Bagaimana Menjadi Seorang Guru dalam Islam (Bag. 1)

Oleh: Ummu Shuhaib

Akhlak Islam telah hancur akibat dari serangan pemikiran kufur ke negeri-negeri muslim.  Kerusakan moral menyebar luas atas nama kebebasan, demokrasi dan sebagainya yang tampak manis di luar namun busuk didalam. Tujuannya untuk merusak pemuda, membuang energi mereka dan menggiringnya pada hal-hal yang tidak bermanfaat.  Karena itulah ajakan untuk melakukan Amar ma’ruf dan Nahi Munkar menjadi kewajiban bagi setiap individu muslim, sesuai dengan pekerjaan, peran dan potensinya masing-masing. Semua berkontribusi untuk kebangkitan umat, mengembalikannya pada posisi yang tinggi, kembali memimpin dunia sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya. 

Peran yang paling penting adalah sebagai guru, pewaris dakwah para Nabi, pembina dan pencetak generasi masa depan yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan kita, kehidupan anak-anak kita, sikap dan perilaku anak-anak kita, bahkan kecenderungan dan aspirasi mereka.  Guru, mengemban amanah agung yang jika dilakukan semata untuk mendapat ridlo Allah SWT, ia akan menjadi cahaya.  Namun sebaliknya, ia akan menjadi api (di neraka).  Maka tidak tugas paling mulia dan peran paling agung selain itu, dan bukankah Nabi kita Muhammad SAW adalah seorang guru?

Allah SWT berfirman:

Artinya: Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.  [Al-Baqarah: 151]

Imam Al-Ghazali memuliakan profesi guru, beliau mengatakan "Siapa saja yang berilmu dan mengajarkannya, maka ia disebut ‘orang besar’ di segenap penjuru langit”. 

Peran inilah yang sekarang dilakukan oleh musuh-musuh Islam dengan beragam cara, dan dengan keji mereka mengambil alih peran pendidikan dan memberi pengaruh buruk dalam proses pembentukan kepribadian dan kecenderungan generasi di atas Aqidah Islam. Mereka kosongkan benak pemuda muslim dan laksana air tawar yang bisa diwarnai apa saja, dengan pengajaran musuh, pemuda muslim membenci sejarah umatnya dan berburuk sangka bahwa Islam lah yang menjadi penyebab kemunduran, kelemahan dan kehinaan umat.

Wahai para Guru, apakah Anda pernah bertanya pada diri sendiri, mengapa Anda menjadi seorang Guru? Mengapa Anda memilih peran ini sebagai jalan hidup?  Mengakui hal ini dengan jujur dan terbuka, akan menentukan jati diri Anda, hubungan dan pendekatan yang Anda lakukan.  Dan ketika kita melihat ke sekitar, maka akan kita temukan spektrum guru sebagai berikut:
Pertama, ada guru yang melihat pendidikan sebagai satu-satunya pekerjaan yang tersedia baginya, bukan menjadi keinginan atau kepentingannya, melainkan hanya pekerjaan dimana ia akan mendapatkan gaji dan rezeki.  Seandainya ia bisa mencari pekerjaan lain dan memperoleh pemasukan yang lebih besar tanpa harus menanggung sulitnya pendidikan. 

Kedua, guru yang mengeluh dan meratapi dirinya karena beban mengajar yang rumit dan kurangnya gaji, dibandingkan dengan rekan-rekan yang telah memilih pekerjaan selain pendidikan.  Ketiga, guru yang perhatian utamanya pada penyelesaian bahan ajar yang diwajibkan pada murid dan tidak menghubungkannya dengan realitas, Aqidah, iman, akhlak dan menanamkannya pada perilaku dan pemahaman muridnya. Dan ia tidak memperhatikan apa yang terjadi di luar kelas meskipun itu kerusakan, bahkan ia tidak berfikir untuk menjelaskan kesalahannya kepada murid. Ia benar-benar terpisah dari realitas murid-muridnya, masyarakat dan juga bangsa. 

Dan yang keempat, kelima, keenam yang memenuhi dunia pendidikan dengan citra negatif dan pengaruh buruk di berbagai institusi masyarakat. Untuk itu harus curahan upaya dan inovasi, motivasi dan keikhlasan untuk mengubah orang-orang seperti itu, karena demikianlah kondisi dan cara pandang mereka hari ini.

Lantas, sifat-sifat apa yang mesti dimiliki seorang guru agar sesuai dengan hadis Rasulullah SAW berikut?

Artinya: “Sesungguhnya Allah, malaikat serta penghuni langit dan bumi sampai-sampai semut yang berada di sarangnya dan juga ikan senantiasa memintakan rahmat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia”. (HR. at-Turmudzi). 

Dan sifat apa yang mesti dimiliki penerus risalah para Nabi seperti yang disabdakan Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a:

Artinya: Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain. (Shahih Muslim No.1352)

Sifat yang paling utama adalah Takwa dan Ikhlas karena Allah.  Seorang guru dengan ilmu dan penguasaan pendidikannya wajib hanya mencari ridlo Allah, bukan karena gaji, pujian dari atasannya, demi ketenaran, promosi jabatan ataupun yang lainnya.

Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

Artinya: “Siapa pun yang mempelajari suatu ilmu yang difokuskan mengharap pada ridho Allah SWT, tetapi ia mempelajari ilmu hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi semata, maka ia tidak akan mencium wangi surga di akhirat nanti”.

Seorang guru harus meniatkan pengajaran pada muridnya untuk kebaikan umat dan Islam. Imam al-Nawawi mengatakan: "Wajib bagi guru untuk mencari ridlo Allah, dan tidak ditujukan untuk capaian duniawi. Mesti hadir dalam benaknya bahwa mendidik adalah ibadah, agar menjadi dorongan untuk memperbaiki niat, dan motivasi untuk menjaga dirinya dari kekhawatiran dan segala hal yang tidak disukainya, dan khawatir hilangnya keutamaan dan kebaikan yang besar".

Hilangnya sifat takwa dan ikhlas akan memunculkan kemunafikan, kemalasan dan kelalaian.  Sehingga akan menghasilkan pemuda dengan tsaqofah yang dangkal dan aqidah yang lemah, tidak peka dan faham akan masalah umat, alih-alih menjadi pelopor dalam kebangkitan umat, yang ada justru menjadi beban.  Sudah difahami bahwa guru akan mendapat gaji setiap bulan baik apakah dia ikhlas atau pun tidak, karenanya keikhlasan dan ketakwaan pada Allah menjadi hantaman fatal dalam pendidikan.  Karenanya wajib bagi guru untuk terampil dalam materi pengajaran yang dipelajarinya, menarik dalam cara penyampaian ilmu kepada murid-muridnya.

Termasuk sifat penting bagi guru adalah sabar, bijaksana, panjang pemikiran.  Wajib bagi guru pendidik sebagai pencetak generasi untuk mengikuti metode dan aqidah Laa Ilaha illallah Muhammad ar Rasulullah agar menjadi sabar dan bijak sehingga ia dapat memikul tugas.  Dan untuk kesabaran dan kebijaksanaannya itu telah disediakan pahala besar disisi Allah SWT, sebagaiman firman-Nya:

“ …Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar …”.

Begitupun baginda Rasulullah SAW menyuruh bersabar, bahkan dalam situasi yang sulit. Panjang pemikiran dan keluasan hati adalah perkara penting terutama saat guru menyadari bahwa pahala dari Allah tengah menanti dan bahwa murid-muridnya itu adalah amanah yang diletakkan di atas pundaknya. Hendaknya guru menyadari bahwa setiap murid mempunyai kemampuan dan kecenderungan yang berbeda-beda, punya keinginan, punya masalah dan perhatian yang berbeda. 

Dan guru adalah ayah dan pendidik bagi mereka yang mesti meluaskan hatinya untuk mereka, menyayangi dan mengasihi, lembut dan bersabar atas sulitnya mengajari mereka dan menjelaskan pemikiran kepada mereka dengan ragamnya kemampuan, keinginan, perilaku dan tingkat berfikir mereka, karena diantara murid ada yang mampu memahami ungkapan dan pelajaran dengan satu kali penjelasan, dan ada yang mesti berulang kali dan dengan penjealasan yang rinci.

Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Akan tetapi, Allah mengutusku sebagai seorang pengajar (guru) dan pemberi kemudahan.” (HR. Muslim). 

Namun kita lihat beberapa guru – semoga Allah memberi mereka petunjuk – tidak mempunyai kesabaran dan kasih sayang sedikitpun.  Hanya memarahi muridnya ketika ia tidak faham satu masalah dan mengerti apa yang diminta gurunya, dia akan terlihat marah dan meledak emosinya ketimbang bersikap sabar, bijak dan berusaha menghadapinya, kadang ia mengeluarkan kata-kata dan bersikap yang menyakiti perasaan muridnya. Karenanya seorang guru harus bisa mengendalikan diri, bersabar, merenung, dan mengelola emosinya terhadap pertanyaan-pertanyaan murid, meski terkadang terjadi kejenuhan. 

Kita diingatkan dengan kisah Mu’awiyah bin al-Hakam, r.a. saat ia mengikuti sholat jama’ah dan ia belum tahu bahwa berbicara ketika sholat itu diharamkan.  Seorang sahabat bersin, kemudian ia menegurnya, sahabat lain mengingatkannya dengan isyarat, namun ia tidak faham dan melanjutkan kalimatnya.  Ketika sholat usai, Rasulullah SAW memanggilnya, Mu’awiyah menghampiri dengan ketakutan, kemudian bersabda Rasulullah dengan kelembutan: ” … Saat sedang sholat, tidak boleh terjadi apapun dari ucapan manusia, selain tasbih, tahmid dan bacaan Qur’an..”.  Mu’awiyah mengomentari perbuatan Rasulullah SAW dengan mengatakan: “ Demi Ayah dan Ibuku, belum pernah aku melihat pengajaran terbaik dan paling santun selain dari pengajaran Baginda Rasulullah SAW.  Seperti itulah kesabaran dan kasih sayang Rasulullah, suri tauladan dan guru yang seluruh ucapan dan perbuatannya adalah pengajaran.

Demikian juga dengan sifat jujur dan komitmen yang mesti menghiasi pribadi guru, sebagaimana Allah telah menyerunya:

“ Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian lakukan …”.

Ketika guru berjanji pada muridnya ia wajib menepatinya atau meminta ma’af ketika tidak bisa memenuhinya agar integritasnya terjaga saat ia meminta muridnya untuk melakukan sesuatu atau meminta untuk meninggalkan sesuatu.

Guru juga harus bersifat rendah hati, Ibnu ‘Abdi al Barri meriwayatkan dalam kitab “Jami’ bayaani al-‘ilmi wa fadhluhu” dari ‘Umar bin Khaththab r.a. mengatakan, “Carilah ilmu dan ajarkan pada orang-orang, dan belajarlah tentang kehormatan dan ketenangan, dan rendah hati lah kepada orang yang kalian belajar darinya dan juga kepada orang yang kalian ajari, jangan menjadi guru pemaksa dan jangan bertindak bodoh dengan ilmu kalian”.  Beliau adalah guru sekaligus murid, sehingga tidak heran seorang guru akan mendapat manfaat ilmu dari apa yang dimiliki murid-muridnya.  Bahkan guru akan mudah merevisi kesalahan yang terjadi pada dirinya, atau mengatakan: “ Saya tidak tahu “ atau “ Allah lebih mengetahuinya…” terhadap sesuatu yang belum ia ketahui.  Hal inilah yang menjadikan ia memiliki kebesaran jiwa, rendah hati dan tidak lancang mengeluarkan fatwa tanpa dilandasi ilmu.

Bersambung...

Post a Comment

0 Comments