Di Mana Posisi Kita?

Oleh : Etiana Milka Sari, S.Pd

BULAN September bagi rakyat Indonesia memiliki satu tanggal yang sangat berarti yaitu di penghujung bulan, tepatnya tanggal 30 September. Di mana setiap tanggal 30 September di peringati sebagai hari terjadinya pemberontakan/pembantaian terhadap para jenderal TNI Republik Indonesia. Sehingga wajar jika dalam minggu-minggu terakhir ini pemberitaan mengenai bagaimana sepak terjang PKI di masa lalu ramai di bicarakan baik di dunia nyata maupun di dunia maya, bahkan tidak sedikit tulisan yang mengangkat tema tersebut, termasuk juga acara Nobar (nontonbareng) film G30S/PKI yang ramai diadakan di berbagai tempat. Yang menarik perhatian bagi saya adalah bagaimana semangat dari masyarakat untuk bersama-sama mengadakan atau menonton  film G30S/PKI yang ini bisa kita jadikan indikasi timbulnya kesadaran di tengah-tengah masyarakat akan bahaya dari ideology Komunisme-Sosialisme. Maka jika kita bicara mengenai ramainya Nobar film G30S/PKI selayaknya kita juga harus mengetahui ideology apa yang ada di balik Partai Komunis Indonesia (PKI) sehingga kita bisa membedakan dengan ideology yang lain, dan saat ini ideology apa yang diterapkan.

Jika berbicara ideology maka harus memahami dulu apa yang di maksud ideologi yang dalam bahasa arab disebut mabda. Mabda adalah suatu aqidah aqliyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia, dan hidup, serta apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan, di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Sedangkan peraturan yang lahir dari aqidah ini tidak lain berfungsi untuk memecahkan dan mengatasi berbagai problematika hidup manusia, menjelaskan bagaimana cara pelaksanaan pemecahannya, memelihara aqidah dan serta untuk mengemban mabda. Penjelasan tentang tata pelaksanaan, pemeliharaan aqidah, dan penyebaran risalah dakwah inilah yang dinamakan thariqah. Maka aqidah dan berbagai pemecahan masalah hidup di namakan fikrah. Jadi mabda/ideology mencakup dua bagian, yaitu fikrah (Pemikiran/ide) dan thariqah (Metode). Sehingga ideology harus mempunyai dua kriteria tersebut baru bisa disebut ideologi.

Maka ketika melihat kriteria ideologi yang mempunyai akidah atau dasar pemikiran (pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini) dan memiliki cara melaksanakan dari aqidah/dasar pemikiran tersebut (thariqah/metode), sehingga ada tiga ideologi yang berkembang di dunia ini yakni: Islam, Komunisme-Sosialisme, Kapitalisme-Liberalisme. Islam tegak di atas asas akidah Islam. Akidah islam tegak di atas keimanan tentang keberadaan Allah SWT dan keesaan-Nya. Dialah Al-Khaliq yang Azali. Akidah Islam menuntut pemeluknya untuk mengesakan Allah SWT sebagai satu-satunya Zat yang wajib disembah dan diibadahi. Kapitalisme-Liberlisme tegak atas asas akidah sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan). Sekularisme mengakui keberadaan Tuhan (agama), namun menolak peran Tuhan (agama) dalam mengatur kehidupan. Dengan kata lain, agama diakui sebatas sebagai sebuah keyakinan, ritualitas dan moralitas belaka. Komunisme-Sosialisme tegak di atas asas materialism (atheisme). Dalam praktiknya, Komunisme bukan hanya tidak mengakui keberadaan Tuhan (agama), tetapi bahkan anti Tuhan (anti agama). Dalam pandangan orang-orang komunis, agama adalah “candu” spiritual yang tidak layak mempengaruhi dan memperdaya manusia. Jelas, pandangan materialism (ateisme) ini menyalahi fitrah dan akal manusia.

Dari keberadaan tiga ideologi yang ada di dunia saat ini, maka ideology Kapitalisme-Liberalisme lah yang sedang Berjaya dengan diemban oleh Negara adidaya saat ini yaitu Amerika Serikat. Ideologi Komunisme-Sosialis telah runtuh dengan keruntuhan Negara pengembannya Uni Soviet, sekarang patut kita bertanya mengenai ideologi Islam, yang pernah tegak selama 13 abad lamanya. Sedangkan jika kita melihat saat ini umat Islam jumlahnya tidak sedikit dan tersebar di seluruh penjuru dunia, akan tetapi tidak bisa kita pungkiri bahwa umat Islam yang banyak ini hidup di dalam system Kapitalisme-Liberalisme sehingga bagi umat Islam akan sulit membayangkan akan gambaran pelaksanaan ideologi Islam di bandingkan dengan ideology Kapitalisme-Liberalisme yang terhampar di depan mata. Akan tetapi bagaimanapun Islam sebagai sebuah ideology memiliki aqidah yang  khas dan jelas berbeda dengan kedua ideologi yang ada. Sehingga sudah selayaknya umat Islam  kembali ke posisi sebagai umat yang berakidah Islam dan sekaligus berideologi Islam, karena Islam bukan hanya sebatas agama saja.

Dengan kata lain jangan sampai Islam hanya diakui sebatas sebuah keyakinan, ritualitas dan moralitas belaka, yang artinya Islam diperlakukan sama dengan agama-agama lain (sekuler) bukan sebagai sebuah ideologi yang memiliki seperangkat aturan hidup. Karena Pengakuan akan keberadaan Allah SWT saja tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kepatuhan dan ketundukan pada semua hukum dan ketentuan-Nya. Dengan kata lain, keimanan kepada Allah SWT mengharuskan keterikatan dengan seluruh Syariah-Nya.
Wallahu’alam bi ash-shawab.
[@mps_id]

Post a Comment

0 Comments