Diplomasi Ranjang

Oleh. Asri Supatmiati (jurnalis)

Wuih, judulnya kok porno. Bikin parno, apa malah kepo? Hahaha...jujur aja, Mak. Baca terus kan, nggak berhenti, hihihi... Jangan ngeres dulu tapi. Ini masalah serius loh. Jangan dikira masalah ranjang itu sepele. Buktinya, selembar foto ranjang rumah sakit bisa meloloskan papah dari jerat tersangka. #eaa
.
Yup, sebagaimana jagad perkorupsian ketahui bersama, gugatan praperadilan papah terhadap KPK dikabulkan. Ndilalah ini terjadi setelah foto papah yang tergolek kritis manis di ranjang rumah sakit beredar luas. Walaupun, kesakitannya sempat jadi bulan-bulanan netizen, dibully sebagai sebuah akting yang gagal total; toh papah menunjukkan kesaktiaannya. Sampai-sampai diperingati sebagai Hari Kesaktian Setnov segala ...
.
Tapi, kita doakan “kemenangan” ini sementara saja ya, Mak. KPK konon kabarnya akan menyiapkan amunisi baru untuk menjerat papah. Iyalah, skor telak 1-0 itu bagaimanapun menjatuhkan imej KPK. Masak lembaga superbodi kalah sama superpapah. Walaupun, kita sih nggak yakin-yakin amat, hukum di negeri bedebah ini akan bisa ditegakkan laksana dinding kokoh dan bukan benang basah.
.
Tahu sendiri, hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Semua tahu, kalau papah sampai dijerat hukum, boleh jadi akan terjadi badai tsunami. Pastinya dia akan bernyanyi. Siapa-siapa saja yang kecipratan megaskandal e-KTP ini. Makanya papah benar-benar dilindungi. Entah oleh kekuatan apa dan siapa, tidak kita ketahui.
.
Yang pasti, jurus ranjang rumah sakit ini kerap dijadikan senjata para koruptor untuk menghindar dari jeratan hukum. Pura-pura sakit atau sakit beneran, sudah tidak ada bedanya. Yang penting gimana caranya bisa lolos dari hukuman. Tahu sendiri kan, dinyatakan jadi tersangka dengan ancaman penjara itu memang menyakitkan.
.
Padahal, kelakuan mengemplang duit negara yang merugikan jutaan rakyat itu jelas lebih menyakitkan. Makanya rakyat tidak bosan-bosan mendoakan, semoga kalau pura-pura, bakal sakit beneran. Kalau sakit beneran, mungkin itu “hukuman ringan” karena makan duit rakyat. Rakyat sudah geram. Apalagi kalau uang rakyat untuk foya-foya di atas ranjang.
.
Masih ingat kan, koruptor-koruptor kerap tertangkap tangan bersama para wanita. Uangnya juga habis untuk membelanjakan barang branded idaman para wanita. Padahal, banyak rakyat jelata, yang notabene ngap-ngapan urusan belanja. Untuk mendapat belanja bulanan layak dari suami tercinta saja, harus jago berdiplomasi ranjang. #eaa
.
Beneran. Diplomasi ranjang itu memang strategis. Di kalangan pejabat, seharusnya bisa untuk mengatasi korupsi. Mencegah para suami untuk tidak doyan uang haram. Kita tidak menuduh bahwa para istri pejabat itu adalah penyebab para suami korupsi. Tetapi, jangan coba-coba bisik-bisik soal listing barang mewah. Apalagi jika dilakukan di atas ranjang. Sangat rawan dilaksanakan dengan seksama oleh para suami yang tidak saleh. Makanya banyak suami kalap mata demi menyenangkan pasangan di ranjang.
.
BTW, diplomasi ranjang juga strategis untuk sarana berkomunikasi suami-istri. Hush, ini bukan ngomongin masalah intim. Tapi obrolan dua kekasih Allah yang disatukan dalam ikatan suci pernikahan. Saat siang sama-sama sibuk, malam sebelum menjemput mimpi adalah waktu yang tepat untuk saling berbincang. Ini teladan Nabi.
.
Rasulullah SAW itu kerap mengajak ngobrol istrinya sebelum tidur. Ibnu Abbas r.a menceritakan pengalamannya dengan Nabi SAW ketika beliau menginap di rumah bibinya, Maimunah, salah satu istri Rasul. Seusai salat isya, Rasul salat 4 rakaat, kemudian beliau berbincang-bincang dengan istrinya. Menurut ilmu parenting Nabawi, obrolan dengan istri dan anak habis isya, bagus untuk keakraban dan  mewujudkan kasih sayang. Jadi bapak-bapak jangan malah begadang ngobrol di warung kopi. Salah tempat. Ngobrollah sama istri.
.
Terus, kalau punya masalah yang perlu dipertengkarkan, diplomasi ranjang juga cespleng untuk mengatasinya. Maksudnya, kalau berantem jangan di hadapan anak-anak. Cukup di kamar saja. Tidak perlu melibatkan tetangga seberang. Apalagi sekampung halaman. Juga, tidak perlu update di media sosial, walaupun updatenya dilakukan di atas ranjang. Niscaya aib rumah tangga terjaga.
.
Paling penting, diplomasi ranjang juga jadi pilihan emak-emak ketika lelah. Biarkan rehat sejenak demi meluruskan otot-otot pinggang. Nggak perlu sampai pura-pura sakit sih, apalagi akting kritis pakai peralatan medis segala. Orang sakit beneran saja penghuni rumah tetap tidak percaya. Buktinya, masih harus mengerjakan ini itu demi anak dan suami tercinta.
.
Jadi, kalau emak-emak sudah mengambil jurus diplomasi ranjang, pertanda membutuhkan pertolongan. Butuh teman bicara. Butuh istirahat. Butuh tidak diganggu tidur panjangnya. Itu kebahagiaan sebenernya. Ah, mau berdiplomasi dulu ya! Semoga bahagia.[]

Post a Comment

0 Comments