Asma Binti Yazid Sang Orator Wanita

RemajaIslamHebat.Com - Asma’ binti Yazid adalah wanita yang cerdas dan tidak takut bertanya, sehingga dia menjadi orator dan utusan kalangan wanita. Dia dijuluki dengan Ummu Salamah. Disebut juga dengan Ummu Amir.

Dia tergolong wanita-wanita yang berbaiat dan mujahidah. Suami Asma’ binti Yazid adalah Abu Said Al-Anshari, yang nama sebenarnya adalah Said bin Imarah. Ibunya adalah Ummu Sa’ad binti Huzaim bin Mas’ud Al-Asyhaliyah.

Asma’ adalah utusan para wanita untuk menghadap Rasulullah SAW. Ini menunjukkan bahwa dia termasuk wanita cerdas dan kuat beragama. Pernah diriwayatkan bahwa dia menghadap kepada Nabi SAW seraya berkata, “Aku adalah utusan para wanita Muslimah di belakangku. Mereka seluruhnya mengatakan sebagaimana kata-kataku dan berpendapat sebagaimana pendapatku."

Dia melanjutkan, "Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada pria dan wanita. Kami beriman kepada engkau dan mengikuti engkau. Kami terbatas dengan urusan rumah tangga, menjadi tempat pemuas nafsu kaum pria, mengandung anak-anak. Adapun kaum pria dilebihkan dengan shalat Jumat, mengantar jenazah, dan ikut berjihad. Jika mereka keluar untuk berjihad, maka kami menjaga harta mereka dan kami mendidik anak-anak mereka. Apakah kami mendapatkan pahala yang sama dengan pahala mereka, wahai Rasulullah?” tanya Asma.

Rasulullah SAW menolehkan wajahnya kepada para sahabat dan bersabda, “Apakah kalian pernah mendengarkan kata-kata seorang wanita yang bertanya tentang perkara agama yang lebih baik daripada pertanyaan ini?”

Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami tidak menyangka bahwa wanita mendapat petunjuk ke arah itu.”

Rasulullah SAW pun mengalihkan wajahnya kepada wanita itu dan bersabda, “Kembalilah wahai Asma’, dan jelaskan kepada siapa pun di belakangmu bahwa jika seorang dari kalian dapat mengurus suami dengan sebaik mungkin, dan ia mencari keridhaan suaminya, menaatinya demi mendapat kesepakatannya, semua yang disebutkan itu sama pahalanya dengan kebaikan yang sama yang dikerjakan kaum pria.”

Asma’ pun kemudian pulang dengan menyerukan takbir dan tahlil sebagai tanda ‎kegembiraannya menyambut perkataan Rasulullah SAW.

Asma’ meninggalkan karya spektakuler di dalam buku catatan tentang para mujahidah, yang dikenang sepanjang masa. Bagaimana tidak, dia itu berasal dari keluarga yang mempersembahkan jiwanya untuk membela Rasulullah SAW.

Saat terjadi perang Uhud, dan ketika keadaan sangat sulit, beberapa orang anggota keluarga As-Sakan merasa terpanggil untuk menjaga Rasulullah SAW dengan bersemangat dan ikhlas. Pada saat itu terlihat dengan jelas kecintaan, keseriusan, dan kepahlawanan.

Sifat-sifat tersebut sangat langka dan menakjubkan. Ketika musuh telah menjadikan Rasulullah dan para sahabat yang bersamanya demikian terjepit, beliau bersabda, “Barangsiapa yang mengusir mereka dari kita, maka baginya surga, atau ia akan menjadi pendampingku di surga.”

Salah seorang dari golongan Anshar maju menyerbu hingga tewas. Hal itu berulang hingga ke tujuh orang itu semuanya terbunuh. Kemudian orang terakhir dari ketujuh orang tersebut adalah Imarah bin Yazid bin As-Sakan, saudara laki-laki Asma’.

Dia maju menyerang hingga terluka dan terjatuh. Beberapa lama kemudian datang sekelompok orang Islam kepada Rasulullah SAW. Mereka menghalau tentara musyrikin menjauh dari Imarah.

Rasulullah SAW bersabda, “Dekatkan ia padaku!”  Kakinya diberi bantal, lalu meninggal dengan pipi menempel pada kaki Rasulullah SAW.

Dalam pertempuran ini syahidlah Yazid bin As-Sakan (saudara laki-laki Asma’), Amir (anaknya Asma’), Ziyad bin As-Sakan (paman Asma’), dan ayah Asma’, Kesyahidan anggota keluarganya menambah kecintaan Asma' pada jihad. Dia bergabung dalam berbagai pertempuran bersama Rasulullah SAW.

Asma' turut menghadiri Baiat Ridwan, dan ketika itu dia ikut berbaiat di bawah pohon. Dia menyaksikan Fathu Makkah dan pengepungan Khaibar. Dia menyaksikan perang Yarmuk, ketika itu sembilan orang tentara Romawi beserta pembawa panjinya terbunuh.

Asma’ cukup berbangga karena dialah satu-satunya wanita Anshar yang berbaiat pertama kali kepada Rasulullah SAW bersama Kabsyah binti Rafi’, ibunda Sa’ad bin Mu’adz.

Perawi Hadits dan Ahli Fikih
Perhatian Asma’ binti Yazid terhadap hadits Nabi sangat besar. Dia mengambil dan ‎mencatat setiap hadits Rasulullah SAW yang didengar oleh kedua telinganya. Selain itu, dia juga mencintai ilmu dan suka bertanya.

Dia memiliki keberanian untuk meminta penjelasan dan bertanya kepada Nabi SAW. Oleh karena itu, dia menjadi satu-satunya wanita Anshar yang banyak meriwayatkan hadits Nabi. Dia berhasil meriwayatkan sebanyak 81 hadits Rasulullah SAW.

Asma' juga dikenal sebagai sosok yang dermawan dan mengutamakan orang lain. Suatu ketika dia ‎datang ke rumah Rasulullah dan membawakan tulang yang masih berdaging dan beberapa roti. Rasulullah kemudian memerintahkan para sahabat memakannya dengan membaca bismillah. Subhanallah, makanan itu ‎tidak habis-habis meskipun yang ikut makan pada waktu itu berjumlah 40 orang.

Setelah Rasulullah SAW wafat, Asma’ pergi ke Syam. Dia menyampaikan hadits di sana dan menjadi satu-satunya wanita yang menyampaikan hadits di wilayah itu. Asma' menetap di Damaskus dan meninggal di sana pada tahun 69 H pada masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, dan dikuburkan di pemakaman Bab As-Saghir.[Wadah Aspirasi Muslimah]

Post a Comment

0 Comments