Setega (s) Apa Kita Jadi Orang tua

RemajaIslamHebat.Com - Bismillah. Umiiiii jaahatttttt..., umi ga sayang aku.., abi tega. Kalau saja sebelumnya tidak pernah mendengar contoh kalimat ini dipelatihan Abah Ihsan yang benar terucap dari lisan anak, saat diberikan batasan, mungkin saya dan suami akan mudah BAPER. Sewot, kesel, marah awalnya tapi terus ngasih pada akhirnya. Jadi orang tua yang LEMBEK, istilah Abah Ihsan.

Kalimat rengekan, ancaman, rayuan pakai nangis biasanya paling gampang/mudah dilakukan oleh anak balita untuk meminta sesuatu. Ehm, apalagi jika jaraknya deketan trus ada 2 dirumah. Mulai deh, kelar 1 anak,  anak berikutnya bikin DRAMA. Yang begitu, kalau ayah-ibu belum dibekali ILMU, mungkin senjata paling gampang ya NGASIH.

Tahukah kalau sikap begitu dampaknya akan panjang luar biasa?

Awalnya mungkin akan marah, tidak membolehkan, tidak setuju terus lama kelamaan demi tidak tahan mendengar TANGISAN anak maka terpaksa dikasih.

Bagaimana anak melihat sikap orang tua ke esokkannya? oh iya, cara begini AMPUH ternyata buat orang tua ku. Berhasil nih. Kalaupun besok ini pakai tangisan ga berhasil, bisa pakai guling-guling. Pastikan orang tuaku malu. Jadi deh yess.

Masih kecil, mungkin baru sebatas perihal jajanan yang sulit ditolak permintaannya, tontonan televisi yang sulit dikendalikan waktunya atau kesusahan menghentikan gadget karena awalnya terpaksa ngasih karena biar anak ANTENG judulnya.

Tapi bagaimana dampaknya saat anak-anak itu tumbuh kemudian hari menjadi DEWASA usianya? Sangat sistemik ini akibatnya, wahai orang tua.

Tentu bukan heran kalau ada disekitar kita, misal saat dikasih uang puluhan ribu masih nangis gak mau sekolah, mengerjakan tugas RT/sekolah harus pakai iming-iming beri hadiah, melaksanakan ibadah harus pakai rayuan segala rupa. Mau pergi sekolah harus pakai ribut/adegan ngambek dulu dengan orang tua. Belum lagi mesti nganterin atau bantuin jika ada perlengkapan yang tertinggal. Merasa orang tua yang jadi kerepotan saat anak yang ujian?

Pernah nggak kita menyadari kalau itu diawali sikap perbuatan orang tua yang mana?

Bahkan aduan seorang teman, sepasang suami istri sudah menikah saja, baju nya mereka sekeluarga masih dicuciin orang tua. Punya anak loh ini padahal. Belum lagi keluhan soal mencari nafkah yang gak kunjung giat, karena senantiasa mengharapkan bantuan belas kasih orang tua. Usianya bukan lagi masih belasan tahun, tapi sudah puluhan tahun.

Atau banyak suami cuek, gak merasa malu hati karena dibantuin istri dalam menghidupi keluarga keseluruhan?

Yang begini ada awal mulanya. Pola asuh sejak lama, didikan serta situasi yang tidak pernah memaksa hidup untuk bertanggung jawab yang seringkali akhirnya memberikan dampak dimasa depan.

Banyak orang tua yang sekarang berhasil, mapan kehidupannya. Merasa perlu memfasilitasi anak dengan segala hal. Demi alasan agar anaknya tidak mengalami kesusahan seperti yang pernah orang tua rasakan dimasa lalu. Orang tua ini lupa padahal kesusahan, ujian kehidupan selama ini lah yang membuat hidup mereka saat ini menjadi lebih baik. Memiliki daya juang dan tangguh menjalani tiap episode kehidupannya.

Kita jadi orang tua, gak pernah tahu kapan batas umur ini akan Allah berikan, pernahkah sedikit saja menyediakan ruang waktu merenung, bekal apa yang telah kita berikan pada anak agar mampu hidup dizamannya?

Bekal harta? fasilitas pendidikan? atau bekal hidup berupa nilai-nilai iman, kehidupan serta life skill?

Sejauh mana usaha kita, orang tua menyiapkan anak untuk tetap menggenggam IMAN walau kesulitan hidup kian perih dijalaninya kelak?

Sudahkah kita melatih anak bertanggung jawab terhadap keputusan yang telah diambilnya?

Batasan apa yang sudah kita tanamkan dalam benak mereka sehari-hari?

Bekal ketrampilan apakah hingga anak kita tetap mampu survive hidupnya walau tiada orang tua?

Jika belum, atau masih sekedarnya saja. Yuk mari telaah lagi pola asuh, perilaku mana dari diri kita, orang tua yang sekiranya masih memanjakan anak? ingin serba membantu anak, sehingga anak tidak pernah belajar mengenal masalah, serta berfikir dalam memutuskan sesuatu terlebih dulu.

Jika memang belum, baiknya kita tidak merasa enggan/malas untuk belajar di kelas-kelas pengasuhan yang telah banyak disediakan saat ini.

Karena beda pasti rasanya, orang tua yang belajar, membekali diri dengan ILMU dengan orang tua yang hampa/kosong dalam menyiapkan anak-anaknya.

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang meninggalkan anak cucu dibelakangnya dalam keadaan lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa’: 9)

Hal-hal yang mengajarkan anak terlatih mengenal masalah, bertanggung jawab yang kami pelajari diantaranya dari abah Ihsan :

- Mulailah dari sekarang jadi orang tua yang memilah, mana yang perlu dikasih, dibantu sebagian, atau hanya perlu dimotivasi untuk bisa mencari sendiri.

- Bikin kesepakatan, batasan dengan anak. Jadi bukan tiba-tiba saja tidak membolehkan. Atau terlalu sering membolehkan tanpa adanya aturan. Biasakan tidak langsung mengiyakan/menolak yang kemudian bersikap sebaliknya. Menunda sejenak, untuk mengajak anak berfikir apakah yang diminta merupakan kebutuhan atau sekedar keinginan?

- Berikan anak kesempatan, dilatih untuk mengenali masalah, menghadapi akibat dari perbuatannya. Hingga anak bisa belajar, dari hal tsb. Gak semua hal perlu ditolong/dibantu oleh orang tua. Anak perlu belajar KONSEKUENSI hidup atas apa yang telah diperbuatnya. Dari hal yang kelihatan sepele, kecil, bahkan printilan.

- Latih anak akan kebisaan ketrampilan hidup, menjadi bekal dikemudian hari saat berpisah jauh dari orang tua. Entah karena kondisi, maupun jarak.

- Senantiasa berdiskusi, NGOBROL sama anak bahwa apa yang orang tua lakukan merupakan proses mendidik anak serta bertahap.
Demikian sharingnya, semoga bermanfaat. Wallahu'allam bii shawab.

-Nurliani
yang masih perlu belajar

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10212690248783803&id=1013659521

Post a Comment

0 Comments