Cinta Terhalang Bin Terlarang

Oleh : Nur Baya

Fluktuasi perasaan terhadap pasangan lazim terjadi, tapi bukan berarti itu dijadikan dalih untuk "berpaling".

Sungguh aku berlindung pada Allah semoga ini bukan nafsu lawwamah yang tidak terkendali.
Saya sadar seeeee sadar-sadarnya bahwa bukan titik yang menyebabkan tinta, tapi tintalah yang menyebabkan titik.

Bukan cantik yang menyebabkan Cinta tapi Cintalah yang menyebabkan cantik.

Artinyaaaaa....

Rentang komunikasi yang intens kita lakoni, rentan sekali membuahkan rasa yang terlarang, rasa yang awalnya mungkin bias-bias Kasih alias biasa-biasa saja berpotensi besar untuk berubah haluan.

Saling mencari, saling membutuhkan dan saling ketergantungan lambat laun akan menjadi candu.

Persis dengan candaan kita yang penuh gelak tawa, ajang seru-seruan yang membuat saya ketawa ketiwi, tralala.. trilili.. (kita sudah terkena virus candu canda yg mengaktifkan produksi hormon endorfin, makanya lahirlah efek ketagihan).

Ya Allah jika sekiranya Engkau teggelamkan kami dalam lautan rutinitas itu lebih baik bagiMu maka tenggelamkanlah, agar kami tak ada waktu menjamah no kontak WA bersapa ria, say hello tanyakan kabar, ngobrol ngarol ngidul, dll, dsb, etc..

Kupeluk rasa ini, perasaan ukhuwah sebagai sesama muslim.

Kurengkuh penuh damai sambil bermunajat merapalkan do'a, semoga rasa ini bukan rasa terlarang, semoga rasa ini hanya rasa persaudaraan yang tulus sebagai adik & kakak.

Sebelum semakin jauh saling "menyakiti" perlu disadari bahwasanya ada fase dimana dia yang akhirnya pergi baik-baik, tidak benar-benar membuatmu baik-baik saja.

Bagaimanapun perpisahan bukanlah hal yang menyenangkan, walau kadang kita menutupinya dengan senyum (Senyum untuk menguatkan diri sendiri).

Dan mari kita belajar & berusaha meyakinkan diri, menabahkan hati untuk "memuseumkan" kenangan yang pernah hadir menyapa.

Tak usah risau menanggung beban rindu sendirian
tapi percayalah bahwa setelah badai melambaikan salam perpisahan akan ada hari-hari yang cerah.

Kita hanya butuh meyakini bahwa cinta sejati tidak pernah mengingkari pada siapa dia pertama kali melabuhkan ijab qabul dihadapan penghulu.

Tahukahhhh???

Bahwa hati yang saling menggapai dalam jauhnya jarak, hati yang saling berangkulan dalam ketiadaan, denting kerinduan dalam senyapnya melodi, kidung sendu mendayu merayu, serta tatapan tanpa kata tapi hati mampu mentranslate dgn sempurna esensi dari tatapan itu,  sungguh jauh lebih membinasakan daripada perselingkuhan fisik yang terpampang secara kasat mata.

Mari mengupgrade kedewasaan dengan mengafirmasikan bahwa kedewasaan adalah ketika seseorang menyakiti kita, kita lebih memilih untuk memahami situasi daripada mencoba membalasnya dgn perlakuan yang sama.

Sejatinya dalam hidup ini kita selalu berada pada ranah "trial n error" untuk kemudian bisa menjadi role model yang layak untuk diteladani.

Pun demikian dengan upaya saling menjaga hati, tidak akan lepas dari cengkraman trial n error yang membelenggu.

Tapi semakin kita mencobanya berulang-ulang insya Allah kita bisa, lalu terbiasa, lalu kemudian menjadi kebiasaan. Terbiasa tanpa kamu, iyaaaa kamuuu.. :)

Kebanyakan dari kita betah sekali bersemayam di samudera kemungkinan, mengira-ngira penuh praduga, hobi berprasangka, full telisik ala-ala detektif.

Sehingga tanpa disadari pikiran dan jiwa yang justru mengalami "persetubuhan". Rancu teracuni gelak emosi, tertikam belati perasaan sendiri, lalu perasaan itu bersarang kian lekatnya tak kunjung enyah.

Bukankah terasa istimewa saat kau begitu peduli menanyakan kesehatan kami, anak-anak kami, keluarga kami dan berbagai macam perhatian yang nyaris membuat kami kaum hawa jadi meleleh??

Bukankah terasa spesial saat kami tau bahwa ada kapling khusus di rongga hatimu meskipun hanya berukuran sekian cm??  Yang tanpa kami bertanya kau begitu ''disiplin laporan'' mengabarkan keadaanmu, kegiatanmu dan rutinitasmu.

Padahal jelas-jelas kita tahu firman Allah yang penuh dengan muatan kebenaran ''jangan mendekati zina''.

Yaaahhh mata berzina dengan penglihatannya, telinga berzina dengan apa yang didengarnya, mulut berzina dengan apa yang diutarakannya.

Tangan berzina dengan apa yang digapai (termasuk chatting ria dengan non mahram yang sama sekali tak ada unsur kepentingan).

Kaki berzina dengan ayunan langkahnya, pikiran berzina dengan apa yang dipikirkannya, lalu kemudian kemaluanlah yg membenarkannya.

Naudzu billah.

Mengakhiri tulisan ini, tolong makhluk hidup yang berspesies suami diluaran sana hargai dan muliakan kami sebagai orang yang dimandatkan Allah menyempurnakan separuh dien-mu.

Pun demikian dengan mahkluk yang bertitel istri, taati suamimu yang telah didaulat oleh Allah menjadi orang yang darinya kita bisa menggapai surga di istana bunda Khadijah yang telah Allah janjikan.

#30DWC9Day20

**Nurb@y@ Tanpa Siti

Editor kata : Hardi Jofandu

Post a Comment

0 Comments