Eksistensi Kids Jaman Now

Oleh : Ayu Enggarina Permata

KIDS jaman now atau generasi z saat ini gemar memeberitakan kepada khalayak apa yang sedang mereka alami, rasakan dan perbuat. Terlihat banyak yang mengunggah banyak aktivitasnya baik berupa teks, foto maupun video.

Bukti nyata saat ini banyak bermunculan artis artis baru di dunia maya, baik itu youtuber, selebgram, vloger, dsb. yang mencoba peruntungannya menjajal eksistensi di dunia maya. Like, follow, subscribe, endorse adalah hal yang tidak bisa tidak untuk dikaitkan dengan aktivitas mereka dalam rangka meraup banyak dukungan, fans ataupun rupiah dari apa yang mereka buat. Bahkan tak jarang mereka membuat postingan diluar nalar yang seringnya melanggar hukum syara'. Mulai dari selfie, wefie di tempat nongkrong, vlog liburan bersama pacar, sumpah serapah di status sampai adegan adegan tidak senonoh dan kecelakaan sendiri pun dipamerkan dalam rangka aktualisasi diri.

Mengapa kids jaman now haus akan eksistensi?

Jika dilihat, banyak faktor yang menjadi pendorong bagi mereka untuk sekedar mengaktualisasikan diri, terutama di jagat maya saat ini.

1. Kurang perhatian dari orang tua dan lingkungan sekitar.

Kurangnya perhatian dari orang tua, keluarga dan lingkungan sekitar menjadikan mereka mencari perhatian lain yang tidak ia dapatkan di dalam rumah maupun sekitarnya. Ketenaran semu yang didapatkan di dunia maya menjadikan mereka merasa telah terpenuhi kebutuhan akan eksistensinya. Sehingga popularitas yang mereka dapatkan menjadi obat bagi kesepian yang mereka rasakan.

2. Terpapar Gadget.

Arus globalisasi saat ini telah menginfeksi seluruh keluarga di dunia khususnya kaum muslim. Pesatnya kemajuan teknologi tidak sejalan dengan kebijaksanaan dalam penggunaannya. Sedari balita bahkan baru dilahirkan pun mereka sudah dikenalkan balok tipis beradiasi dengan gambar bergerak. Baby jaman now ketika menangis pasti jika disodorkan balok tipis akan segera berhenti menangis. Sehingga tak sedikit balita jaman now gemar tantrum dan "autis" karena terpapar virus gadget.

Belum lagi elementary kids yang diberikan gadget. Padahal sebenarnya mereka hanya butuh telepon dan sms saja untuk hanya sekedar minta jemput sekolah.
Tak heran kids jaman now sudah bisa membuat vlog bahkan live streaming melalui sosyel media karena begiti banyak referensi tayangan yang dapat mereka copy paste hanya dari tangan dan kuota/jaringan.

3. Menyalurkan hobi dan mencari uang saku.

Sudah lazim saat ini debay menghasilkan pundi pundi rejeki. Dengan pengarahan dari orang tua mereka dibentuk menjadi pribadi kekinian yang dituntut menjafi rising star karena kecakapan yang dikuasai. Hal ini menyebabkan kids jaman now pintar menyalurkan hobi mereka dan menyebarkannya kepada follower atau subscriber mereka. Dan dari sanalah muncul endorse dan tawaran iklan. Akhirnya, menjamurlah kids(orang tuanya) yang pandai memanfaatkan peluang emas ini. Mulai dari memperlihatkan koleksi mainan, kunjungan ke suatu tempat, live streaming aktivitas, QnA, bahkan memperlihatkan adegan adegan konyol yang mengundang tawa. Dan banyak lainnya.

Semua kegiatan diatas memfokuskan diri anak anak kita pada aktualisasi diri. Hal ini disebabkan oleh keringnya perhatian orang tua, kurangnya pemahaman akan cara aktualisasi yang positif dan kurangnya pemahaman agama. Dan yang tidak kalah prnting, apa yang menjadi tolak ukur mereka adalah semata-mata untuk mengejar popularitas dan materi.

Padahal jika merujuk kepada sifat bawaan kaum muslimin, mereka menjadi individu yang produktif dan tidak kenal "mengejar popularitas" di mata manusia. Mereka menyibukkan diri untuk mempersiapkan sebaik baik bekal mereka di kehidupan abadi dengan ibadah yang maksimal, torehan prestasi yang nyata dan bermanfaat bagi orang banyak.
"Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepadaKu hai orang orang yang berakal" (2:197)

Walhasil, apapun yang dilakukan moslem kids jaman now akan terlihat bedanya jika orientasinya adalah kehidupan tanpa akhir tanpa mengesampingkan perkembangan teknologi yang ada. Mereka akan jadi pribadi yang mengeluarkan potensi maksimal mereka untuk semata-mata kemuliaan Islam. Dan inilah yang menjadi tugas kita bersama untuk menanamkan pemahaman ini kepada kids jaman now untuk menjawab tantangan peradaban saat ini.
Waallahu 'alam.[]


Post a Comment

0 Comments