Dari FESyar Menuju Ekonomi Syariah Kaffah

Oleh: Ratna Sari Dewi, SE

PATUT untuk diapresiasi gelaran Festival Ekonomi Syariah/ FESyar 2017 yang dilangsungkan Bank Indonesia (BI) di tiga titik yaitu Medan untuk kawasan Sumatera, Jawa Barat untuk Jawa dan Makasar untuk Indonesia Timur. Ini menunjukkkan masyarakat dan Negara memiliki animo yang besar pada kebersihan transaksi ekonominya. Disamping itu, ada kepercayaan terhadap ketangguhan terhadap ekonomi Islam. Itulah
Sebagai Negara muslim terbesar, sudah sewajarnya menerapkan ekonomi syariah. Bukan hanya karena moyoritas penduduknya muslim namun lebih dari itu karena keberkahan ekonomi dapat dirasakan seluruh rakyat, muslim dan non muslim.

Namun ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian kita,
Pertama, ekonomi syariah yang dimaksud bukanlah system ekonomi Islam keseluruhan. Dari tema FESyar 2017 yaitu “Mendorong Peran Ekonomi Syariah dalam rangka Penguatan Ekonomi Nasional” dengan Konsep 5F Finance, Food, Fashion, Funtrepreneur/wirausaha dan Fundutainment/hiburan, jelas dapat disimpulkan ada 4 sektor yang digerakkan lewat pembiayaan/finance. Islam tidak hanya mengatur masalah makanan halal, pakaian, wirausaha dan hiburan tapi seluruh sector ekonomi telah sempurna aturannya dari Allah swt. Bahkan Islam punya aturan bagaimana mengelola tambang yang merupakan kepemilikan umum/rakyat. Membatasi hanya pada 4 sektor berarti meragukan kesempurnaan Islam dalam menyelesaikan masalah kehidupan.

Kedua, menggerakkan 4 sektor tersebut lewat pembiayaan juga perlu diperjelas. Karena pembiayaan berbeda dengan syirkah/usaha bersama. Pembiayaan adalah adanya pihak pertama yang memberikan pinjaman kepada pihak kedua untuk membeli barang dan pihak pertama mendapatkan ‘keuntungan’ tambahan dana atas pinjman tersebut. Sementara syirkah merupakan aqad antara dua orang atau lebih untuk mengelola usaha bersama dalam rangka mendapatkan keuntungan bersama. Kedua kata ini jelas berbeda. Tidak bisa menyebut pembiayaan tetapi ada pembagian keuntungan bersama atau sebaliknya. Pembiayaan tidak dibolehkan oleh Islam karena ada riba didalamnya sementara syirkah boleh.

Ketiga, kalaupun bentuknya syirkah maka Islam jelas mengatur bahwa syirkah seperti syirkah mudharabah yaitu syirkah antara pemilik modal financial dan pengelola/ pemilik keahlian mengharuskan dana yang dimiliki pemilik modal financial adalah benar dananya sendiri, bukan dana orang lain. Praktek yang terjadi saat ini, bank syariah melakukan syirkah dengan pihak lain menggunakan dana nasabah. Tanpa melibatkan si nasabah, bank melakukan syirkah dengan pihak lain kemudian menyepakati pembagian keuntungan diantara keduanya sementara nasabah yang dananya disalurkan untuk syirkah tersebut mendapatkan ‘bagi hasil’ yang ditentukan oleh bank. Harusnya yang terjadi syirkah antara si nasabah dengan calon pengelola dananya dan si nasabah mendapatkan bagi hasil usahanya dengan pembagian sesuai kesepakatan mereka. Ini baru betul, yang punya uang mendapatkan bagi hasil usahanya. Dan bank hanyalah perantara saja dan perantara bukan yang beraqad transaksi.

Akan menjadi sempurnalah praktek ekonomi syariah di Indonesia ini bila BI sebagai starter dan pemerintah sebagai pemilik kekuasaan menstandarkan kembali konsep ekonomi syariah kaffah sesuai Al-quran dan hadist. Jangan sampai yang terlihat hanya sekedar memenuhi demand ekonomi syariah.  Semoga!

Post a Comment

0 Comments