Yang Tampak Berbeda

RemajaIslamHebat.Com - Sepertinya langka, menemukan pejuang kehidupan yang mampu melihat sesuatu yang berseberangan sebagai sumber pembelajaran.

Jika dalam jarak, sesuatu yang berbeda terlihat bagai antonim. Maka cobalah mendekat, bisa jadi kita menemukan hikmat.

Ibu bekerja di ranah publik bukan lawan kata dari Ibu bekerja di ranah domestik. Tidak ada yang mampu lebih baik atau lebih mulia, melainkan kadar niat dan dan keikhlasan menjalankan rumitnya peran di dalamnya. Masing-masing memiliki kebahagiaan dan sudut kehilangan yang berbeda, yang kompensasinya mereka pilih dengan mata terbuka.

Ibu yang anaknya kurus bukan lawan kata dari Ibu yang anaknya gemuk. Tidak ada yang mengesankan keberhasilan mendidik anak ke depannya dari satuan kilogram.
Karena usaha tidak selalu terlihat mata, dan fisik anak bukan melulu hasil akhirnya. Karena setiap Ibu hanya perlu saling mempelajari kesehariannya tanpa nada getir mencela output yang berbeda.

Ibu dengan pilihan anak sekolah dini bukan lawan kata dari Ibu dengan pilihan sekolah yang mengakhirkan usia anak. Atau yang homeschooling lebih hebat karena tidak "mentransfer" tanggung jawab mendidik pada pihak ketiga.
Lihat dulu kondisinya, anak maupun orang tua atau bahkan lingkungan tempat tinggalnya.
Setiap pilihan mengandung elemen kebaikan yang bisa kita endapkan tanpa perlu mengumbar celekit yang menjatuhkan.

Ibu yang dipandang tidak produktif dari segi materi bukan lawan kata dari ibu yang mampu menghasilkan berjeti-jeti. Tidak ada yang pantas jumawa karena keduanya mendulang produktivitas dari sumur yang berbeda.
Ada kesederhanaan maupun perjuangan yang bisa kita rekam, karena Ibu pun adalah "uleebalang" untuk diri mereka sendiri dalam membuat keputusan yang adil baginya dan tentu bagi keluarga yang menjadi amanahnya.

=====

Alih-alih melihat sesuatu yang berbeda selalu dikontekskan dalam lawan kata, cobalah duduk sejenak mereguk intisari kelebihan yang mampu kita serap sebagai pembelajaran.

Alih-alih memenjarakan pemikiran dalam selubung kehebatan, cobalah menyisir pilihan kata yang tidak menyakitkan ketika berkomentar atas satu keadaan.

Alih-alih menggurui ketika sedang bercerita tentang kapasitas diri, cobalah menempatkan lawan bicara sebagai rekan dimana kita bersedia melapangkan hati untuk berbagi saran dan solusi.

Bahwa tinggi hati acap kali menyamar memenuhi nadi, ketika kita menemukan kondisi untuk mampu mengeksekusi takdir sesuai standar kita.

Tentu, dunia tidak menerima abu-abu.
Tentu, Tuhan pun membagi hitam dan putih dalam dosa dan pahala atau neraka dan surga.
Tentu, prinsip adalah mutlak dipertahankan setiap jiwa.

Maka standar A bisa jadi terlontar ke standar L di keluarga tetangga, di keluarga sanak saudara, maupun di keluarga saudara inti kita.

=====

Yang tampak berbeda, bukan selalu lawan kata.

Melainkan mampu menjadi pembelajaran yang mensinergikan kekuatan dan mengasah amunisi prinsip, agar kita mampu mengawal pilihan kita dengan bahagia.

Yang tampak berbeda, bukan berarti lebih buruk dari pilihan kita.

Karena setiap keluarga menjaga kantong value yang tidak sama. Mereka meniti jalan samawa dunia akhirat dalam lagu klasik yang selalu unik.

Dan yang tampak berbeda, yang tertakdir berbeda, bukan berarti akan menghabiskan hidupnya dalam pilihan monoton hingga ujung waktu.

Membanggakan habis-habisan apa yang kita selempangkan pada diri kita sekarang, hanya akan menjadi bayonet bermata dua.
Karena sebagai manusia, kita hanya mampu menggenapkan usaha. Tuhan-lah yang akan menggiring transisi peran dan pengesahan pilihan.

Bisa jadi, kita berubah menjadi mereka yang dulunya kita cela. Sementara kita belum tahu pasti, gelimang kebenaran dan keberkahan yang tersembunyi.

Berhenti melihat sesuatu sebagai lawan kata, akan lebih menjernihkan retina penerimaan dan pembelajaran sepanjang hidup kita.

Sumber:

Nafila Rahmawati

Post a Comment

0 Comments