Tetap Sakinah Kala Rezeki Diuji

RemajaIslamHebat.Com - Being Married pasti menjadi keinginan setiap muslimah yang memang sudah waktunya menikah. Namun, tentunya Sahabat Muslimah tidak ingin pernikahan yang dijalani nantinya justru menuai banyak masalah.

Sebut saja kasus yang dialami pasangan Indria Kameswari dan Muhamad Akbar. Perempuan cantik yang bekerja di Balai Diklat Badan Narkotika Nasional (BNN) itu tewas ditembak suaminya sendiri setelah sekian lama sering terlibat cekcok.

Dari pengakuan beberapa sumber, pada awalnya mereka adalah pasangan yang berbahagia, utamanya ketika Akbar yang berprofesi sebagai kontraktor sedang sukses secara materi. Tapi belakangan, usaha Akbar bangkrut, dan Indria tidak tahan hidup susah sehingga sering bersikap kasar kepada suaminya sehingga berujung kepada penembakan maut yang mengakibatkan kematiannya. Tragis, apalagi penembakan tersebut didepan anak mereka yang baru berusia 4 tahun. Ngeri banget ya?

Nafkah dalam Islam

Pernikahan dan keluarga dalam Islam punya aturan unik yang bertujuan menciptakan kehidupan yang sakinah. Aturan ini pastinya bukan datang dari kesepakatan suami dan istri, atau pemaksaan oleh salah satu pihak. Akan tetapi diturunkan oleh Allah SWT. yang memang Pencipta manusia, dan Mahatahu aturan yang terbaik, agar tak terjadi kezaliman dalam antar anggota keluarga.

Persoalan nafkah, memang menjadi salah satu sebab pemicu kisruh dalam rumah tangga. Di antaranya karena istri meminta nafkah yang berlebih, bukan saja kebutuhan pokok. Istri meminta agar suami juga memberikan nafkah sekunder-tersier bahkan lux.

Di antara aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala adalah mewajibkan suami/ayah sebagai pencari nafkah. FirmanNya:

Kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. (TQS. Al-Baqarah: 233)

Pemberian nafkah ini berdasarkan dari firman Allah di atas mencakup kebutuhan sandang, pangan dan juga tempat tinggal. Keseluruhan nafkah ini tidak boleh diberikan sembarangan, tapi harus secara ma’ruf sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Baqarah: 233.

Doktor Wahbah az-Zuhayli dalam Fiqh Islam wa Adillatuhu juz 7 berpendapat ada tujuh hak istri yang wajib dipenuhi suami; makanan, pakaian, bahan-bahan masakan, peralatan kebersihan, perabot rumah tangga, tempat tinggal, pembantu bila memang dibutuhkan untuk membantu istri.

Hukum syara’ sengaja tidak memberikan batasan kualitas dan kuantitas nafkah bagi istri. Allah SWT justru memberikan panduan yang amat baik yakni sebatas apa yang sanggup diberikan suami pada keluarga sebagaimama firmanNya:

Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. (TQS. Al-Baqarah: 233)

Ini adalah hukum yang terbaik bagi manusia, khususnya kaum muslimin. Allah tidak menetapkan batas-batas tertentu secara spesifik karena Allah Mahatahu kondisi hamba-hambaNya ada dikaruniai keadaan kaya maupun yang fakir, dan bahwasanya di antara mereka ada yang lapang rizkinya dan ada pula yang sempit.

Yang jelas, jika seorang suami menahan nafkah keluarga yang wajib menjadi tanggungannya maka ia berdosa. Sabda Nabi SAW.:ُ

Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang wajib ia beri makan (nafkah).

Maka, bolehkan seorang istri menuntut nafkah sekunder bahkan tersier (lux) dari suaminya, juga untuk anak-anaknya? Misalnya meminta kendaraan ber-cc besar atau mewah, tempat tinggal permanen juga eksklusif dan bukan kontrakan, atau menuntut agar anak-anak mereka bersekolah di sekolah unggulan yang berbiaya lebih mahal dan bukan sekolah negeri?

Jawabannya adalah bila memang suami memiliki kelapangan rizki dan tak ada prioritas yang lebih utama menurut syariat, boleh saja suami meloloskan permintaan istrinya. Membelikan hunian permanen di cluster mewah, memberikan kendaraan yang ekslusif, termasuk menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga pendidikan yang mahal.

Namun bila ternyata suami tak memiliki kecukupan rizki untuk memenuhi kebutuhan sekunder apalagi tersier, maka tak ada kewajiban bagi suami untuk memaksakan diri memenuhi keinginan istri dan anak-anaknya. Istri pun tak boleh memaksa apalagi mengancam suami untuk memenuhi keinginannya.

Nabi SAW. juga mengingatkan para istri tentang keadaan neraka yang banyak dihuni kaum perempuan. Ketika hal ini ditanyakan pada Beliau, dijawab:
َ

Kalian banyak melaknat (suami) dan mengingkari (tidak berterima kasih) pada suami. (HR. Bukhari).

Pesan Rasulullah SAW. kepada para wanita amat penting untuk dicamkan. Bahwa di antara kemaksiatan kaum perempuan bukan saja karena mengabaikan shalat, mengabaikan dakwah, tapi karena sikap buruk pada suami, termasuk memaksa suami memberikan nafkah diluar kebutuhan pokok.

Bersabarlah para istri dalam hidup bersama suami. Syukuri apa yang telah Allah karuniakan lewat tangan suami. Sabar dan Syukur akan menjadi kunci keluarga kita tetap sakinah meski sedang dirudung masalah. Wallahua’lam.

Penulis : Ustadzah Nauroh Alifah

Post a Comment

0 Comments