadzifah)

Post a Comment

0 Comments