Dosen Berafiliasi HTI Dikeluarkan. Dosen Berideologi Komunis Diapakan?

RemajaIslamHebat.Com - Lagi-lagi tentang radikalisme.
Ya, bahasan IMJ kali ini kembali membahasa isu deradikalisasi, terutama di kampus.
Salah satu yang janggal dari program deradikalisasi kampus adalah "pembersihan" dosen-dosen yang berafiliasi dengan HTI, baik dibersihkan dalam makna diminta melepaskan kegiatan, keterikatan & hubungannya dengan HTI, atau malah dipecat.
Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, M. Natsir di berbagai media, termasuk Radar Jember beberapa hari lalu.

Terkait isu pembersihan ini, banyak pihak yang membaca potensi persekusi politik oleh Penguasa atas PNS & Dosen yang berafiliasi HTI.
Hal ini menuai kecaman dari banyak pihak, diantaranya Direktur Amnesty International dan KH. Din Syamsudin, mantan ketuam umum PP Muhammadiyah.

Dan yang menggelitik dari isu penegasan status Dosen tersebut, adanya standar ganda sikap Penguasa terhadap Dosen-dosen yang berideologi komunis.
Di tengah-tengah santer dan terangnya bibit-bibit kebangkitan gerakap politik komunisme di Indonesia akhir-akhir ini, mengapa Dosen-dosen berideologi komunis dan berafiliasi dengan gerakan komunis tidak mendapatkan perhatian sedikitpun?

Dalam UU Nomor 17 Tahun 2013 tentang Ormas, telah jelas desebutkan bahwa ajaran yang bertentangan dengan Pancasila adalah ateisme, komunisme, marxisme dan leninisme.
Di saat yang sama, ajaran yang dibawa HTI, yaitu Khilafah, adalah ajaran Islam yang banyak disebutkan dan diulas di dalam kitab-kitab muktabar, bahkan diwajibkan oleh 4 imam mazhab.
Standar ganda Pemerintah sangatlah wajar ketika diterjemahkan banyak pihak sebagai sikap anti Islam dan pro Komunis.

Jika alasan pembiaran Dosen-dosen berideologi Komunis adalah karena komunisme masih berupa gagasan, bukan kekuatan politik yang secara nyata mengancam ideologi Pancasila, maka demikian pula dengan gagasan Khilafah yang disebarkan HTI.
HTI tidal pernah melakukan aktivitas politik praktis di Indonesia, lebih-lebih kegiatan berbau militer.
Selama ini HTI hanya menyampaikan pemikirannya semata.

Dan Islam termasuk di dalamnya Khilafah, sebagai pedoman hidup bagi kaum Muslimin sangat wajar diajarkan secara luas kepada seluruh pemeluknya baik di ruang-ruang kajian maupun di media.
Melarang penyebaran ide Khilafah, sama saja melarang dakwah Islam.

Bahkan secara historis dan empiris, gagasan yang dimonsterisasi ini terbukti memberikan kehidupan yang baik & mulia baik Muslim maupun non Muslim.
Banyak tokoh Kafir Barat yang mengakuinya.

Emmanuel Deutscheu, pemikiran asal Jerman mengatakan, “Semua ini (yakni kemajuan peradaban Islam) telah memberikan kesempatan baik bagi kami untuk mencapai kebangkitan (renaissance) dalam ilmu pengetahuan modern. Karena itu, sewajarnyalah kami senantiasa mencucurkan airmata tatkala kami teringat akan saat-saat jatuhnya Granada.” (Granada adalah benteng terakhir Kekhilafahan Islam di Andalusia yang jatuh ke tangan orang-orang Eropa).

Hal senada diungkapkan oleh Montgomery Watt, ketika ia menyatakan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”

Jacques C. Reister juga berkomentar, “Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi.”

Artinya, monsterisasi ide Khilafah hanyalah sebuah asumsi yang secara ilmiah tertolak, dan hal itu tak lebih adalah tuduhan keji terhadap Islam.[Info Muslimah Jember]

Post a Comment

0 Comments