Gaya Hidup Pemuda Zaman Now

Oleh: RWijaya (Anggota Back To Muslim Identity Samarinda)

ZAMAN takkan berhenti selama waktu masih diizinkan oleh Allah untuk terus berputar. Hari ini, waktu berjalan merentasi suatu zaman yang di dalamnya terpancang kuat akar kerusakan. Debu-debu kemaksiatan bertebaran. Mengotori jiwa-jiwa pemuda yang patah. Menghinggapi raga-raga yang sebenarnya benci aroma kemaksiatan.

Darurat. Satu kata yang mampu menggambarkan kondisi pemuda Muslim hari ini. Belum tuntas satu nestapa, musibah lainnya datang melanda. Gaya hidup bebas yang dihembuskan kaum tak beriman disambut penuh suka cita oleh keluguan jiwa yang masih mencari jati diri.

Gaya hidup pemuda zaman now kebanyakan tidak lepas dari gaya hidup sang idola. Atas nama kekaguman, gaya hidup liberal alias serba bebas idolanya menjadi cerminan dirinya. Apapun yang dilakukan oleh sang idola seakan-akan merupakan suatu hal yang sangat istimewa yang patut dicontoh. Meskipun harus menggadaikan identitasnya sebagai seorang Muslim. Na'udzubillah.

Tapi terkadang pemuda zaman now yang katanya selalu _up to date_ ini tidak konsisten mengidolakan sang idola idaman. Saat sang idola gaul bebas mereka kerja keras untuk meniru. Lha, giliran idolanya insyaf alias tobat, tak sedikit dari mereka yang justru menghujat sosok yang dahulu dikaguminya. Padahal, sang idola berubah menjadi lebih baik dengan Islam. Bukankah berubah menjadi lebih baik dengan Islam itu mulia? Dan bukankah sebagai fans sejati, mestinya ikut berubah sejalan dengan perubahan sang idola?

Fakta ini membuktikan, bahwa sebenarnya yang diidolakan oleh pemuda zaman now adalah hawa nafsu belaka. Jika sesuai dengan keinginannya, maka akan dikerjakan. Jika tidak -meskipun itu adalah perintah Allah-, maka dengan perasaan tidak berdosa akan ia tinggalkan.

Akibat miskin ilmu Islam, kondisi ini bisa terjadi. Zona nyaman dalam kubang maksiat menjadikan pemuda zaman now tidak memiliki rasa takut akan siksa yang akan ditimpakan padanya kelak saat hari perjumpaan dengan Sang Kholik tiba.
Keadaan ini diperparah dengan lingkungan yang membuat mereka nyaman dalam kemaksiatan. Belum lagi peran penguasa tidak berjalan sebagaimana mestinya, yang seharusnya melindungi rakyat agar jauh dari maksiat. Namun faktanya, mereka pun tak mampu berkutik untuk menghentikan kemaksiatan massal yang tejadi. Kalau sudah begini, sungguh lengkap derita pemuda zaman now.

Sebagai seorang pemuda sejati dan calon pengisi peradaban masa depan, selayaknya pemuda zaman now move on dari lingkar kemaksiatan. Menempa diri dengan ilmu Islam dan tidak meniru-niru gaya hidup orang lain (baca: gaya hidup ala barat/ asing).

Semestinya seorang muslim bangga dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Karena ia mempunyai style sendiri yang unik, yang bukan hanya sekedar unik tetapi mengundang ridho Allah dalam hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Dan penguasa sudah seharusnya berperan aktif untuk melindungi pemuda zaman now agar tidak hanyut terikut arus pergaulan bebas, yang akan mematikan idealisme mereka. Karena pemuda zaman now pasti akan menjadi sosok-sosok pemimpin masa depan. Jika masa mudanya saja sibuk dengan aktivitas maksiat, maka tidak heran jika saat mengisi kursi kepemimpinan mereka pun menjadi pemimpin yang gemar bermaksiat (selama mereka tidak berubah). Na'udzubillah.

Hei, kamu! Iya, kamu! Yuk jadi pemuda zaman now yang cinta akan ilmu Islam. Bangga menjadi seorang Muslim. Menjadi agen-agen perubahan yang akan mengarahkan peradaban ini menuju kegemilangan. Karena digenggamanmulah perubahan itu ada. Yakinlah!
Wallahu a'lam bi ash-showwab.

Post a Comment

0 Comments