Birokrasi Kampus Jangan Jadi Alat Gebuk Penguasa Untuk Mematikan Daya Kritis Mahasiswa

Oleh : Hikma Sanggala (Aliansi Mahasiswa Bersuara)

SUNGGUH ironi nasib mahasiswa saat ini, mahasiswa sebagai insan intelektual dengan jiwa kritisnya justru dikebiri oleh institusi tempat mereka bernaung. Pasca seruan aksi 299 untuk menolak Perppu Ormas dan Kebangkitan PKI oleh beberapa elemen mahasiswa SULTRA yang viral dimedsos sebagai bentuk dari penunaian hak konstitusi mereka sebagaimana dijamin dalam undang-undang No. 9 tahun 1998 tentang mengemukakan pendapat dimuka umum, pasal 2 ayat (1) disebutkan :
“Setiap warga Negara, secara perorangan atau kelompok, bebas menyampaikan pendapat sebagai perwujudan hak dan tanggung jawab berdemokrasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”.

Namun penyaluran aspirasi mahasiswa dalam hal melaksanakan hak konstitusionalnya ini dinilai negative oleh pihak birokrasi lalu kemudian melakukan tindakan sewenang-wenang mulai dari skorsing, persekusi , larangan untuk masuk lembaga dakwah dan ancaman Do pun tak luput di lontarkan.
Pasca keluarnya perppu Ormas no.2/2017 yang memang didesain oleh rezim ini untuk membungkam suara-suara kritis seluruh elemen masyarakat, tak terkecuali mahasiswa juga tak luput dari sasaran gebuk Rezim Perppu ormas.
Jadi sangat wajar ketika mahasiswa yang menyerukan untuk penolakan terhadap Perppu ormas ini menjadi Sasaran gebuk Rezim represif melalui perpanjangan tangan kampus. Sangat disayangkan, tindakan penguasa untuk membungkam suara-suara kritis mahasiswa justru diAminkan oleh pihak Birokrasi Kampus. Lembaga kampus yang diharapkan menjadi lembaga yang netral dengan tetap konsisten terhadap tridarma pendidikan justru menjadi alat politik penguasa untuk terus membungkam dan mengintimidasi suara kritis mahasiswa terhadap rezim.

Mahasiswa Tak Lagi Seperti Dulu

Kondisi mahasiswa saat ini sangat jauh dari apa yang tergambar dengan mahasiswa dalam pentas sejarahnya, kampus hari ini menjadi sepi ibarat kuburan, tidak ada lagi teriakan-teriakan Revolusi dan Perubahan dari para mahasiswanya, daya kritis mereka telah rapuh. Efeknya mahasiswa menjadi Hedonis, apatis dan opurtunis. Padahal masalah dinegeri ini sudah terlalu banyak yang seharusnya dipikul dan diselesaikan oleh mahasiswa. Mulai dari kenaikan tarif daya listrik, Penghapusan subsidi BBM, peguasaan SDA oleh asing, korupsi dll. Mahasiswa saat ini hanya terfokus pada penyelesaian akademik, takut untuk mengkritik kebijakan penguasa karena  dianggap melanggar regulasi kampus.

Olehnya itu mahasiswa harus bangkit, jangan biarkan rakyat berjuang sendiri melawan kekuasaan tirani, tetaplah menjadi kebanggaan ummat yang terpercaya.

Raihlah fitrahmu kembali sebagai penggagas perubahan Islam.. Allahuakbar.[Mahasiswa Bersyariah]

Post a Comment

0 Comments