Ujian Para Wanita

RemajaIslamHebat.Com - Puluhan hingga ribuan tahun silam, wanita hampir maklum atas nestapa yang dibenamkan dalam takdir mereka.

Para Ibu di jazirah Arab sempat menanggung duka, atas bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup begitu menyesap udara dunia.

Para istri di bumi Aceh sempat menggenggam nelangsa, mengiringi pamitnya suami mereka ke Perang Sabil tanpa ada kelanjutan kabar berita.

Para perempuan muda di Jepang sempat dihimpit ekonomi keluarga, sehingga "menitipkan" mereka pada pengakomodir geisha adalah jalan satu-satunya.

Bukankah yang mengalungi gelar sebagai tulang rusuk bengkok ini, sejatinya adalah sekuat-kuatnya manusia.

Setiap peradaban menghadirkan ujiannya masing-masing. Sehingga wanita tertakdir menguak keteguhan yang tidak pernah mereka bayangkan.

Lalu dimana ujian bagi wanita di zaman sekarang?
Ketika kemanusiaan telah meletakkan wanita dalam kemuliaan, ketika tidak ada medan perang yang perlu ditangiskan, ketika bahkan materi bisa menghampiri dari ketukan jari.

Adakah kita sadar, bahwa setiap makhluk yang disayang Tuhan akan selalu disapa-Nya melalui ujian yang nyata maupun tak kasat mata.

Mungkin ujian datang, Bu...
Ketika anak-anak semakin membutuhkan pendampingan fisik dan jiwa yang tidak terbagi jatah fokusnya
Mampukah kita, memilih mundur sejenak dari kesibukan kita di luar rumah, untuk kembali memberi perhatian yang lebih hangat

Mungkin ujian datang, Bu...
Ketika kita berhasil menuntaskan kesempurnaan panggung pengasuhan. Melahirkan per vaginam, ASI lancar 2 tahun, indikator pertumbuhan terceklis rapi, anak-anak tumbuh baik budi.
Mampukah kita, untuk tidak terbersit lebih jumawa dari rekan Ibu lainnya yang tertakdir mengalami daya juang yang semarak variasinya.

Mungkin ujian datang, Bu...
Ketika tantrum bukan lagi berasal dari anak-anakmu, melainkan dari ketidakpuasanmu menjalani keseharianmu.
Rasa terpenjara dalam ritme monoton sebagai Ibu dan Istri, lalu mengusik adrenalin untuk beramah tamah dengan barisan para mantan lagi.
Mampukah kita, menakar syukur dan sabar lebih dalam lagi demi berhati-hati di atas titian menuju surga.

Mungkin ujian datang, Bu...
Ketika atas nama estetika kemudian ragam "renovasi dan improvisasi" pada wanita jadi pembenar untuk mencoba segalanya.
Mulai dari mengukir alis hingga filler, jilbab glamour hingga tas mahal demi pamor.
Mampukah kita, bertahan pada kesederhanaan meskipun kita punya akses untuk mencoba segala hal yang berbau kekinian.

Mungkin ujian datang, Bu...
Ketika rekan seperjuangan yang menemanimu di dalam kebaikan lantas beringsut mundur karena keakuanmu tidak menerima kritik dan saran.
Tinggallah kau dengan mereka yang memuja tanpa jeda namun nihil dalam makna, tidak mengingatkan walau dosa, tidak menegur walau alpa.
Mampukah kita, berdiri di luar penampakan duniawi dan menelanjangi kekurangan diri sendiri.

Maka cermatlah.
Karena ujian menyelinap rapat di balik jalinan beban maupun kemudahan.

Ujian wanita ketika zaman semakin menua, adalah pertanggungjawabannya pada banyak kepala. Demi menjadi Ibu, demi menjadi istri, demi tetap menggawangi diri yang stabil ruhiyah dan jasmani. Demi menjadi aktris kehidupan yang jauh dari lakon antagonis menyakiti.

Terlalu banyak tertawa akan memudarkan pikir bijaksana. Terlalu rumit berpikir akan meneguhkan syak wasangka.

Asahlah peka dalam syukur dan sujud pada-Nya, karena tidak banyak yang mampu menekuri pertanda sehari-hari sebagai ujian untuk menempa kualitas diri.

Semoga alarm tubuh kita tetap mampu menyala sebagai ilmu titen menghadapi ujian yang berupa bentuknya. Wanita, semoga selalu ahsan dalam itikad dan meluruskan niat dalam membagi manfaat.

Penulis : Nafila Rahmawati

Post a Comment

0 Comments