Cerdas Memahami Framing

Oleh: Etiana Milka Sari, S.Pd

DUNIA kembali dikagetkan dengan penembakan di Las Vegas, satu kota di bagian barat Amerika Serikat yang terkenal sangat bebas, termasuk kepemilikan senjata api yang dibebaskan sehingga boleh dimiliki oleh siapa saja. Teror penembakan dilakukan oleh Stephen Paddock, berusia 64 tahun, seorang kaya dan bukan muslim. Korban penembakan cukup banyak, sejumlah 58 orang meninggal dan kurang lebih 500 orang luka. Insiden ini dikatakan teror terparah dalam sejarah modern Amerika, akan tetapi ketika kita perhatikan bagaimana respon dunia baik berita di televisi, cetak hingga di penggiat sosmed sepertinya datar saja bahkan tidak ada bermunculan hastag save Las vegas atau saya bersama Las vegas, maka wajar kita bertanya kok tidak heboh?
Kenapa beritanya tidak dikuliti sampai detail kemudian digoreng agar tetap hangat? apakah korbannya sedikit?
atau karena pelakunya bukan muslim?
Sepertinya pertanyaan terakhir inilah yang lebih kuat penyebab datarnya pemberitaan tentang teror di Las Vegas.

Maka coba kita posisikan penembak di Las Vegas bernama Ahmad dan seorang muslim kira-kira kita bisa memprediksi bagimana reaksi dunia dan media walaupun tempat, cara dan korban sama persis, yang berbeda hanya pelaku, tentu kita akan dapati berita yang akan non stop disiarkan oleh berbagai media cetak dan eletronik dan penggiat sosmed pun akan bersemangat untuk membuat hastag  Save Las Vegas dan koment-koment bela sungkawa, kutukan bagi pelaku dan lain-lain yang membuat berita semakin hangat. Tetapi yang terjadi untuk teror di Las Vegas tidak demikian karena pelakunya bukan muslim. Sehingga kita harus memahami kondisi ini dengan cermat bahwa telah terjadi framing dan upaya stigmasisasi di pemberitaan jika ada kekerasan yang pelakunya muslim langsung dikaitkan dengan ekstrimisme, radikalisme bahkan jihad. Padahal sebagai seorang manusia kita pasti akan mengutuk tindakan kekerasan apalagi pembunuhan yang dilakukan kepada siapa saja tanpa ada alasan yang dapat di benarkan, sehingga seharuskan kita semua berduka atas teror yang terjadi di Las Vegas, apalagi di dalam agama Islam kita memahami jika kita menyelamatkan satu kehidupan sama dengan menyelamatkan seluruh dunia.

Datarnya pemberitaan teror di Las vegas karena pelakunya bukan muslim, menunjukkan bahwa saat ini kita lebih banyak terpengaruh  pencitraan dibandingkan dengan fakta sebenarnya, membenci sesuatu yang tidak kita pahami atau sebaliknya mencintai sesuatu tanpa pemahaman juga. Dan saat ini banyak dari kita dengan pencitraan yang dibuat sehingga membuat kita bertindak, bersikap tanpa memahami sesuai dengan fakta yang sebenarnya tapi terbawa arus framing yang dibentuk.

Sudah saatnya kita cerdas dalam memahami fakta dan tidak mudah terbawa arus framing yang di bentuk agar kita tepat dalam berbuat, bertindak dan bersikap terutama dalam menetukan pilihan, karena terjebak dalam framing pencitraan akan membuat kita salah dalam bersikap, berbuat dan memilih yang akibatnya bisa fatal.

@mps_id

Post a Comment

0 Comments