Fokus pada IKHTIAR, bukan pada HASIL

RemajaIslamHebat.Com - Bismillah. Kalimat diatas, begitu menghujam saya berkali-kali. Berasa menampar diri yang pernah dulu sempat dan terbersit mengesa-gesa kan anak.

Alhamdulillah, diberikan kesempatan hingga rasa syukur yang banyak dari Allah dipertemukan dengan banyak GURU kehidupan.

Di zaman serba canggih, informasi begitu melek terbuka, ribuan artikel yang kalau dibaca bukan malah bikin optimis, semangat menata hidup yang terlanjur berantakan, jikapun ada sedikit sekali yang terbaca mencerahkan.

Ketika sana sini, kanan kiri larinya demikian kencang, hingga ratusan km/jam. Ealah nengok ke diri sendiri masih lambat jalannya mungkin sekitar puluhan km/jam saja. Tapi mau hasilnya cepat, instant?

Hei..hei..jangan suka ngimpi di siang bolong. Biar dikata permainan sulap sim salabim tetap aja butuh waktu. Dan itu pakai latihan. Butuh proses.

Itu sekilas curcol kegalauan ibu muda macam saya, dulu yang pernah dirasakan. Sesekali masih sih galau tapi kadarnya udah TIPIS. Setipis kain, semoga.

Menghadapi persoalan anak, mengalami kesulitan. Belum lagi harus memulai dan memiliki model baru, karena hasil belajar sungguh TIDAK MUDAH.

Apa karena lantas sudah belajar, seketika itu juga menghadapi kesulitannya jadi berhenti? tentu tidak. Justru munculnya kesulitan baru itu yang membuat diri ini menjadi lebih YAKIN. Diberikan kesempatan, sampai pada takdir yang dijalani sesungguhnya memang karena KEHENDAK Allah.

Jadi karena kehendak Allah itulah yang membuat kita untuk melihat lagi kedalam diri, sudah dimana proses belajarnya. Masihkah ada yang harus diperbaiki. Bukan dengan melihat perolehan hasil apa yang akan kita dapat dengan sesegera mungkin.

Ingin perilaku buruk anak berubah? Jangan tanya "anak saya harus diapakan?" Tapi tanyalah "Apa yang harus saya rubah dari diri saya terhadap anak? (Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari)

Al-Jahizh telah meriwayatkan bahwasanya ketika ‘Uqbah bin Abi Sufyan menyerahkan anaknya kepada seorang guru, ia mengatakan, “Hendaklah yang pertama kali Engkau lakukan untuk memperbaiki anakmu adalah memperbaiki dirimu sendiri, karena penglihatan mata mereka adalah tertumpu pada penglihatanmu; apa yang baik pada mereka adalah apa  yang menurutmu dianggap baik, dan yang jelek pada mereka adalah apa yang menurutmu dianggap jelek. Ajarkanlah kepada mereka biografi orang-orang bijak dan akhlak orang-orang berbudi; ancamlah mereka dengan diriku dan didiklah mereka tanpa membandingkan diriku; jadilah engkau seorang dokter yang tidak memberikan resep obat sampai mengetahui penyakit pasien yang diderita; janganlah engkau membatasi dirinya hanya kepada sesuatu yang tidak bisa aku lakukan, karena sesungguhnya aku telah mempercayakan sepenuhnya akan anaku.” (Tarbiyatul Aulad fil Islam, Abdullah Nasih Ulwan)

Nurliani
Masih belajar jadi Ibu

#NTMS
#selfplak

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212821626228157&id=1013659521

Post a Comment

0 Comments