Balasan Pahit Seorang Istri

Oleh : Deassy M Destiani

Banyak kisah memilukan dalam rumah tangga biasanya yang menjadi korban adalah seorang istri. Namun kisahku ini berbeda. Aku seorang suami. Kami menikah sudah 20 tahun. Pada tahun ke 15, rumah tangga kami sempat diguncang prahara. Istriku meminta cerai karena menganggap aku sebagai suami tidak melaksanakan kewajiban.

Aku sampai  heran, kewajiban mana yang dia maksud. Selama ini aku punya pekerjaan tetap. Gaji antara 8 sd 10 juta perbulan. Semua uang gajiku yang memegang istriku. Aku terkadang hanya diberikan uang Rp.300.000 saja untuk keperluanku sebulan. Bahkan seringkali aku malu di depan anak buahku, karena sebagai manager aku tidak pernah mentraktir mereka.

Kami sering bertengkar hebat untuk masalah yang sangat sepele. Misalnya hanya karena aku lupa telpon untuk mengabarkan pulang telat, sebab direksi mendadak memanggilku seusai jam kantor. Baru saja satu jam aku meeting dengan direksi, istriku sudah telpon. Ketika aku bilang bahwa aku sedang meeting, dia tidak terima,  dan menyuruhku pulang saat itu juga. Mana bisa? Aku akhirnya mematikan gawaiku. Namun apa yang terjadi, istriku menelpon hampir semua anak buahku di kantor yang dia kenal. Dia menyuruh anak buahku untuk menyampaikan pesannya bahwa istriku menunggu dia di rumah dan meminta gawaiku dinyalakan. Bagaimana aku tidak malu dengan perilaku istriku itu?

Namun aku bersabar. Demi anak-anak aku selalu meredam amarah. Setelah pulang ke rumah meski disambut dengan muka masam dan tidak ada hidangan di meja makan, aku tetap tersenyum padanya. Istriku tahan mendiamkan aku selama berhari-hari. Terkadang aku sampai tidur di kamar anakku karena pintu kamar dikunci olehnya.

Hingga suatu hari dia mengajukan gugatan cerai padaku. Alasannya rumah tangga kami tidak ada kecocokan lagi. Aku mau tidak mau menerima gugatan itu. Jika bercerai memang membuatnya bahagia, ya sudahlah. Aku juga tidak ingin memaksakan jika istriku memang tidak ingin bersamaku lagi. Akhirnya kami berpisah di tahun ke 15 pernikahan kami.

Aku memilih keluar dari rumah dan kos di dekat kantor.  Jadi aku seringkali lembur di kantor   karena tidak ada yang harus aku lakukan di kosan. Terkadang anakku datang menemuiku di kosan. Aku mengajaknya makan di luar. Karena kamar kosku sangat sempit. Hanya muat untuk satu orang saja.

Anakku sering memintaku untuk meginap di rumah kami. Karena istriku sering keluar kota katanya untuk urusan bisnis. Akhirnya aku mengalah. Karena rasa sayang pada anakku, jika istriku ke luar kota, maka aku tinggal di rumah menemani anak-anak. Tanpa sengaja kami menjadi sering bertemu lagi di rumah, sikap istriku berubah menjadi baik. Apalagi anak-anak sering menggoda kami untuk tidur berdua lagi. Mungkin memang takdir Allah juga yang memutuskan. Akhirnya istriku memintaku untuk menikahinya lagi.

Tanpa pikir panjang, demi anak-anakku, maka permintaan istriku itu segera saja aku sanggupi. Lagipula aku lihat istriku sekarang sudah banyak berubah. Dia tidak se-emosional dulu. Sikapnya lebih dewasa dan mau menerima segala kekuranganku. Akhirnya kami menikah lagi disaksikan anak-anak dan juga kedua orangtua kami. Aku pun pindah lagi ke rumah bersama istri dan anak-anakku.

Tiga tahun berlalu. Suatu hari aku ditawarkan pensiun dini oleh perusahaan. Alasan ada efisiensi membuat karyawan ditawarkan beberapa pilihan. Mau dirumahkan tapi tidak mendapat gaji atau pensiun dini dengan mendapat pesangon. Setelah diskusi dengan istri, maka kami memutuskan untuk pensiun dini, karena uang pensiunnya cukup lumayan. Sekitar Rp. 300.000.000 bisa aku dapatkan.  Maka setelah mengurus semua administrasi, uang pun keluar. Istriku meminta semua uangnya karena katanya akan digunakan untuk investasi pendidikan anak-anak. Tanpa pikir panjang aku serahkan semua uangnya, tidak terpikirkan olehku untuk mengambil sedikitpun.

Setelah pensiun dini, aku kemudian bisnis Event Organizer dan melamar menjadi dosen di sebuah kampus swasta berbekal pengalaman kerja dan ijasah S2 pemasaran. Alhamdulillah pekerjaan sebagai Event Organizer dan dosen mencukupi kebutuhan sehari-hari kami. Namun istri mulai uring-uringan lagi. Melihat aku lebih banyak di rumah dia sepertinya tidak suka. Dia ingin suaminya setiap hari kesana kemari dan pulang membawa uang. Sementara menjadi EO dan Dosen biasanya jadwalnya menyesuaikan dengan acara atau jam mengajar.

Kami mulai sering bertengkar lagi. Puncaknya adalah saat aku menemukan istriku tengah berselingkuh dengan seorang lelaki yang umurnya lebih muda dari istriku. Dia adalah orang yang dikenalkan sebagai teman bisnis istriku. Namanya Yudi. Aku menemukan istriku di rumah sedang bersama pemuda itu di dalam kamarku sedang berduaan. Gemetar aku melihat mereka.  Istriku tidak menyangka aku akan pulang. Sebab harusnya aku mengajar sampai malam. Namun waktu itu aku merasa tidak enak badan sehingga memutuskan untuk pulang.

“Ngapain Yudi ada di kamar sama kamu berdua?” bentakku marah, gigikku sampai gemeretak.

“Eu..eu...eu... maaf Pah... aku khilaf”. Istriku menjawab sambil menarik selimut menutupi tubuhnya yang tersingkap.

“Dasar perempuan tidak tahu malu, kamu yang meminta cerai dari aku, kamu juga yang meminta aku menikahi kamu lagi, sekarang ini balasannya padaku? Apakah selama ini pernikahan kita hanya sandiwara saja? ”

Aku menyeret Yudi yang masih belum berpakaian lengkap. Dia tidak berkutik. Mukanya merah menahan malu yang amat sangat. Selama ini aku mengenal dia sebagai pemuda baik-baik. Belum menikah namun ulet dan mau bekerja keras. Tetapi ternyata pemuda ini menodai istriku meksipun aku pikir mereka melakukannyaa atas dasar suka sama suka. Aku gampar dia bulak balik di pipinya. Hingga biibirnya mengeluarkan darah. Istriku berteriak meminta maaf, dan memohon padaku untuk menghentikannya.

“Sudah Pah..cukup... Yudi tidak bersalah. Aku yang menggodanya. Aku melakukaan ini semua karena tidak suka dengan caramu. Kamu kasar, Yudi bisa bersikap lembut padaku”.

“Apa kau bilang? Kamu membandingkan aku dengan pemuda ingusan macam itu? Kemana saja kamu selama kita menikah 20 tahun ini? Mengapa kamu selalu mencari kekurangaku? Padahal aku tidak pernah sedikitpun mencari kekuranganmu?

Apa kamu tahu sebagai istri kamu itu tidak menarik bagiku. Badanmu gemuk, tukang marah, mempermalukan suami, menghabiskan uangku, gak pernah masak, bicaramu kasar, sama anak-anak tidak dekat. Apa kamu tidak ngaca sama diri kamu sendiri?

Apa coba kelebihanmu? Apa kamu pikir kamu itu mahluk sempurna karena aku tidak pernah mengungkit kekuranganmu?    Harusnya kamu bersyukur punya suami yang gak pernah protes dengan istrinya yang super egois kayak kamu ”. 

Istriku terdiam dan hanya bisa menangis saat aku balik membentaknya.  Harga diriku sebagai seorang suami sangat terluka. Mengapa istriku  tega melakukan semua ini padaku?  Aku sadar banyak kekuranganku tetapi bukankah istriku juga banyak kekurangannya? Aku tak pernah membandingkan istriku dengan orang lain. Namun mengapa dia  selalu mencari kesalahanku? Tidak ada satupun tindakanku yang benar di matanya.

Sebagai kepala keluarga aku juga sangat memperhatikan kebutuhan anak-anak. Terutama masalah kasih sayang. Karena segala keperluan sekolah, pakaian, uang jajan dsb sudah aku serahkan pengelolaannya pada istriku. Anak-anakku sangat dekat denganku. Malah jika sedang libur bekerja, mereka lebih memilih untuk dekat denganku dibanding ibunya. Aku juga sering menjadi penengah diantara anak-anak dan Ibunya yang memang keras dalam mendidik anak. Kedua anakku laki-laki. Mereka sudah beranjak dewasa sekarang. Anak pertama umur 19 tahun dan anak kedua umur 15 tahun. Ah kasian sekali mereka menjadi korban kebodohan orangtuanya ini.

Yudi sepertinya langsung keluar melihat kami berdua bertengkar hebat. Kudengar deru raungan motornya di garasi. Mungkin dia memanfaaatkan kesempatan daripada kena bogem mentah dariku lagi. Aku dulu pernah ikut Taekwondo,  jadi tenagaku masih terasa jika memukul orang. Apalagi ini sambil emosi dan marah.

Kubiarkan istriku menangis sendiri di kamar. Aku tinggalkan dia dan pergi dari rumah sambil membawa beberapa pakaian. Aku kembali ke kosanku dulu. Hari ini aku putuskan, aku akan menceraikan istri yang berkhianat itu. Anak-anak pernah merasakan kami bercerai, maka jika ini kami ulangi kembali sepertinya mereka sudah tahu bahwa pernikahan kami memang tidak bisa dipertahankan.

Itulah kisahku. Pernikahan 20 tahun yang berakhir dengan perceraian. Bahkan bercerai untuk kedua kalinya dengan orang yang sama. Bodohnya aku, mengapa dulu mau menerima dia kembali sebagai istriku lagi. Ah biarlah semua itu menjadi kenangan pahit buatku. Aku hanya berharap anak-anak bisa belajar dari pengalaman hidupku. Bukan mencontoh orangtuanya yang tidak benar ini.

(Based On True Story )

Post a Comment

0 Comments