Seratus Tahun Pertama

Oleh: Doni Riw

SERATUS tahun adalah waktu yang panjang bagi usia seorang manusia. Tetapi sangat pendek bagi usia sebuah peradaban.

Mesir & Romawi kuno berhasil membesarkan peradabannya selama beribu tahun. Seratus tahun pertama Amerika modern, hanya sibuk mengurus soal perbudakan dan rasialisme. Tujuh puluh dua tahun Indonesia, tak beranjak ke mana.

Sedangkan seratus tahun pertama perkembangan peradaban Islam adalah sebuah keajaiban besar yang pernah terjadi di semesta ini.

Muhammad s.a.w. lahir yatim di tahun 570. Diangkat oleh Allah menjadi nabi di tahun 610. Dipersekusi oleh kaumnya karena kenabiannya selama 13 tahun.

Hijrah ke Yatsrib mendirikan negara di tahun 622. Menaklukkan Quraisy Makkah yg dahulu mempersekusinya hanya dalam waktu delapan tahun setelahnya.

Wafat tahun 632 dengan kondisi seluruh jazirah Arab telah tertaklukkan secara spiritual maupun politik.

Sebuah pencapaian yang tak pernah diungguli oleh siapapun sepanjang peradaban manusia di bumi.

Namun Rasulullah Muhammad s.a.w. tidak hanya membawa kebesaran bagi dirinya sendiri. Beliau membawa kebesaran bagi pengikutnya.

Negara beserta seperangkat sistem & hukum yang ditinggalkannya dilanjutkan oleh para penerusnya. Hanya sepuluh tahun sepeninggal beliau, pengaruh itu meluas ke Byzantium dan Mesopotamia di bawah Khalifah Umar bin Khattab.

Hingga dalam seratus tahun pertama, yaitu sekitar tahun 720an, kejayaan yang diwariskan Rasulullah telah terbentang dari Spanyol hingga India di bawah Khalifah Bani Umayah.

Wilayah yang luas, daerah-daerah taklukan non-muslim yang baru, mengakibatkan negara muda berbasis Islam itu hanya berpenduduk muslim 10%. Ya, Khilafah Islam memberi kemerdekaan beragama bagi warganya. Mulai dari Yahudi & Nasrani di bekas Byzantium, Zoroaster di bekas Persia, Hindu & Budha di India.

Tetapi itu tak berlangsung lama. Segera para penduduk itu berbobdong menjadi mualaf. Mungkin kemualafan kebanyakan orang waktu itu memang pragmatis, demi melihat kemajuan Islam yang begitu gemilang. Namun yang pasti, kemualafannya itu bukan karena dipaksa oleh rezim.

Semua itu bisa terjadi karena penaklukan yang dilakukan oleh negeri muslim sejatinya bukan penaklukan sipil.

Militer Islam menaklukkan rezim suatu negeri kemudian membebaskan penduduk sipilnya. Pasca penaklukan, warga kembali melanjutkan hidup seperti biasa, bahkan lebih enak dari biasa. Pajak yg mereka bayarkan selalu lebih rendah di bawah kekuasaan Islam.

Itu baru seratus tahun pertama. Kecepatan dan kebijakan pertumbuhan peradaban Islam tak pernah tersaingi oleh peradaban apapun.

Peradaban istimewa yang dibangun langsung oleh utusan Allah, lengkap dengan seluruh perangkatnya yang bisa diaplikasikan oleh seluruh penerusnya yang lurus mengikuti jalanNya.

Sumber:

Fb: Doni Riw

Post a Comment

0 Comments