Abah Wanto dan Perjuangan, Tidak Dapat Dipisahkan

Oleh : Tachta Rizqi Yuandri

BAGAIMANA SAKIT AKAN MENGHILANGKAN SENYUM DARI WAJAHMU, SEMENTARA KETIKA RUH TERPISAH DARI TUBUHMU, SENYUM ITU MASIH SETIA BERSAMAMU

KAMI PERSEMBAHKAN UNTUK PERPISAHAN TERAKHIR DENGAN JASADMU, AR RAYAH DARI PUNCAK TERTINGGI PULAU JAWA, AR RAYAH MAHAMERU 3.676 MDPL

Bertemu Ketika Berjuang, Berpisah Ketika Berjuang, Skenario Romantis Dari Allah Antara Saya Dan Abah Wanto

Ini merupakan pertama kalinya saya menulis mengenai seseorang yang saya kenal dan baru saja gugur beberapa jam lalu. Sungguh sulit mengatur konsentrasi dalam menulis di tengah perasaan duka yang berkecamuk. Persis ketika saya mesti memberikan sambutan di depan umum sesaat setelah menguburkan ayah saya.

Pertama kali saya bertemu Abah Wanto adalah ketika saungnya digunakan untuk konsolidasi melaksanakan Ekspedisi Pengibaran Bendera Tauhid Raksasa Di Puncak Gunung Burangrang. Tidak cukup sampai di situ, bahkan Abah Wanto pun mempersilakan rumahnya untuk dititipi berbagai perlengkapan dan logistik.

Abah Wanto merupakan salah satu pihak yang sangat banyak membantu dalam keberhasilan ekspedisi tersebut. Apalagi, mengingat ekspedisi tersebut bisa dikatakan sangat sulit. Pertama, kami melakukan pendakian pada saat melakukan Shaum Ramadhan. Kedua, tidak ada satupun dari seluruh anggota ekspedisi yang pernah melakukan pendakian saat Shaum Ramadhan. Namun, alhamdulillah, kami semua berhasil mengibarkan Bendera Tauhid di Puncak Gunung Burangrang dan seluruhnya melaksanakan shaum dengan sempurna.

Pertemuan berkesan dengan Abah Wanto pun berlanjut setelahnya. Saya kerap berada di samping beliau ketika dirinya bercerita mengenai lika liku kondisi dakwah di sekitar Kabupaten Bandung Barat.

Kadang saya dan lainnya juga tertawa mendengar bagaimana kelucuan beliau saat berceloteh, terutama ketika bercerita bagaimana dirinya kerap dikunjungi dan ditelepon oleh aparat kepolisian dan berdiskusi mengenai keislaman.

Cerita-cerita tersebut kerap saya dengarkan langsung dari Abah Wanto pada momen perjuangan berbagai aksi damai di Jakarta. Meski domisili saya di Kota Bandung, tapi saya selalu berangkat ke Jakarta bersama rombongan dari Kabupaten Bandung Barat. Sebab, sejumlah perlengkapan koordinasi ada di rombongan tersebut, sehingga memudahkan saya untuk koordinasi ketika sampai di Jakarta.

Bila saya mesti ke Jakarta untuk melaksanakan aksi damai, maka hiburan selama di perjalanan adalah segelas kopi, sebatang rokok, dan ngobrol seru soal dakwah di daerah masing-masing dengan sahabat-sahabat seperjuangan, dan salah satu yang paling seru adalah ngobrol dengan Abah Wanto.

Pertemuan terakhir saya dengan Abah Wanto adalah pada Aksi 2410 lalu. Saya menyempatkan diri berfoto bersama beliau. Saya sangat kagum dengan keberanian dan keteguhan beliau. Mesti harus menggunakan kursi roda, tidak sedikitpun mengurangi kekuatan dan ketegaran Abah Wanto dalam berjuang.

Sebuah kisah romantis yang indah. Saya mengawali pertemuan dengan Abah Wanto dalam momen perjuangan, bersama-sama dalam momen perjuangan, dan mengakhiri kebersamaan dengan beliau dalam momen perjuangan.

Maka Saya Hanya Bertemu Dan Mengenal Abah Wanto Sebagai Pejuang. Dan Saya Akan Menjadi Saksi Untuknya Di Hari Akhir.

Post a Comment

0 Comments