Dimana Posisi Kita Saat Perang Jawa ?

RemajaIslamHebat.Com - Saya baru saja menyelesaikan membaca Buku tulisan Peter Carey yang berjudul SISI LAIN DIPONEGORO, Babad Kedung Kebo dan Historiografi Perang Jawa. Buku ini dengan ketebalan 277 halaman saya baca dengan penuh semangat dan emosional, karena salah satu subjek tulisan ini dekat dengan saya, minimal Purworejo sebagai tempat kelahiranku yang dari dalam hati ingin tahu tentang sejarah kota kelahirannya. Dan nama Kedung Kebo bagiku sangat familier di telinga.
-
Setelah membaca buku terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, ada banyak lintasan pikiran berkelindan saling bertautan dalam benak otak ini. Merangkai puzle-puzle yang berserak dari beberapa buku dengan subjek terkait. Diantaranya adalah berandai-andai " Seandainya saya hidup di zaman perang jawa dimanakah posisinya ?" Sebuah perang yang menguras keuangan Penjajah Belanda. Sebuah perang singkat namun penuh ketegangan. Guyonan Kata teman saya dari Gombong ( Ustad Yahya Husain ) Perang Jawa itu hanya terjadi lima menit aja, dari 18.25-18.30, hehe..
-
Namun walaupun hanya lima menit, dalam beberapa bukunya selalu berulang Pak Peter Carey biasa menyatakan bahwa akhir dari perang jawa inilah yang menjadi titik tolak pemisah antara tatanan lama jawa dan melahirkan tata pemerintahan kolonial baru.
-
Dimana posisi kita seandainya hidup pada masa perang Jawa ini ? Taruhlah sebagai warga pribumi Purworejo kita memilih berada di posisi mana ? Saya melihat bahwa medan pertempuran sebanarnya adalah Mujahidin Diponegoro- yang oleh Penjajah dalam beberapa laporannya disebut sebagai pemberontak - berhadapan dengan Penjajah Belanda. Perang Sabil berhadapan dengan Kafir Belanda. Untuk memperkuat posisi penjajahan ini Belanda dengan siasat liciknya membenturkan antara Sultan Ngabdul Khamid ( Pangeran Diponegoro ) dengan Raden Adipati Cokronegoro I, yang sebenarnya dua Orang ini ( Diponegoro dan Cokronegoro ) adalah satu seperguruan sama-sama murid Kyai Taptojani dari Mlangi,Magelang.
-
Strategi Belanda dengan stick and Carrot ( Pukulan dan Wortel )," Pukul bagi siapa saja yg membahayakan eksistensi Penjajahan dalam hal ini Diponegoro, dan " kasih wortel " alias rangkul dan berikan tanda jasa bagi yg sejalan dengan Penjajah Belanda membuat kekuatan Penjajah semakin kuat. Pasca tertawannya Diponegoro di Magelang, " Wortel " itu diberikan kepada Cokrongero I dengan menjadi Bupati untuk sebuah nama baru administratif Purworejo. Walaupun "wortel" ini sudah diberikan sebelumnya kepada Cokronegoro I saat mengalahkan salah satu Mujahidin Diponegoro " Basah Purwonegoro " alias Gagak Pranolo, Tumenggung daerah Tanggung ( saat ini masuk wilayah Purworejo ), yakni Cokronegoro diangkat menjadi Bupati Tanggung.
-
Nah Cokronegoro I ini menulis Babad Kedung Kebo. Babad yang dalam buku Pak Peter Carey ini dijelaskan kemungkinan ada dua penulis yang berbeda, bagian pertama menceritakan digdayanya sosok Diponegoro yg kemungkinan ditulis Kerto Pengalasan ( bekas panglima Diponegoro ), sementara dibagian kedua dibuat oleh Cokronegoro I yang isinya merupakan pembenaran bagi Cokronegoro I untuk berhadapan dengan Mujahidin Diponegoro.
-
Menariknya disana menggunakan simbol tokoh pewayangan untuk menjelaskan situasi perang. Diponegoro oleh Cokronegoro I dalam babad kedung Kebo ini dianggap sebagai Suyudana ( golongan Kurawa ), sementara Cokronegoro menganggap dirinya sebagai Bima ( Golongan Pandawa ) dan Bima inilah yang berhasil membunuh Suyudana. Terdapat pula analisis Oleh Cokronegoro bahwa Durna ( guru Golongan Pandawa ) digambarkan mewakili sosok Kolonel Jan Baptist Cleerens, karena dengan bimbingan Kol.Cleerens maka Cokronegoro I menanjak kariernya. Sementara Sosok Yudistira digambarkan mewakili Gubernur Jenderal AJ Duymaer Van Twist, ahli hukum alumi Leiden.
-
Bahasa pewayangan ini adalah simbolik untuk membahasakan situasi perang dari sudut pandang subjektif. Sama subnektifnya ketika dalam babad Diponegoro Versi Surakarta yang menggambarkan Penjajah Belanda sebagai Buto ( Raksasa ).
-
Di buku ini juga terdapat kritik soal hari jadi Purworejo yang sudah berjalan selama ini. Yang seharusnya menurut Peter Carey adalah sederhana ketika Nama Purworejo itu lahir dengan Bupati Cokronegoro I sebagai penguasa pertamanya, nah saat itulah tonggak hari Jadi Purworejo. Beliau mempertanyakan hari jadi Purworejo yg selama ini dirayakan ???
-
Tapi begitulah " Sejarah milik pemenang " kata Ibnu Khaldun, sementara menurut Syaikh Taqiyuddian An Nabhani Sejarah adalah salah satu TSAQAFAH yang mempunyai sudut pandang yang khas. Polemik hari jadi itu soal Politik. Termasuk kelahiran Purworejo itu juga soal politik. Polemik ini juga muncul saat ada peristiwa politik ketika Gubernur Jawa Tengah saat itu menginstruksikan setiap kabupaten kota di jawa tengah menentukan hari lahirnya. Saya membayangkan Purworejo ini kelak menjadi salah satu kota kecil yang dikenal dunia. Dikenal dunia bukan karena dengan akses baru bandara Kulon progo sehingga kalau ke Borobudur nanti para turis lewat Purworejo, namun Purworejo dikenal dunia karena darinya terlahir para Ulama', yang memang awalnya adalah basis Mujahidin Diponegoro. Kebayang nanti itu Gedung Ganesha namanya berubah menjadi Gedung Muhammad Al Fatih :-)
-
Sementara itu dulu, kalau tertarik baca sendiri aja. Nagantuk udah jam 02.00 pagi.

Penulis : Pristian Surono Putro

Sumber:

Fb: Pristian Surono Putro

Post a Comment

0 Comments