Bila Si Kecil Agresif

RemajaIslamHebat.Com - "Bu, kenapa ya anak saya suka sekali memukul orang lain jika marah? Bukan hanya itu, dia bahkan sering menyakiti diri sendiri, seperti membenturkan kepalanya ke tembok. Saya kewalahan,” keluh seorang ibu muda tentang anaknya yang berusia balita.

Ayah Bunda pernah mendengar kasus serupa? Atau bahkan mengalami sendiri?

Perilaku agresif pada anak-anak sudah menjadi pemandangan sangat biasa. Seorang anak bisa marah membanting kotak makannya hanya karena tidak suka dengan warnanya. Sering juga kita jumpai seorang anak yang menangis berteriak di supermarket karena tidak dibelikan mainan yang dia inginkan.

NORMALKAH ANAK BERPERILAKU AGRESIF?

Perilaku agresif adalah suatu tindakan kekerasan untuk melukai orang dalam kemarahannya. Biasa dilakukan dengan menendang, memukul, berkata kasar dan sejenisnya.

Sebetulnya, anak usia 2 – 3 tahun memukul dan menggigit orang lain masih termasuk kategori normal. Perilaku ini menjadi bagian dari perkembangan mereka. Pada usia ini anak membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan emosi dan tiap anak perlu belajar membela diri.

Anak tidak perlu dimarahi atau dihukum, tetapi bukan berarti dibiarkan saja, anak perlu diajarkan mengendalikan diri dan menyalurkan emosinya secara tepat.

Diharapkan setelah melewati usia 7 tahun, anak sudah lebih bisa mengendalikan diri untuk tidak menyelesaikan masalah dengan perilaku agresif. Tetapi, bila keadaan ini menetap, maka ada indikasi anak mengalami gangguan psikologis.

Dampak utama dari perilaku agresif ini adalah anak tidak mampu berteman dengan anak lain. Keadaan ini menciptakan lingkaran setan, semakin anak tidak diterima oleh teman-temannya,maka perilaku agresif yang ditampilkannya semakin menjadi.

APA PENYEBAB PERILAKU AGRESIF?

Ada banyak faktor yang melatarbelakangi anak bertindak agresif , diantaranya :

Pengaruh genetik.
Meniru orang dewasa di sekitarnya.
Meniru adegan kekerasan di TV, Gadget dan sejenisnya.
Kesulitan menghadapi perubahan (perubahan di sekolah, atau pindah tempat tinggal).
Pengasuhan yang salah. Terlalu ketat mengekang atau malah terlalu toleran dan memanjakan.
Konflik dalam keluarga.
Dicegah untuk melakukan sesuatu yang ingin dia lakukan.
Merasa tidak dicintai atau tidak nyaman, bisa karena sering dihukum, dikritik atau direndahkan harga dirinya.
Berebut mainan.
Merasa cemburu, misalnya mempunyai adik baru.
Merasa lelah dan lapar.
Gangguan pendengaran.

BAGAIMANA CARA MENGHADAPI ANAK AGRESIF?

Hindari bernada tinggi saat menegur anak, agar ia tidak merasa terintimidasi. Cermati apakah perilakunya memang bisa menimbulkan kerusakan atau berbahaya. Bila memang Ayah Bunda tidak ingin terjadi kerusakan, minta barang itu baik-baik.

Jangan terpancing membalas kemarahan ananda dengan kemarahan pula, seperti menghukumnya dengan memukul. Ingat, anak-anak cepat menyerap perilaku negatif disekitarnya.

Hargai perasaan anak, karena mengekspresikan perasaan adalah hal yang sangat manusiawi, termasuk rasa marahnya. Ajarkan anak mengenali emosinya lalu sampaikan empati Ayah Bunda.

Dengarkan pendapatnya, meski terdengar aneh dan tidak logis sekalipun. Anak harus tahu bahwa pendapatnya Ayah Bunda dengarkan dan ia punya peran penting dalam keluarga.

Beri pujian saat ia mematuhi larangan atau permintaan Ayah Bunda. Pujian positif bagi usahanya tanpa melihat hasilnya, dapat mengangkat hargadirinya.

Ajarkan anak untuk mengendalikan emosi dan cara menyalurkan emosinya dengan benar. Misalnya “Kalau Maya marah, coba deh ikut ibu tarik napas dalam-dalam seperti ini lalu keluarkan,” Ayah Bunda bisa menggunakan buku atau cerita tentang marah, atau gunakan boneka mainan, misalnya memakai boneka yang sering dipakai anak untuk melampiaskan kemarahannya, dengan berdialog pura-pura : “Aku marah sama kamu. Lain kali kamu ngomong baik-baik, ya!”

Mulai usia dua tahun, Ayah Bunda bisa mengajarkan anak tentang konsekuensi sebab akibat, misalnya, "Kalau Adam teriak-teriak terus, Ayah tidak mau bermain dengan Adam.”

Ajak anak meminta maaf kepada teman atau orang lain yang disakiti olehnya.

Banyak luangkan waktu bersama anak. Bermain bersama anak akan menciptakan kedekatan antara Ayah Bunda dan ananda. Anak yang dekat dengan orangtuanya akan berusaha menyenangkan hati orangtua, terutama dengan berbuat baik.

Anak dengan perilaku agresif membuat orangtua sangat khawatir dan cemas, karena si kecil yang marah dapat menyakiti orang lain maupun dirinya sendiri. Sebenarnya saat melakukannya, anak tidak menyadari dan mengerti bahwa itu menyakiti orang lain.

Biar bagaimanapun, menunda tindakan dalam mengatasi perilaku anak agresif dengan berfikir akan menghilang sendiri merupakan kesalahan umum yang dibuat kebanyakan orangtua. Akan lebih baik jika Ayah Bunda mengambil tindakan cepat dan sesuai untuk mengendalikan perilaku agresif ini sejak dini.

Salam,
Admin El-Hana Learning Kit

Sumber Bacaan ⤵

Balitakusayang.blogspot.co.id

Sumber:

Fb: El-Hana Learning Kit

Post a Comment

0 Comments