Selamat Sayang... Kamu sudah Haid

Oleh : Deassy M Destiani

“Mah... cepetan sini..!!!” Teriak anakku dari dalam kamar mandi. Waktu itu aku sedang memasak untuk sarapan di dapur. Segera aku bergegas menuju kamar mandi setelah mematikan kompor sejenak.  Nada suara anakku sepertinya ada sesuatu yang penting sekali. Tidak biasanya dia memanggilku dari dalam kamar mandi. Kuketuk pintu kamar mandi, wajah manisnya muncul dari balik pintu sambil menunjukkan celana dalamnya yang bernoda merah. 

Sejenak aku tertegun. Mencoba menenangkan diri... aih.. aku sudah punya anak gadis. Kupeluk anak pertama perempuanku itu. Kukecup kening dan pipinya seraya aku berkata padanya, “ Selamat sayang... kamu sudah haid. Itu tandanya kamu sudah remaja, bukan anak-anak lagi. Mulai hari ini segala amal perbuatanmu sudah diperhitungkan, dicatat oleh para malaikat jika berbuat kebaikan dan demikian pula jika berbuat kesalahan. Skor kamu Nol-Nol. Tinggal kamu mau mengisi lebih banyak yang baik atau yang jelek.  Sekarang kamu mandi dulu dan bersihkan noda darah yang ada di celana dalammu itu dengan sabun yah”.

Anakku hanya tersenyum dan mengangguk dengan segala perkataan yang keluar dari mulutkku. Kulihat suamiku menguping pembicaraan kami sambil tersenyum. Pastinya suamiku juga punya perasaan yang sama denganku, perasaan campur aduk untuk memulai tahap mengasuh anak remaja. Kakak adalah anak yang dinantikan dalam pernikahan kami. Setahun menikah aku belum hamil.  Setelah berobat ke dokter kandungan, tes ini dan itu akhirnya penantianku berbuah hasil, aku dinyatakan positif mengandung.  Sungguh sangat bahagia rasanya, aku tidak sabar menunggu dia lahir. Aku masih ingat saat dia dalam pelukan dan kutimang agar mau bobo, bagaimana dia berlajar berjalan, bicara, dan sekarang sudah baligh.

Setelah kakak selesai mandi aku segera membawakan satu buah pembalut. Aku masuk ke dalam kamar mandi. Aku ajarkan cara memasang yang benar agar tidak bergeser ketika dia beraktifitas. Aku pilihkan pembalut yang bersayap. Lalu aku ajarkan pula cara membersihkan dan membereskan pembalut bekas pakai. Lengkap dengan nasehat jangan dibuang sembarangan. Jika tidak ada tempat sampah tertutup bungkus pakai kantong plastik hitam  atau bawa pulang saja ke rumah. Setelah kakak merasa nyaman memakai pembalut, aku tinggalkan dia di kamar untuk berganti pakaian seragam sekolahnya.

Pagi itu karena buru -buru berangkat sekolah, tidak banyak yang kami bicarakan. Ayahnya hanya menanyakan, “Gimana kak kamu gak sakit perut kan?” Anakku hanya menggeleng tipis. Kemudian setelah sarapan aku pastikan dia membawa celana dalam, pembalut dan baju untuk ganti jika dibutuhkan. Setelah kakak dan adiknya berangkat sekolah, tinggal aku di rumah sendirian. Sejenak aku berpikir, untunglah jauh sebelum kakak haid, aku dan anak-anak selalu membicarakan bagaimana proses terjadinya haid dan bagaimana jika mereka nanti mengalami hal itu.

Sejak kakak kelas 4 SD, waktu teman sekelasnya ada yang sudah haid, kakak bertanya padaku mengapa temannya ada yang sudah haid sementara dia belum. Waktu itu aku jawab bahwa setiap perempuan pasti haid karena itu proses alami tubuh untuk perempuan mempersiapkan diri agar dia nanti bisa punya anak. Justru harus ke dokter jika perempuan tidak mendapat haid apabila sudah waktunya.

Sekarang ini, kakak umur 12 tahun dan duduk di kelas 7 SMPN. Haid pertamanya ini tidak membuat kakak panik. Dia hanya memastikan padaku apakah yang ada di celana dalamnya itu darah haid apa bukan. Dia juga tidak takut, nangis dan malu saat bertanya tentang haidnya itu padaku. Kakak sudah siap, karena dia sudah tahu. Ilmu dan bukunya sudah aku ajarkan. Jadi saat itu terjadi dia tenang saja. Tinggal aku menambahkan proses menjaga kebersihan dan mandi wajib jika sudah selesai haid agar bisa beribadah kembali

Dari pengalamanku itu, buat para orangtua yang punya anak perempuan, aku berikan sedikit tips yah untuk berbicara tentang haid ini pada putrinya : 

1. Waktu terbaik untuk menjelaskan tentang haid itu adalah sebelum anak mendapat haid. Lihat perubahan tubuh anak. Jika anak sudah tumbuh payudaranya, tumbuh rambut di kemaluannya itu artinya Anda sudah harus siap-siap membuka pembicaraan tentang haid.

2. Lakukan diskusi ini oleh Ibu, karena kalau dengan ayah anak bisa malu. Tetapi jika karena situasi sosok Ibu tidak ada, maka peran nenek, bibi, guru atau keluarga yang lain bisa mengambil alih.

3. Mulai diskusi dengan mencari tahu apa yang anak ketahui tentang haid, misal apakah teman-temannya ada yang sudah haid. Bagaimana perasan teman-temannya ketika tahu mendapat haid dll. Koreksi jika ada informasi yang salah misalnya mitos-mitos yang berkembang.

4. Ceritakan pengalaman pribadi Anda waktu awal mengalami haid. Jika pengalaman itu memalukan atau buruk, Anda bisa bilang pada anak bahwa itu sebetulnya tidak perlu terjadi jika waktu itu Ibu tahu ilmunya seperti yang Ibu jelaskan padamu hari ini.

5. Berikan tips praktis, misalnya cara memasang pembalut agar enak dipakai,  bagaimana cara membungkus pembalut bekas pakai, bagaimana membersihkan noda darah yang ada di pakaian dalam atau baju apabila tembus.

6. Jelaskan pula tentang lamanya haid, bagaimana cara mandi besar (Muslim), apa ibadah yang tidak boleh dilakukan saat haid dan pengetahuan dari sisi spiritual.

7. Berpesan pada anak, bahwa setelah dia mendapat haid maka secara fisik dia sudah siap hamil. Namun secara mental pastinya belum. Untuk itu dia harus menjaga pergaulan dengan lawan jenis. Menundukkan mata, menuntup aurat dan tidak berduaan dengan laki-laki yang bukan muhrim. Jelaskan dengan bahasa sesuai kapasitas umur mereka.

Itulah sedikit tips dari seorang Ibu yang anaknya baru saja mendapatkan haid pertamanya. Diskusi tentang haid adalah salah satu dari pendidikan seks. Jadikan orangtua sebagai tempat bertanya pertama dan utama. Sehingga informasi yang diberikan  tidak salah seperti kebanyakan di dunia maya. Anak yang tidak tahu tentang haid, ketika mencari di google bisa jadi yang keluar adalah artikel untuk orang dewasa. Akhirnya malah menyesatkan.   Semoga bisa bermanfaat dan menambah wawasan buat Ibu-Ibu lain yang punya anak perempuan sepertiku.

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=692161317641857&id=290257281165598

Post a Comment

0 Comments