Genting, Intelektualitas Miskin Moralitas!

Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd.
(Haluan Riau, edisi 11/10/17)

”Ketika pendidikan Negeri ini gagal mendidik anak didikannya. Lihatlah, begitu anarkisnya. Mereka tak berfikir panjang,  bahwa tak semua pengusaha sanggar bunga itu kaya. Kami merangkak, merangsek, untuk dapat modal usaha tanpa riba. Habis dan hangus papan bunga kami dibakar oleh anak-anak (mahasiswa) yang telah gagal mereka didik.”

Jujur, air mata ini menitik ketika membaca pesan tersebut di group WhatsApp pengusaha tanpa riba yang saya ikuti. Sebuah ungkapan kepedihan dari seorang ibu yang kecewa dan nelangsa dengan bencana yang menimpanya. Tidak berlebihan jika Ibu tersebut merasa terluka. Beliau adalah salah satu korban dari kebringasan amarah anak muda. Bukan, bukan anak muda bertato dan bertindik yang mengamen di lampu merah. Anak-anak muda yang membawa bencana ini adalah para mahasiswa. Kaum intelektual yang sudah bergelar ’Maha’, bukan TK. Kekecewaan juga terlihat beliau tujukan kepada penyelenggara utama pendidikan yakni Negara.

Seperti yang telah diberitakan oleh berbagai media masa, bahwa terjadi bentrokan antar mahasiswa di lingkungan kampus Universitas Riau (UR)  pada Kamis  (05/10/17) sore hingga malam. Persetruan ini melibatkan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Pemerintahan dan Politik (FISIPOL) dan Fakultas Teknik, Universitas Riau. (Beritariau.com) Bentrokan yang terjadi saat kegiatan wisuda ini mengakibatkan berbagai fasilitas kampus rusak. Puluhan mahasiswa luka-luka. Bahkan para pengusaha papan bunga pun tak luput dari kebringasan mereka.

*~Kegentingan Intelektualitas Tanpa Moralitas*

Sebenarnya, berbicara tentang tindakan kriminalitas yang melibatkan dunia pendidikan bukanlah hal yang baru. Sudah terlalu sering terjadi. Tersangkanya dari mulai siswa sekolah dasar hingga mahasiswa. Kasus bullying, pelecehan seksual, penyalah gunaan obat terlarang hingga tawuran, seolah menjadi style yang semakin eksis di kalangan penuntut ilmu.

Bahkan, tindakan-tindakan amoral yang terjadi tidak hanya diperankan oleh siswa atau mahasiswa yang notabene sedang menjalani pendidikan. Tidak sedikit guru, dosen, bahkan juga skala profesor yang bertugas sebagai pendidik pun tak luput tertangkap kamera melakukan tindak kejahatan. Beragam modelnya. Plagiatisme, narkoba, bahkan perbuatan asusila juga ada.

Tidak ketinggalan, sikap arogansi yang identik unjuk otot pun juga dipamerkan oleh para anggota dewan. Saling hujat, banting meja, bahkan saling adu tinju mereka jabani. Belum lagi jika bicara masalah kejujuran. Meminjam istilah Mbak Najwa Syihab, ”Di atas meja bermanis-manis, tapi di bawah meja menghisap sampai habis”. Ya, korupsi menjadi bancakan yang tidak pernah basi. Terus terulang tanpa peduli dengan ancaman bui. Nampaknya, para koruptor begitu yakin bahwa derita di balik jeruji bisa diatasi dengan moleknya uang korupsi. Terbukti, yang tertangkap basah dan terpaksa harus mendekam dalam jeruji besi masih sanggup melambaikan tangan dengan seulas senyum tanpa rasa sesal di hati. Ngeri!

Tidak berhenti sampai di situ, sepak terjang para intelektual yang miskin moral juga melibatkan para tenaga ahli. Tentu masih lengket di benak kita, peristiwa ijazah palsu, beras palsu, telur palsu juga vaksin palsu yang beredar dan meresahkan masyarakat awam. Tidak boleh disepelekan, bahwa para pembuat barang-barang palsu itu adalah mereka yang berpendidikan. Tidak diragukan bahwa mereka Berilmu, memiliki keahlian dan intelektualitas yang lebih dari pada sebagian besar rakyat bangsa ini. Tapi mengapa intelektualitas mereka miskin moralitas?

Inilah realitas yang terpampang di hadapan kita. Lahirnya para intelektual yang tidak bermoral. Butuh perhatian serius untuk mengusaikan secara tuntas kegentingan intelektualitas ini. Jika abmoralitas telah menjalar ke setiap sendi kalangan intelektual, maka masalah ini tidak lagi bisa dipandang hanya sekedar kasuistik. Tidak tepat lagi dikatakan, bahwa permasalahan terletak pada individunya saja. Melainkan, fakirnya moral dalam diri intelektual sudah menjamah pada persoalan sistemik. Maka menilik kembali secara jeli, sistem kehidupan apa yang tengah berlaku kini, adalah hal konstruktif untuk menyelamatkan bangsa ini dari dekonstruksi.

Sekulerisme, begitu halus dan lembut telah menancap di benak-benak manusia. Tidak terkecuali kaum intelektual yang menjadi objek sasarannya. Ide barat ini masuk melalui berbagai celah yang ada. Dunia pendidikan menjadi corong utama untuk memasukkan ide asing ini. Berbagai media yang ada, menjadi penjaja yang sangat mendukung untuk eksisnya paham sekuler. Dikemas begitu rapi, indah dan menarik. Sehingga tidak disadari, banyak rakyat pribumi yang otomatis mengaplikasikan paham tersebut dalam hidup mereka sehari-hari.

”Pisahkan agama dari kehidupan (politik. Ekonomi, sosial, dll). Agama adalah ranah privasi, cukup dibahas hanya di tempat-tempat ibadah saja. Tidak perlu bawa-bawa agama di ruang public”. Itulah jargon sekulerisme, yang saat ini telah membudaya di bangsa kita.
Maka tidak heran, jika lahir manusia-manusia dengan intelektualitas tinggi akan tetapi tidak memiliki moralitas yang memadai. Kenapa? Karena mereka tidak melibatkan Allah Swt. dalam aktifitas publicnya. Kesenangan dunia, itulah yang selalu ada di pelupuk mata. Sekulerisme menjadikan banyak orang amnesia. Lupa bahwa Allah Swt. maha melihat di manapun, kapanpun dan dengan siapapun kita berada. Manusia juga menjadi lupa, bahwa segala aktivitas kita tidak luput dari perhitunganNya.

Tidak jarang, manusia bersama sekulerisme menjadi jumawa. Merasa berhak melakukan apa saja. Bahkan sampai pada taraf ’kanibalisasi’, yang kuat semakin kuat dan yang lemah semakin lemah dibuatnya. Semena-mena kepada sesama demi memuaskan hasrat yang bergelora, itu hal biasa.  Inilah karakter yang lahir dari sekulerisme. Menjadi genting, karena banyaknya kaum intelektual yang terjebak dalam jerat-jerat paham tersebut. Sehingga intelektualitas yang menjulang pada diri, tak bermanfaat bagi kehidupan khalayak akibat miskinnya moralitas. Sebaliknya, mudharat bagi rakyat dan bangsa justru kian merajalela karenanya. Nastagfirullah!

*~Menyudahi Kegentingan*

Hilangnya moral pada diri intelektual adalah sebuah persoalan yang genting. Tidak boleh diabaikan. Seluruh komponen negara harus kompak untuk menyudahi kegentingan ini dengan mengakhiri sekulerisasi yang semakin menjadi. Selanjutnya, berupaya secara optimal untuk mengembalikan kodrat para intelektual sebagai pelita dalam kegelapan.

Sejatinya, kaum intelektual adalah tumpuan bagi maju mundurnya sebuah bangsa. Harapan di tengah keputus asaan. Para intelektual pada porsinya harus berlomba-lomba untuk menghasilkan karya dengan keahliannya dalam rangka memudahkan urusan segenap masyarakat, dalam segala bidang. Demikian pula, kaum intelektual sejatinya memiliki potensi untuk menghantarkan sekaligus mengawal sebuah bangsa menuju peradaban yang akan memimpin dunia dengan ketinggian ilmu dan kemuliaan jiwa. Semua ini tentu memerlukan hadirnya peran negara.

  Hal tersebut, tentu bukan utopis. Karena yang serupa dengan  itu sudah pernah terjadi. Kisahnya mahsyur, bahkan di dalam buku-buku sejarah yang ditulis oleh ilmuan barat. Bagaimana sebuah negara mampu menciptakan kehidupan yang kondusif, kesejahteraan yang merata, serta pelayanan yang maksimal kepada siapa saja yang membutuhkan.  Sehingga mampu mewujudkan pendidikan yang mencetak para ilmuan hakiki. Kaum intelektual yang berpacu dalam kebaikan. melahirkan karya-karya istimewa yang kemaslahatannya masih kita rasakan hingga sekarang. Keelokan masa itu digambarkan secara terang oleh sejarawan barat, Will Durant.

”Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. para Khalifah itu pun menyediakan berbagai peluang bagi siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam keluasan wilayah yang belum pernah tercatat lagi fenomena seperti itu setelah masa mereka. kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa...” (Will Durant, The Story Of Civilization).

Tidakkah kita rindu dengan corak kehidupan yang dituliskan oleh Will Durant? Pastinya, hal tersebut tidak akan pernah terwujud dalam sistem kehidupan sekulerisme. Karena apa yang diceritakan oleh Will Durant, adalah sebuah realita kehidupan yang bersandar total pada Sang Pencipta alam semesta, Allah Swt. Kehidupan yang menyatukan agama secara kaffah dalam segala aktivitasnya. Melalui keimanan dan ketakwaan yang total itulah, kegentingan intelektualitas akan dapat ditumpas. Wallahualam***

*Bersanding dengan Mbk Hana Ummu Dzakiy di satu halaman

https://issuu.com/prasena/docs/haluanriau_2017_10_11

Post a Comment

0 Comments