Hidup Bukan untuk Mencari Pujian tetapi untuk Kita Rasakan

RemajaIslamHebat.Com - Saat memutuskan BERCERAI dengan sang mantan. Adalah sebuah rasa yang luar biasa. Hidup penuh kecamuk, hanya dipenuhi apa kata atau pendapat orang lain saja..

Tidak ada orang tua, terlebih secara pribadi yang menjalani, menginginkan rumah tangga-nya kandas di tengah jalan. Selalu berfikir panjang untuk mempertahankan, apapun yang terjadi..

Masih ingat betul, apa kata orang tua saya, dengan segala nasihat yang bertahun-tahun saya dengarkan. "Opo kowe ora isin, yen pisah karo bojomu ?"
"Opo kowe ora isin, dadi ustadzah, panutane wong akeh, kok malah pegatan, mengko dadi omongan wong akeh, opo ora isin tah ?"

Selalu kata kata itu, yang di ucapkan orang tua agar saya bisa bertahan. Sementara, hati ini selalu gelisah bertahun-tahun tiada ketenangan.

Seringkali kita melakukan segala kebaikan, seolah-olah kita sudah melakukannya karena ibadah. Padahal hati kita dongkol, sakit hati, perih, pedih, kecewa. Padahal IKHLASH itu kunci diterimanya sebuah ibadah, mukhlishina lahuddin..

Orang yang ikhlash itu penuh dengan senyuman, tiada kepura-pura-an, tiada sandiwara. Apa yang dia katakan, adalah tulus dari hati. Sama dengan apa yang dia fikirkan. Bukan berkata A, hati berkata B, fikiran berkata C. Laiknya pakar politik yang menuruti nafsu dunia dan kepentingan pribadi atau golongannya semata..

Petunjuk Allah sudah jelas tidak baik, mengapa harus tetap dipertahankan, agar terkesan baik, hanya ingin mendapatkan PUJIAN dari orang lain..??

Setelah saya timbang-timbang, saya fikirkan,  istikharah, hingga rasakan di hati. Saya menemukan sebuah JAWABAN besar..

Diam-diam bergumam dalam hati..
"Saya ini seorang muslim, yang bersyahadat, yang merdeka atas nama Allah, mengapa saya menjadi bodoh dan terjajah. Hanya karena ingin mendapat pujian dari orang lain, sebagai pasangan yang rukun baik-baik saja. Padahal kenyataannya tidak begitu..
Kok jadi niatnya salah, ingin di lihat orang lain, ingin di pandang orang lain. Bukan karena Allah lagi yaa... astaghfirullohal adhiim.."

Jawaban besar ini, akhirnya saya sampaikan kepada orang tua..
"Bapak.. ibu.. masa' kita ini seorang muslim, katanya bersyahadat, kok memutuskan sebuah persoalan karena ingin di puji orang lain. Kalau kita lapar, kita juga cari mkan sendiri, tidak minta mereka. Kalau kita bahagia, yang mersakan juga kita. Kalau kita sedih, orang lain juga tidak ikut merasakan kesedihan kita. Bismillah.. aku akan menyelesaikan persoalan ini karena Allah.. "

Alhamdulillah.. orang tua saya menjadi faham. Ikhlash atas keputusan kami bercerai. Dan alhamdulillah semuanya di mudahkan oleh Allah. Dan subhaanallah, step by step saya merasakan banyak kebaikan dan keberkahan atas perceraian itu..

Semenjak memilikki kemampuan memutuskan persoalan berat itu. Mentalitas saya semakin tertempa. Bahwa setiap sikap yang kita lakukan harus benar-benar karena Allah. Bukan karena ukuran kaca mata pandang manusia yang sempit.

Lagi-lagi..
Orang-orang di sekitar, masyarakat kami, teman-teman pada terheran-heran.
Ada yang berkata seperti ini..
"Kok aneh ya, mbak Etty bercerai, kok wajahnya malah berseri-seri sumringah. Kok tidak ada kesedihan sama sekali ?"
"Yaa Allah, apa nggak eman bercerai sama mas X lho orangnya gagah, ganteng.. ?"
"Lhoo.. tidak ada suaminya, mbak Etty kok malah tambah adèm ayèm tentrem kelihatannya yaa..."

Itulah pandangan manusia..

Sekali lagi saya katakan, hidup itu bukan untuk mencari pujian manusia. Tetapi untuk apa yang kita rasakan.

Semenjak itu pula, hati saya semakin kuat dan tangguh untuk memutuskan segala persoalan. Seolah hati ini menjadi sangat kuat. Sudah tidak pernah perduli apa kata orang lain, asal apa yang kita lakukan sudah benar di Jalan Allah..

Nah.. mengapa saya mengambil contoh kisah hidup saya ini ??

Karena persoalannya, banyak di sekitar kita seringkali melakukan hal-hal di kehidupan yang jauh ingin di lihat orang lain. Bukan karena ingin di lihat Allah Azza wa Jalla. Padahal secara internal keropos dan rapuh..

Ingin di lihat sebagai orang kaya, padahal sudah jatuh berkeping-keping..

Ingin di lihat sebagai orang terpandang, padahal banyak hutang dimana-mana..

Ingin di hormati banyak orang, padahal sudah tidak punya kehormatan apa-apa..

Ingin di anggap sebagai pasangan bahagia, padahal hatinya merana tak terkira..

Ingin di anggap sebagai pemimpin yang hebat, padahal dibalik itu anak buahnya mencibir, menghibah, meremehkan, dan menelikung..

Ingin di anggap sebagai orang tua yang sukses, padahal anak-anaknya liar, nakal, banyak melakukan kemaksiyatan dimana-mana..

Ingin di puji sebagai wanita yang cantik, dengan memakai make up berlebihan..

Ingin di anggap sebagai wanita terhormat, dengan memakai pakaian, tas, sepatu yang mahal dan bermerk..

Ingin di puji sebagai orang yang sholih sholihah, melakukan amal yang bisa dilihat banyak orang lain..

Begitu seterusnya.. dan seterusnya...

Perasaan menjadi terbebani, perasaan menjadi tercemari ketulusan, perasaan menjadi sakit..

Andaikan kita bisa menurunkan gengsi, dan mau berkata jujur, berhati jujur apa adanya..

Insya'Allah kita tidak ada beban apa-apa..
Itulah makna ber Islam, berserah diri pada Allah atas segala persoalan. Bukan karena ingin di lihat orang lain. Tetapi karena apa yang kita rasakan..

Kalau kita sedih, ya akan nampak sedih..
Kalau kita bahagia, ya akan nampak bahagia..
Kalau kita kecewa, ya akan nampak kecewa..

Jangan di depan orang lain, nampak bahagia. Setelah tidak di depan orang lain menjadi terpuruk sendirian..

Menjadi apa adanya, menjadi diri sendiri. Tanpa ada drama/sandiwara. Tulus tiada beban, itulah merdeka.. itulah bahagia sebenarnya..[Etty Sunanti Power]

Post a Comment

0 Comments