Yang Bukan Hanya Sebatas Identitas 299

RemajaIslamHebat.Com - Dakwah merupakan keniscahyaan dari sebuah keimanan. Bagaimana keimanan bukanlah hasil dari keturunan (warisan), pentrasferan, apalagi hanya ketentuan identitas. Sebab, banyak mereka yang beridentitas Islam, namun malah, menentang, menghinakan, mentertawakan, dan bahkan menghadang pada aktivitas dakwah.  Maka, benarlah jika keimanan itu hasil dari sebuah pemikiran, perenungan, dan pengkajian hingga sampai pada sebuah kesimpulan dan pemahaman. Yang bukan hanya sebatas identitas.

Identitas Islam tidaklah menentukan akan nilai keimanan. Sebab, keimanan selalu beriringan dengan dakwah. Keimanan bukan untuk disemayankan, namun untuk disampaikan. Sebagaimana, aktivitas para Nabi dan Rasul hanyalah berdakwah menyampaikan kebenaran dan memberikan peringatan.  Allah SWT memerintahkan kita untuk berdakwah, yakni mengajak manusia ke jalan-Nya (QS An-Nahl:25). Allah SWT memerintahkan kita untuk menyeru manusia agar masuk Islam (QS Asy-Syura:15).

Maka, aneh saat manusia mengaku beriman sedangkan ia mengingkari akan ayat-ayat Allah dan menyelisihi akan aktivitas para Nabi dan Rasul. Yang mana keimanan mengharuskan kepatuhan dan keterikatan pada semua yang dibawa oleh Rasul Saw dan menjauhi semua yang beliau larang (QS Al-Hasyr:7). Keimanan mengharuskan untuk hanya berhukum dengan hukum-hukum Allah SWT dalam menyelesaikan segala persoalan di masyarakat (QS an-Nisa:65). Begitupun, Allah SWT menyifati dakwah (mengajak manusia kepada Allah) sebagai sebaik-baik ucapan (QS Fushshilat :33).

Memang benar dengan berdiam dan doa itupun telah masuk bagian dari iman.
“Barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran , hendaklah ia mengubah dengan tangannya; jika tidak mampu maka dengan lisannya; jika ia masih tidak mampu, maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Namun, apakah kita akan puas dan senang berada dalam tingkat keimanan yang lemah dan paling rendah. Bukankah ini adalah suatu kondisi yang harusnya dihindari bagi seorang yang mengharap ridho Allah dan yakin akan pertolongan-Nya. Tentu berusaha dengan sekuat tenaga dan berkorban untuk menjadikan keimanan pada derajat tingkat tertinggi adalah kewajiban.

Sebagaimana keimanan para sahabat, salah satunya adalah Ammar bin Yasir. Yang disiksa sampai batas tidak menyadari dengan apa yang terucap dari lisannya, saking keras dan beratnya siksaan. Kemudian bagaimana kekuatan, keteguhan  dan kokohnya iman itupun nampak jelas saat ia harus menyaksikan dari setiap tusukan, sabetan, dan hujaman siksaan dari kaum Quraisy kepada kedua orang tuanya yang bukan hanya sehari dua hari, namun sampai mengantarkan menghantarkan jasad mereka kepada keabadian. Hanya karena perkataan Rasul Saw.

“Bersabarlah wahai keluarga yasir, sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga”.

Begitulah, harusnya keimanan seorang muslim atau setidaknya berusaha untuk yang seperti itu. Menjual jiwa kepada Allah SWT. Bukan malah sebaliknya menghadang pada dakwah untuk kedudukan dan jabatan, diam untuk keamanan dan pengakuan, atau berteriak karena kebodohan.

Orang yang beriman tidak selayaknya menelantarkan dakwah. Ia wajib berdakwah dan membela dakwah. Tidak pantas ia menghalangi dakwah, memusuhi dakwah dan para pengembannya. Sikap menghalangi dakwah, yakni menghalangi manusia dari jalan Allah SWT, adalah sifat dan karakter setan (QS az-Zukhruf:37); perilaku orang-orang  musyrik dan kafir (QS al-A’raf:45); sikap orang-orang munafik (QS an-Nisa:61); sikap orang yang angkuh lagi sombong (QS al-Anfal:47); serta sikap orang-orang yang lebih mencintai dunia daripada akhirat dan berada dalam kesesatan yang jauh (QS Ibrahim:3).

Hal ini menunjukkan, bahwa keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya juga mengharuskan untuk menentang apa saja yang menghalangi dan memberangus dakwah Islam, termasuk diantaranya menentang Perppu no. 2/2017 tentang Ormas. Salah satunya ialah Aksi 299, yang bertujuan untuk menolak penerbitan Perppu no. 2/2017 dan inilah salah satu aksi dari wujud keimanan itu.

Bagaimana, saat dakwah dihadang maka sudah tentu upaya keras penolakan itupun harus ada. Sebab, dakwah adalah aktivitas kita, dakwah adalah ibadah kita, dan dakwah adalah kewajiban kita. Maka, marah dan menentang itupun harus ada saat kita dihadang dalam melakukan kegiatan ibadah yang telah menjadi keyakinan kita.

Namun, begitulah gambaran kemarahan akan umat muslim tetap dalam kedamaian dan kebenaran. Sebab, apa yang kita tawarkan adalah kebenaran maka jalan untuk mencanpainyapun hanya bisa dengan kebenaran, bukan tawar menawar ataupun pengancaman.

Maka, pengorbanan itupun bukan hanya pada para peserta yang hadir. Mereka juga yang tidak berkesempatan hadir, namun ikut dalam menghantarkan pada terlaksananya acara. Sebab, sesungguhnya Aksi itu bukan hanya dari mengemanya takbir yang terdengar di sana, bukan hanya suara orasi yang tersambut para pembicaranya, dan bukan pula hanya kibaran dan bentangan panji Al Liwa Ar Raya ditangan para peserta.

Namun, aksi itu ada diseluruh penjuru bumi dan langit. Ialah hujaman doa yang mengema dari setiap lisan yang menghendaki kebenaran, bentangan jiwa-jiwa yang rindu akan kebangkitan dan kemenangan, serta buliran-buliran bening yang menyirami akan harapan yang seakan hampir mengering untuk menenbus sampai ke Arsy-Nya

Begitulah selayaknya orang yang beriman bergerak dalam satu barisan, berucap dalam satu perkataan, berada dalam satu aturan, dan bergandeng dalam satu tujuan. Karena iman, bukan pada identitas !!!

#IslamRahmatanLil’alamin

Sumber:

Fb: Uli Nice

Post a Comment

0 Comments