Aktivis yang Tertukar

RemajaIslamHebat.Com - Anda yang lahir tahun 70an dan 80an pasti masih mengenal sosok Iwan Fals (IF) dengan salah satu lagunya ‘wajah pribumi’ yang kalo nggak salah satu album dengan Ujung Aspal Pondok Gede.

IF dulu dikenal dengan lagu-lagu kritisnya di masa rezim Soeharto berkuasa. Tapi mendadak dia menjadi tumpul ketika kasus Al Maidah , dengan tegas berada di barisan kecebong, membela si penista agama.

Sudah cukup banyak sebenarnya, dan IF bukan orang yang pertama berteriak lantang di rezim tertentu, tapi tetiba surut di rezim yang lain. Sepertinya memang seperti itulah cara rezim membungkam suara kritis, pun terhadap para aktivis.

Kita lihat bersama saja di era kepemimpinan orde baru, ada pemuda dan mahasiswa semacam akbar tanjung, cosmas batubara, dan teman-temannya yang kritis terhadap rezim, akhirnya mereka duduk atau didudukkan manis dengan kursi empuk jabatan.

Tapi kalau yang kelewat “keras” (baca: radikal) bahkan dalam kacamata rezim hendak melakukan semacam penggulingan maka tanpa ampun ‘dihabisi’. Contohnya anggota Petisi 50 di antaranya adalah Jenderal Nasution, Ali Sadikin, Hoegeng, Mohammad Natsir, dan Syafruddin Prawinegara. Soeharto menjawab kritik para tokoh itu dengan pengasingan politik atau kematian perdata.

Selain itu, masih di era Orde Baru, sejumlah aktivis seperti Hariman Siregar, Syahrir dan Dipo Alam harus meringkuk di penjara pada 1974 akibat peristiwa yang kita kenal dengan peristiwa Malari.

Adapun jika sudah berbentuk kelompok Islam, itupun juga setelah diamini para jenderal yang anti Islam, semacam LB Moerdani, maka yang muncul benar-benar pembunuhan.  Ingatlah kasus Tanjung Priok, Petrus dan lain-lain.

Begitulah, secara garis besar ada 2 grand strategi cara memperlakukan ‘musuh’ oleh rezim. Pertama, kalau masih bisa dirangkul ya dirangkul dan dikasih jabatan. Tapi kalau sudah kelewat batas dan tidak ada peluang digandeng, maka ya dihabisi.

Strategi itu masih ampuh dilakukan meski orde baru sudah tumbang. Mungkin yang paling kentara pasca reformasi, aktivis jalanan seperti Budiman Sujatmiko dan Dita Indah Sari yang merupakan dedengkot Forum Kota dan Partai Rakyat Demokrat, telah bermetamorfosis menjadi ‘aktivis’ parlemen. Budiman akhirnya berlabuh di PDI-P, Dita Indah Sari di PBR, dan Pius L di PAN yang akhirnya pindah ke Gerindra.

Rupanya, pasca reformasi parlemenen jalanan kurang gaungnya. Suara-suara vokal dari Hariman Siregar, Syahri, Dipo Alam, Denyy Indrayana ini ditangkap oleh rezim SBY, dan diredamnya dengan diberi jabatan sebagai sekretaris kabinet dan staf khusus presiden.

Aktivis jalanan itu kini telah duduk manis menikmati zona nyamannya. Sepertinya, itulah yang membuat para ‘yunior’nya mengambil pelajaran bahwa kalo mau posisi enak seperti itulah caranya. Itu di satu sisi. Di sisi yang lain, dari sisi penguasanya juga butuh orang-orang seperti itu.

Maka nama berikutnya di masa kampanye tahun 2015, menjadi tim sukses Jokowi seperti 2 nama yang cukup santer beritanya, Teten Masduki (ICW) dan Fajroel Rahman. Teten akhirnya duduk manis sebagai staf khusus presiden, sementara Fajroel Rahman, Boni Hargens, bersama 15 orang lainnya mendapat jatah sebagai komisaris BUMN.

Tidak perlu diperdebatkan apakah mereka layak mendapat jatah tersebut karena memang telah membantu pemenangan Jokowi-JK, tapi yang jelas tidak mengubah mindset bahwa dalam demokrasi tidak ada yang kawan-lawan abadi, yang ada bahwa kepentingan abadi.

Dalam demokrasi hukum manusialah yang berkuasa. Siapa manusianya? Dialah yang sedang berkuasa beserta para kroninya.

Maka jika kasus yang paling aktual sekarang seperti tarik ulurnya Perpu Ormas, juga merupakan bukti nyata bahwa yang berbicara adalah ‘politik kepentingan’. Sehingga terkesan alot dan berbelit-belit. Padahal sudah secara nyata bin gamblang, secara konstitusional, Perpu ormas itu cacat prosedural.

Oleh karenanya, man-teman aktivis yang hari ini masih setia berjuang demi idealisme, apalagi motivasinya adalah ruhiyah yakni ingin menghilangkan kebatilan, maka jangan pernah surut dan jangan pernah tergadaikan oleh iming-iming dunia.

Jangan sampai kehidupan akhirat yang abadi tertukar oleh dunia yang hanya sesaat.

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. al-Hadîd [57]: 20).

[Oleh: toekangritik belumusnah]

Post a Comment

0 Comments