Bukan Tahun Berkabung

Oleh : Kholda Naajiyah (Redaktur Media Umat )

SEPANJANG usia, tahun ini bisa dibilang tahun terberat saya. Apakah tahun depan tidak akan lebih berat? Tentu saja. Pasti lebih berat. Tahun ini terberat dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena banyak sekali peristiwa dan kejadian yang cukup mengguncangkan jiwa.
.
Ya, betapa saya menyangka, ujian-ujian kecil pada tahun-tahun sebelumnya sudah terasa berat. Ujian keluarga, keuangan, pekerjaan, dll. Lalu perlahan-lahan mencoba untuk berdamai, melupakan. Tapi, awal tahun ini, ujian kembali melanda. Lebih berat dibanding sebelumnya. Ah, saya pun mulai melupakan.
.
Karena, seperti itulah sifat ujian. Datang dan pergi seiring waktu. Yang diuji, biasanya menjadi lebih tegar setelah menanggungnya. Hai, bukankah kita selalu membaca ayat-Nya: “Allah tidak akan menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya?” (TQS 2:286) Maka selalu yakin, setiap ujian kita pasti mampu memikulnya.
.
Sampai 19 Juli 2017, sejarah yang tak pernah terlupakan. Ujian terberat --bagi saya, dibanding ujian keluarga, harta, pekerjaan-- itu datang. Ketika pemerintah mencabut status badan hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Separuh nafas serasa melayang. Mungkin lebay, bagi mereka yang belum pernah bersentuhan dengan HTI. Tetapi tidak, bagi yang pernah merasakan lezatnya Islam yang dihidangkan melalui wadah HTI. 
.
Dan saya termasuk penikmat ilmu-ilmu Islam dari HTI. Boleh dibilang, separuh usia saya tumbuh bersama HTI. Saya tidak punya bukti kartu tanda anggota. Tetapi, pemikiran Islam yang mengalir dalam darah saya adalah jejaknya.
.
Maka ketika HTI dizalimi, saya beku. Sementara. Darah tetap bergolak. Meski hati hancur, pikiran tidak fokus, aktivitas tetap berlanjut. Belajar Islam, mengajarkan Islam, silaturahmi ke Majelis Taklim, dan menulis artikel Islam. Rutinitas. Alhamdulillah, media tempat mendakwahkan Islam masih terbit. Karena, sejatinya HTI belum 'mati'. Masih ada upaya agar status badan hukumnya dikembalikan (meski badan hukum itu hanya legalitas manusia saja).
.
Tapi, kabar sembilu datang lagi. Perppu Ormas disahkan menjadi UU Ormas yang baru. Selangkah lagi HTI benar-benar akan dihabisi. Maka, pantas jika marah dan duka kembali melanda. Karena, dakwah ke depan tidaklah sama. Tapi, darah tidak bisa membeku. Meski hati hancur sekali lagi, pikiran gagal fokus, harus tetap jernih. Ah, UU Ormas hanyalah buatan manusia. Hanya berlaku di dunia. Bukankah segala yang di dunia itu fana? Sementara?
.
Ini hanyalah ujian. Lagi-lagi ujian bagi saya. Jika nama HTI tidak boleh ada di negeri ini, sanggupkah saya tanpanya? Saya tidak sedang menyanjung HTI dengan dakwahnya yang cerdas, kafah dan totalitas. Karena yang layak disanjung adalah Islam. Kebetulan saja Islam yang saya kenal tersaji melalui nampan HTI, maka izinkan saya sekadar berterima kasih. Sebelum HTI benar-benar 'mati' (status badan hukumnya, red).
.
Ya, apalah artinya diri ini jika tidak tersentuh dakwah. Hanya, kebetulan saja dakwah yang sampai pertama-tama dan paling lama merasuk dalam jiwa saya dari HTI. Mungkin jika awal ngaji saya bertemu Muhammadiyah, NU, Salafi, Ikhwanul Muslimin, Tarbiyah atau siapalah yang membawakan Islam ke saya, sikap saya akan sama. Berterima kasih.
.
Sebab, berkat dakwah Islam, butiran debu seperti saya menjadi berarti. Saya kecil, hanyalah anak minder yang bahkan cita-cita saja tidak punya. Saya kecil hanyalah anak-anak polos yang belajar ngaji sebatas Iqro'. Membaca Alquran. Maka, kuliah dan mengenal Islam di kampus adalah hadiah terbaik dari Allah dalam hidup saya. Karena, berkat sentuhan dakwah, orang awam seperti saya menjadi hidup lebih bermakna.
.
Saya jadi tahu, tujuan hidup itu untuk ibadah. Tahu amal yang diterima Allah itu harus ikhlas niatnya dan caranya benar sesuai tuntunan syariah. Berkat ngaji dan dakwah yang saya terima, saya jadi tahu cara menjadi muslimah. Paham harus berbakti pada orang tua. Tahu bahwa wajib berdakwah. Wajib mencintai Allah dan Rasul-Nya.
.
Berkat dakwah, saya kenal ada gerakan-gerakan Islam yang bertujuan untuk melanjutkan kehidupan Islam. Belajar syariat Islam dalam segala aspek kehidupan. Dakwah itulah yang secara suka rela dan tanpa pamrih, menyodorkan pemahaman Islam dalam pengajian rutin dua jam perminggu. Bisa dibayangkan, berapa banyak pemahaman Islam yang tertanam dalam benak saya? Jika saya tuliskan semuanya, niscaya beribu-ribu artikel tiada habisnya.
.
Dan berbekal ilmu Islam ini pula saya bertemu dunia menulis. Dunia yang membuat saya ada. Dunia yang menyingkirkan sifat minder saya. Dunia yang menumbuhkan keberanian saya. Sebab, menulis itu membutuhkan keberanian. Berani menyampaikan kebenaran.
.
Menampar sekali ungkapan Umar bin Khattab: “ajarkanlah anak-anak menulis, karena menulis akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani.“ Tanpa kenal Islam, mungkin saya hanyalah pecundang. Mungkin saya akan tenggelam dalam kemaksiatan. Bahkan boleh jadi akan berdiri di barisan para pengecam Islam. Alhamdulillah, dakwah menyelamatkan hidup saya.
.
Semoga tulisan ini adalah saksinya. Bahwa saya ikut membela Islam. Membela dakwah. Karena saya ingin, umat yang awam seperti saya kecil dulu, juga merasakan kelezatan hidup bersama Islam seperti saya.  Tersentuh dakwah. Maka, ada UU Ormas atau tidak ada, dakwah tetap berjalan. Bersama atau tanpa HTI, Islam tetap harus terus disajikan.  
.
Jadi, meski tahun ini tahun terberat dibanding tahun sebelumnya, ini bukanlah tahun berkabung. Toh, esok bahkan akan lebih berat. Tetapi di balik ujian berat, selalu ada harapan. Harapan akan kenaikan level lebih tinggi. Harapan akan pertolongan Allah SWT. Dakwah bekerja untuk Allah, maka Allahlah yang akan menolongnya.

Bogor, 25 Oktober 2017.
#dakwahtidakakanmati #kamibersamaHTI

Post a Comment

0 Comments