Deklarasi Anti Radikalisme di Kampus, untuk Kepentingan Siapa?

Oleh : Deasy Rosnawati, S.T.P. (Pemerhati Persoalan Perempuan Keluarga dan Generasi)

Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan lampung siap menjadi tuan rumah deklarasi anti radikalisme yang akan diikuti perguruan tinggi-perguruan tinggi se-Lampung. Kegiatan tersebut akan berlangsung tepat di hari sumpah pemuda, yakni 28 Oktober 2017. Kegiatan tersebut sebagai tindak lanjut deklarasi anti radikalisme oleh ribuan perguruan tinggi se-Indonesia yang telah diselengarakan di Bali September lalu. (http://duajurai.co/2017/10/11/deklarasi-anti-radikalisme-pt-se-lampung-uin-raden-intan-siap-jadi-tuan-rumah/)

---

KOMENTAR

Ada banyak pertanyaan penting terkait berita ini. Apa yang dimaksud dengan radikalisme?, siapa yang dianggap radikal?, mengapa deklarasi anti radikalisme digelar di kampus? Dan mengapa setelah deklarasi di Bali oleh perguruan tinggi se-Indonesia, diadakan lagi deklarasi oleh perguruan tinggi-perguruan tinggi se-Lampung? Ada apa dengan radikalisme?

Muhajir Darwin, guru besar Fisipol UGM, mendefinisikan radikalisme sebagai fanatisme atau pemutlakan terhadap suatu keyakinan dan sikap tidak mau kompromi dalam mempertahankan keyakinannya atau melawan keyakinan pihak lain (sering kali dengan menggunakan cara-cara kekerasan).

Bila kita mengembalikan pada definisi ini, tentu kita akan mengatakan bahwa semua keyakinan di dunia ini adalah paham radikal. Islam ketika diyakini sebagai satu-satunya ideologi yang benar, sah bila dianggap sebagai ide/gagasan yang radikal. Begitupun kebebasan, ketika diyakini sebagai nilai yang benar dan menganggap bahwa orang lain tidak boleh protes terhadap sebuah ekspresi  kebebasan, pun sah bila kita sebut sebagai ide radikal.

Akan tetapi, karena demokrasi adalah aturan main bernegara dan bermasyarakat, dimana  prinsip kebebasan dan hak asasi individu dikedepankan, maka istilah radikal tidak lagi seperti definisi  awal. Istilah radikal menjadi tidak disematkan kepada mereka yang mengusung kebebasan. Bahkan ketika para pengusung kebebasan tersebut menggunakan kekerasan.

Sebaliknya, mereka yang menolak kebebasan, menyeru kebaikan, memberi peringatan akan bahaya dan rusaknya ide kebebasan,menegur para pelaku kebebasan yang merusak masyarakat, diberi stempel radikal meski sama sekali tidak pernah melakukan tindak kekerasan secara fisik.

Tak peduli mereka adalah para ulama yang shalih, ormas Islam yang bersih, intelektual yang jujur, sepanjang mereka mengkritik kebebasan, tetap mendapat stempel radikal.

Begitupun para pemuda islam, para mahasiswa yang kritis, yang mulai menyadari kebebasan kepemilikan yang dipraktekkan Negara, telah menjerumuskan negeri ini dalam sandera para kapitalis barat (Amerika) dan kapitalis timur (China), lalu pada saat yang sama, para pemuda tersebut melihat melalui visi intelektualnya yang terang, bahwa Islam adalah jalan untuk  melepaskan ibu pertiwi, pun disematkan pada mereka stempel radikal. Semata-mata karena mereka membawa visi Islam dan mengoreksi paham kebebasan.

Baik, bila membebaskan negeri ini dari sandera politik tak perlu menggunakan Islam, tunjukkan caranya. Sebab dari waktu ke waktu para pemuda Islam, para mahasiswa, menyaksikan kebebasan yang diagungkan demokrasi, justeru menyeret bangsa ini menuju binasa.

Dari sini, kita bisa melihat dengan terang benderang bahwa stempel radikal sejatinya adalah cara licik untuk menghadang kebaikan, menghadang penyelamatan negeri ini dari kebinasaan. Dan terang benderang juga bahwa kapitalis penjajah ada dibalik deklarasi anti radikalisme.

Alhasil, kampus adalah gudang para pemuda intelektual. Bangkitnya mereka dengan Islam, akan menyelamatkan negeri ini dari dari belenggu penjajah. Dan itu menjadi lonceng kematian bagi para penjajah barat dan timur.

Maka para pemuda hebat itu, harus diberi stempel radikal, agar tak sempat bangkit dari tidurnya.

Itulah alasan kuat mengapa deklarasi anti radikalisme digelar di kampus. Bahkan, tak cukup meski telah diikuti oleh ribuan kampus se-Indonesia. Seluruh kampus di daerah tanpa terkecuali harus ikut serta di dalamnya.

Jadi, deklarasi anti radikalisme di UIN Raden Intan Lampung, sejatinya untuk kepentingan siapa?

Wallahua’lam.[]

Post a Comment

0 Comments