Balada Emak-emak Olshopper

RemajaIslamHebat.Com - Emak-emak olshopper merasa terbully? Yeah, ada akun yang gerah dengan para olshopper di medsos. Katanya, dia udah beli kuota mahal-mahal, pengin dapat ilmu/informasi seputar agama, kesehatan, pendidikan, kuliner atau berita lokal maupun internasional yang lagi viral. Tapi, ternyata pas buka FB dan IG, isinya 85 persen orang jualan. Katanya lagi, sekarang medsos bukan lagi lahan mencari ilmu, melainkan mencari nafkah.
.
Sontak para olshopper baper. Ribuan olshopper ngontrog akun di mbak. Kebanyakan, so pasti emak-emak. Awalnya marah-marah, eh tapi malah pada buka lapak di kolom komentar. Jadi pasar kaget deh, akun si embak. Bikin saya nggak habis ketawa ngakak. Hellow, hati-hati melawan emak-emak olshopper. Bisa kelar idup, lo!
.
BTW, saya jadi bertanya, serius mau nyari info-info terkini seputar agama, kesehatan dll, di medsos? Kalau iya, berarti bertemannya pilih-pilih aja. Cukup dengan mereka-mereka yang kita tahu suka sharing ilmu. Sama para profesor, pakar, kiai, ulama, ustaz-ustazah, dokter, doktor, ilmuwan atau tokoh-tokoh publik nan cerdas lainnya. Kaliber mereka, emang bisa sih kita dapatkan ilmu.
.
Tapi, seberapa banyak tipe temen kita yang seperti itu? Karena, teman-teman di medsos itu sangat heterogen. Lagipula, sejatinya media sosial itu lahir sebagai sarana untuk bersosialisasi. Berteman. Menjalin hubungan. Kalau nggak mau beranda penuh dagangan, ya udah jangan berteman sama pedagang. Unfriend aja. Simple.
.
Kalau teman-teman saya sih, alhamdulillah, meski kebanyakan juga emak-emak olshopper, sebagian juga para ilmuwan. Maksudnya, punya ilmulah meski nggak dibilang pakar. Dan, mereka juga nggak pelit berbagi. Ada yang bagi resep, ilmu parenting, tips keluarga, fikih, ilmu Islam dan sebagainya. Termasuk emak-emak olshopper, jadi tempat berbagi ilmu muamalah juga.
.
Apalagi teman-teman saya yang bergabung di Komunitas Belajar Nulis. Saya punya semacam motto, wajib bagi yang berilmu untuk menulis. Karena kalau bukan yang berilmu, nanti orang-orang yang tidak berilmu yang akan menyebarkan kebodohan dan kesesatan. ‍‍
.
BTW, sejatinya, nggak ada yang berhak mengatur-atur isi status masing-masing pemilik akun media sosial. Harus ilmu semua, misalnya. Makanya beranda sangat beragam. Mulai curhat baperan, amar makruf nahi munkar, sampai jualan demi transferan. Sah-sah aja kok. Yang penting positif. Cuma satu yang membatasi: syariat Islam. “Status saya melanggar hukum syara' nggak. Melanggar adab Islam nggak.” Itu aja yang jadi rambu-rambunya.
.
Misal, tidak memposting foto atau capture chatting mesra bin mesum antara lawan jenis, meski itu suami-istri. Sebab, hubungan jinsi yang masuk ranah gharizah nau' (naluri kasih sayang) adalah masalah privat yang di dalam Islam tidak boleh dipublikasikan. Bagaimana dengan foto suami plus tiga istri yang sedang viral? Kan cuma foto doang, nggak lagi mesra-mesraan. Istri sendiri ini, bukan istri orang. #Eh, stop! Nanti mbahas poligami lagi!
.
Kembali ke laptop. Nah, kenapa para pemilik akun jualan di medsos? Ayolah, sekarang zaman sudah berubah. Medsos udah menjelma menjadi ajang bisnis yang menjanjikan. Namanya aja media, berarti untuk menyampaikan informasi. Termasuk informasi seputar produk-produk atau jasa. Banyak loh, barang-barang inovatif yang nggak kita temukan di toko-toko offline, adanya di online. Di para pelapak medsos. Ah, banyak contohnya. Nggak habis kalau di-list satu-satu.
.
FB dan IG adalah sarana termudah dan termurah bertemu buyer potensial. Bayangin, kalau kita jualan oflline, bisa gak dalam waktu singkat ketemu ribuan orang untuk mempromosikan dagangan? Sulit! Hanya bisa dilakukan di medsos. Iklan di media cetak? Udah nggak zaman! Di portal resmi? Mihil, Mak! Di akun masing-masing masih bisa gratis. Kalau mau lebih luas jangkauannya, bisa berbayar pakai FB Ads, yang sudah banyak membantu para olshopper untuk mendulang rupiah (dan ini yang sekarang kerap wara-wiri di beranda kita, iklan berbayar).
.
Tetapi, tentu saja ada etika dan adabnya. Misal, yang paling banyak dikeluhkan dan mengganggu adalah para olshopper yang suka tag teman-temannya tanpa permisi. Broadcast dagangan tiada henti. Tidak kenal waktu; pagi, siang, sore malam hingga dini hari, gigih menawarkan dagangan. Yah, kalau seperti ini, memang mengganggu kenyamanan. Silakan diblokir sajalah.
.
Jadi, kalau mau dagangannya laris, orang tetap empati, rezeki juga berkah, etika seperti ini harus diperhatikan. Walaupun, para pakar marketing medsos itu selalu menyarankan, buatlah iklan sesering mungkin. Update status dagangan sesering mungkin. Tapi, ada cara-caranya. Misalnya, pakai teknik copywriting, covert selling, soft selling, heart selling, dll. Macam-macamlah istilahnya. Banyak ilmu seperti ini diajarkan (boleh belajar sama saya #eaa).
.
Yang jelas, medsos itu multiguna. Dengan berdagang, minimal bisa menjadi solusi atasi pengangguran. Banyak orang yang kelihatannya nggak kerja, cuma ngalor ngidul nggak jelas. Hari-hari cuma nimang-nimang hape, justru  transferannya ngalahin orang kantoran (bukan saya loh, ya, nanti minta ditraktir lagi ).
.
Orang yang di dunia nyata tidak bisa jualan, jadi bisa jualan kalau di medsos. Nah, kalo ini saya banget. Asli, kalau disuruh jualan di dunia nyata, saya nggak pede. Tapi online, bisa. Saya punya fanspage geraimuslimbogor yang jual alat-alat rumah tangga. Waktu zaman Happy Call booming, lumayan juga transferannya. Nggak kebayang, andai disuruh jualan offline, nyerah deh! #yanginimengandungiklan
.
Online shop juga membantu mereka yang nggak bisa cari duit keluar rumah. Yeah, emak-emak militan contohnya. Bayangin, bisa sambil dlosoran (rebahan, red), sambil nyusui anak (meski ini nggak disarankan), sambil ngelipet jemuran, nungguin cucian, masih bisa closing transaksi pembelian. Luar biasa. Emak-emak zaman now!
.
Dari sisi buyer, juga membantu mendapatkan barang yang diinginkan tanpa keluar rumah. Yeah, emak-emak zaman sekarang lebih suka belanja via hape. Rasanya itu sensasional. Happy-happy cemas menunggu si Mas Ekspedisi “menyerahkan hadiah”; padahal dia sendiri yang mbayari (kode buat para suami nih, jangan sampai mas-mas ekspedisi lebih ditunggu daripada Anda. Kasihlah emak-emak hadiah!).

.
Oh ya, beberapa hari kemarin, saya dapat inbox seorang istri yang curhat tentang suaminya. Karena LDR, suami kurang memperhatikan masalah nafkah. Pernah, anak sampai nangis karena lapar, digendonglah ke ATM dan ternyata tidak ada transferan. Sementara dari pagi sampai sore HP sang suami tidak bisa dihubungi. Otomatis tidak bisa belanja. Sambil menangis, akhirnya si istri utang ke warung untuk memenuhi kebutuhan makannya.
.
Di situ saya ingin memeluk. Membisiki solusi, bagaimana kalau mbak coba jualan? Kalau gak bisa offline, online saja. Solusi sementara, sambil membujuk suami agar menyudahi LDR-nya. Merayu suami, agar lebih peduli dengan uang nafkahnya. Karena, hari ini banyak sekali emak-emak yang terpaksa membantu para tulang punggungnya. Banyak alasannya. Ah, hanya emak-emak yang tahu rasanya.
.
Walaupun, ada juga emak-emak yang jualan bukan semata karena uang, tapi hobi. Uang nafkah sudah cukup kok, tapi masih gatel pengin jualan. Soalnya seru aja. Apalagi yang karakternya memang marketing banget. Segala di tangannya jadi uang. Ada loh, yang begitu. Banyak malah. Ah, cuma emak-emak yang bisa begini.

Lebih dari itu, motif jualan kadang-kadang juga untuk menolong orang. Uang belanja cukup sih, tapi kalau ada yang menyodori keropak minta sumbangan, nggak tega minta suami. Ada tetangga meninggal, buat takziyah nggak perlu deh ambil uang belanja. Temen sakit butuh ditengok, adalah uang hasil jualan. Sahabat melahirkan, sedikit kado buat menambah ukhuwah. Orangtua minta transferan, insya Allah diada-adakan. Ah, cuma emak-emak yang merasakan.
.
Maka, jika hari ini beranda emak-emak banyak menawarkan dagangan, maklumilah. Empatilah. Mereka hanya mencari solusi atas permasalahan hidupnya. Permasalahan yang tidak perlu diekspose, sekadar mengetuk pintu kasihan. Karena di balik semangat ngelapak, ada banyak motivasi terpendam. Ah, cuma emak-emak yang merasakan.
.
So, buat emak-emak olshopper, angkat jempol buat militansi kalian. Lanjutkan perniagaanmu, Mak! Engkaulah “Khadijah” bagi suami tercinta. Semoga ikhtiarmu berpahala. Rezeki lewat tanganmu bermanfaat. Berkah dunia akhirat. Peluk!(*)

.
.
Bogor, 10 Oktober 2017

Penulis : @asrisupatmiati
Owner Geraimuslimbogor
Founder Komunitas Belajar Nulis
Penggagas Revowriter
.
NB: Panggil emak-emak olshopper, yang mau ngelapak di komentar, silakan hahaha...

Post a Comment

0 Comments