Dimana Anaknya?

RemajaIslamHebat.Com - Namanya Mbah Roh. Ini tadi 7-10-2017 saya temui di gubuknya yang cuma ukuran 3x4 meter di pekarangan belakang rumah di suatu daerah di Yogyakarta.  Bau dan kotor luar biasa. Usianya kisaran 75 tahun. Hidup dengan kiriman makan oleh familinya. BAB dan BAK di tempat itu. Tidak ada benda berharrga, tanpa kasur, bantal dan selimut. Tampak sudah depresi dan ketika ditanya jawabnya cuma tidak tahu..tidak tahu, lalu diam dan mengalihkan pandangan.

Kondisi demikian, menurut tetangganya, terus memburuk sejak 20 tahun yang lalu.

Tidak ada kabar tentang siapa suami Mbah Roh. Tetapi yang jelas, dahulu Mbah Roh adalah pemilik sebagian besar pekarangan di desa itu. Kaya. Karena hanya dari pekarangan yang ditumbuhi tanaman buah itu, tinggal duduk saja tentu sudah mampu menggerakkan ekonomi keluarga. Anaknya dua, lelaki semua. Meski janda, dia cukup sanggup memelihara kedua anaknya sendiri.

Hingga kemudian anak-anak dewasa dan butuh biaya untuk sekolah, Mbah Roh meloloskan satu demi satu kebunnya untuk mencukupi kebutuhan anaknya. Dijual. Pengorbanan yang sepadan, karena setelah itu anak-anaknya bisa bekerja di BUMN ternama di Indonesia, kabarnya.

Lalu anak-anak berpisah karena tuntutan pekerjaan. Sayang, setelah itu mereka tidak sekalipun memunculkan diri kembali ke kampungnya. Lenyap begitu saja. Tidak ada warga yang tahu dimana alamat anak-anak tersebut yang kabarnya memegang jabatan penting. Kabar tentang suksesnya si anak pun diperoleh dari kabar burung orang-orang desa yang pergi ke kota besar. Mendengar, tetapi tidak bisa menemui langsung, apalagi berbincang tentang nasib orang tuanya. Hingga bertahun-tahun kemudian sudah hilang jejak tentang mereka.

Mbah Roh, meski hidup tanpa anak-anak, masih mencoba bertahan dengan sisa-sisa hartanya: rumah dan sepetak tanah. Mbabu, kata orang kampung. Menjadi tenaga serabutan untuk banyak kepentingan: momong anak, mengurus kebun dan panenan, bersih-bersih, dan apapun kepentingan warga. Asal ada upahnya, jadilah. Tidak terbayang bagaimana rindunya dia dengan anak-anaknya, tetapi rindu itu harus dia pupuskan. Pokoknya tahu mereka sukses, itu sudah cukup dan mampu dijadikan bahan cerita dengan kiri kanan.

Sedikit terhibur saat itu, ketika datang seorang lelaki yang kemudian menawan hatinya. Memacarinya selama beberapa waktu dan menjanjikannya kehidupan yang lebih baik, membina mahligai rumah tangga.

Cinta adalah misteri yang bisa jadi berwajah jahat. Ketika itu, Mbah Roh terpikat pada si lelaki yang ternyata pengangguran. Demi menyamankan pujaan hatinya agar memiliki modal dalam menjalankan ekonomi keluaga, Mbah Roh merelakan seluruh hartanya untuk dijual. Uangnya untuk modal usaha si lelaki. Tetapi malang. Setelah uang diserahkan, si lelaki pergi tak tahu rimbanya. Hilang begitu saja.

Harta sudah tidak ada. Mbah Roh akhirnya tidak punya lagi harta dan uang untuk membayar sewa. Sejak saat itu berangsur-angsur Mbah Roh nampak jiwanya tertekan. Kesadarannya hilang dan tidak lagi mampu mengurus dirinya sendiri. Hingga tahun demi tahun dihabiskannya sekedar duduk di gubugnya yang jauh dari layak, sampai sekarang. Untuk mendapatkan cerita utuh tampaknya sulit, karena Mbah Roh sudah tidak bisa lagi bercerita lancar. Bicara pun tidak jelas. Nama anaknya siapa, dia sudah tidak merespon.

Semoga kami bisa memberi solusi untuk Mbah Roh, karena untuk bisa masuk ke Balai PSTW sepertinya tidak mungkin. Khawatir akan merepotkan lansia lainnya, bisa-bisa dia dibully.(*)

Pakem, 7102017

Penulis : Feriawan Agung Nugroho

Post a Comment

0 Comments