FORUM CENDIKIA MUSLIMAH (FCM) "Rohingya, Nestapamu, Nestapa Kami"

RemajaIslamHebat.Com - Sabtu, 23 September 2017, Forum Cendikia Muslimah (FCM) Surabaya telah menyelenggarakan diskusi intelektual dengan tema “Rohingya, Nestapamu Nestapa Kami. Acara ini dihadiri oleh 12 intelektual muslimah dari kalangan dosen dan mahasiswa S2 dan S3, dari kampus negeri dan swasta di Surabaya. Acara yang digelar dengan penuh keakraban ini dipandu oleh Nenik Estuningsih,M.Si. Diawali dengan pembacaan ayat suci al-Quran yang mengingatkan kita akan firman Allah SWT bahwa kaum muslim itu bersaudara dimanapun tempatnya dan bagaimanapun kedudukannya. Itulah sebabnya FCM mengangkat tema yang saat ini sedang menimpa saudara muslim rohingya sebagai bentuk kepedulian intelektual terhadap nasib saudara muslim di Arakan tersebut, tutur Dr. Liliek Susilowati, M.Si dalam sambutannya selaku ketua FCM.

Nasib tragis yang menimpa muslim Rohingya terpapar nyata dalam tayangan video. Penganiayaan, pengusiran dan kedholiman mereka hadapi setiap hari. Tak terasa duka yang mendalam turut menyelimuti rasa dan fikir para intelektual betapa nestapa mereka adalah nestapa kami, duka mereka adalah duka kami, kedholiman yang mereka alami laksana ada dihadapan kami. Tayangan tersebut menjadikan ibu Dr. Ni’matuzahroh, bertanya-tanya mengapa yang demikian menimpa saudara muslim Rohingya, apa salah mereka, adakah kesalahan perilaku mereka terhadap pemerintahan Myanmar, atau ada kepentingan yang lain sehingga etnis Rohingya harus diusir dari tempat tinggalnya, mengapa pula Negara Myanmar membiarakan pembantaian ini terjadi, benarkan bahwa dibalik konflik tersebut ada kepentingan Negara besar AS dan Cina? Demikianlah beragam tanya beliau ungkapkan. Tayangan video itu pula membuat geram ibu Mardyah,M.Kes. Beliau tidak menampik bahwa tayangan tersebut benar adanya, sungguh kebiadaban yang nyata telah terjadi di Rohingya dan ini sangat terkait dengan aspek politik, karena sesungguhnya hilangnya satu nyawa manusia adalah perkara politik yang harus dipertanggung jawabkan oleh penguasa. Berbeda pula apa yang disampaikan oleh ibu Jujuk Proboningsih, M.Kes. Kasus di Rohingya dengan muslim minoritas menjadi ajang kebiadaban budhis. Bagaimana dengan muslim mayoritas seperti di Suriah dan Yaman, kaum muslimin disana juga dibantai. Benarlah apa yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW bahwasanya akan ada masa dimana kaum muslim jumlahnya banyak tetapi laksana buih, tidak memiliki kekuatan apapun sehingga mudah diombang-ambingkan oleh musuh muslim.

Seluruh pertanyaan dan rasa geram intelektual yang hadir disambut oleh nara sumber Diana Mufida, SE. Beliau dalam pemaparan materinya menyampaikan masa depan bagi muslim Rohingya dalam posisi yang serba terpuruk, karena dapat dilihat dalam 4 hal. 1) Yang terburuk adalah dibantai oleh kelompok Budha dan rezim tiran Myanmar. Mereka terperangkap di Rakhine dan akhirnya menjadi korban genosida rezim bengis Burma dan kelompok Budha dimana banyak anak-anak Rohingya dipenggal dan dibakar hidup-hidup. 2) Melarikan diri dari Rakhine, mencari suaka dan menjadi manusia perahu dengan resiko tenggelam di laut dengan kondisi kapal overload. 3) Pilihan masa depan yang masih saja suram untuk Muslim Rohinya. Berhasil melarikan diri namun justru masuk ke perangkap sindikat perdagangan manusia di Thailand, disana mereka ditahan di sel sempit dan kotor yang tidak manusiawi lalu diperdagangkan layaknya budak. 4) Bertahun-tahun tinggal di camp-camp pengungsian karena belas kasih saudara Muslim Bangladesh, Malaysia dan Indonesia. Meski pemerintah setempat tidak kunjung memberi mereka hak kewarganegaraan, sehingga tetap sulit mendapat akses penuh pendidikan, pekerjaan dan kesehatan bagi Muslim Rohingya. Sementara Allah berfirman: jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka menjadi kewajibanmu untuk menolong mereka…” (TQS. Al-Anfal : 72). "Seseorang Muslim adalah bersaudara dengan Muslim yang lain. Dia tidak boleh menzaliminya, dan dia tidak boleh pula menyerahkannya (kepada musuh)." [Bukhari].

Pemateri juga memaparkan bahwa sebenarnya sejak abad ke 15 muslim Rohingya sudah menempati wilayah Burma, dan turut memberikan andil dalam kemerdekaan Burma. Hanya saja etnis ini diakui sebagai warga Negara Myanmar hanya pada tahun 1948-1962. Sejak tahun 1962 itulah melalui perdana Mentrinya Ne Win yang dikatator dan pendiri partai sosialis budha menghapus kewarganegaraan muslim Rohingnya karena menginginkan rakyat Myanmar seluruhnya budha. Mulailah sejak saat itu etnic cleansing terhadap muslim Rohingya diberlakukan. Dalam buku Burma: A Nation at the Crossroads yang ditulis Benedict Rogers, disebutkan salah seorang pejabat di era Ne Win mengaku bahwa sang diktator memiliki kebijakan tak tertulis untuk menyingkirkan warga muslim, Kristen, Karena dan beberapa etnik lainnya.

Di sisi yang lain etnic cleansing ini dipicu oleh penguasaan sumber daya alam yang melimpah di wilayah Rakhine. Di Propinsi Rakhine dimana etnis Rohingya bermukim, ada SHWE NATURAL GAS PROJECT (Shwe dlm bahasa Myanmar artinya adalah Emas) dimana terdapat salah satu cadangan gas raksasa di dunia 60 km di lepas pantai Rakhine yg dikuasai oleh Pertamina nya Myanmar "Myanmar Oil and Gas Enterprise" (MOGE). Perusahaan ini dimiliki dan dioperasikan oleh JUNTA MILITER Myanmar. Dan pembeli terbesarnya adalah Pertamina nya Cina "China National Petroleum Cooperation" (CNPC) yg disalurkan lewat pipa minyak dan gas bumi ke Provinsi Yunnan, Guizhou dan Guangxi Cina. Proyek gas alam Shwe di lepas pantai Rakhine memiliki kapasitas produksi gas alam sehari-hari sebesar 500 juta kaki kubik dan 80 persen dari itu akan diekspor ke China selama 30 tahun. Sedangkan pipa minyak mengirim sekitar 22 juta ton per tahun ke China dari Negara Bagian Rakhine. Total ada 25 blok Migas yang semuanya ada di lepas pantai Rakhine. Rakhine tercatat sebagai provinsi terbanyak memiliki blok migas. Sehingga dapat disimpulkan bahwa etnic cleansing dilakukan oleh junta militer myanmar yang didukung dunia internasional. Terbukti bahwa perdagangan senjata Myanmar (1990-2016) berupa artileri didukung oleh China sebanyak 125, Serbia 120, Rusia 100, Korea Utara 16 dan Israel 21. Kemdaraan lapis baja, support terbesar dari China sebesar 696, Israel 120, Ukraina 50 dan India 20. Misil berasal dari China 1029, Rusia 2971 dan Belarus 102 (Stockholm International Peace Research Center).

Dapat disimpulkan bahwa ada dua faktor penyebab terjadinya etnic cleansing muslim Rohingya.
1) Negara lalai dalam menjalankan tugas konstitusionalnya, yaitu menjaga darah, harta, kehormatan warga negaranya, serta mempertahankan wilayahnya. Jadi masalah nyawa Muslim Rohingya yakni tertumpahnya darah Muslim adalah JELAS masalah Islam, masalah agama. Apalagi akar konflik Rohingya di Myanmar dilakukan secara sistematis oleh negara dengan mencabut kewarganegaraan muslim Rohingya melalui UU tahun 1982. Ini jelas isu agama, rasial dan diskriminatif. 2) Masalah perebutan pengaruh kuasa adidaya, Geopolitik energi, akses sumberdaya alam di Rakhine.

Myanmar merebut tanah Islam yang kaya yakni Rakhine State berkoalisi dengan kekuatan kelompok Budha radikal dan dukungan junta militer di dalam negeri, lalu berkomplot dengan China di luar negeri, juga berselingkuh dengan korporasi Kapitalis untuk sumberdaya alam dan kekuatan militernya. Ya Myanmar dan seluruh konfigurasi kekuatan di belakangnya adalah negara penjajah yang harus dihadapi oleh kekuatan negara. Berharap nestapa Rohingya berakhir tiada jalan lain kecuali membangun persatuan umat muslim untuk mendirikan Negara adidaya yang mampu menyaingi negara adidaya dunia saat ini. Hanya negara dengan sistem pemerintahan islam kaffah yang bisa menyelesaikan masalah Rohingya. Demikian ibu Diana Mufida menutup pemaparan materinya.

Pada sesi diskusi ibu Dr. Ni’matuzahroh menyampaikan bahwa materi yang disampaikan telah menjawab seluruh pertanyaan yang ada di benak beliau. Beliau berkata: “Sekarang saya sudah paham apa yang sesungguhnya yang terjadi di Rohingya. Namun sering dijumpai intelektual masih berkutat dengan asumsi dirinya, jangan-jangan memang muslim Rachine berperilaku yang menyebabkan umat budha tidak suka. Solusi jangka panjang adalah dengan membangun institusi penerap Islam kaaffah, namun untuk jangka pendek ini apa yang harus dilakukan oleh negeri-negeri muslim?’’. Pertanyaan ini diperkuat pula oleh ibu Dr. Liliek bagaimana mengarahkan mindset intelektual sehinga mereka tidak lagi berasumsi sesuai dengan perasaan mereka namun bisa berfikir lebih luas lagi dan mampu memberikan solusi terhadap fakta yang terjadi dari akar persoalannya? Menanggapi pertanyaan ini ibu Diana Mufida mengajak untuk melihat fakta kembali secara obyektif. Bagaimana bisa diragukan kemusliman rakyat Rohingya, sementara yang kita lihat adalah perilaku mereka yang sangat berbakti kepada orang tuanya, menggendongnya dan memikulnya demi birru walidain. Ini cukup membuktikan kepada kita bagaimana perilaku kemusliman mereka. Terkait dengan solusi jangka pendek bisa saja dengan mengirim bantuan kemanusiaan, tapi bagaimana memastikan bahwa bantuan tersebut sampai di tangan kaum muslim Rohingya, sementara bantuan harus melewati rakyat Myanmar yang amat sangat membenci muslim Rohingya, kecuali bagi pengungsi yang di Bangladesh. Negara harus mengirim pasukannya ke Myanmar untuk menghentikan kebiadaban militer Junta Myanmar. Namun, apakah hal ini bisa dilakukan tanpa seijin PBB? Tentu saja tidak akan pernah bisa. Dan apakah PBB akan mengijinkan pasukan sebuah Negara membantu menghentikan kebiadaban militer Junta Myanmar? Inipun juga sulit dicerna oleh akal sehat karena pemegang hak veto adalah AS dan China, sedangkan kedua Negara tersebut memiliki kepentiangan penguasaan sumber daya alam di Rachine. Lalu bagaimana solusi konkrit terhadap persoalan muslim Rohingya dan juga muslim yang lain di belahan dunia ini? Tak ada yang bisa menyelsesiakan kebiadaban ini kecuali tegak institusi penerap Islam kaaffah yang akan menaungi kaum muslim sedunia, melindunginya dari musuh-musuh yang menghancurkan dirinya serta memelihara seluruh urusan kaum muslimin sedunia. Wallahu ‘alam bis showab. Acara ini diakhiri dengan doa.[Muslimah Pembela Islam]

Post a Comment

0 Comments