Prof Fahmi Amhar : Bersyukur

Oleh : Prof. Fahmi Amhar

TAHUN 1986 saya tidak termasuk siswa yang bisa masuk Perguruan Tinggi Tanpa Test melalui program Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK).  Padahal di kelas, saya hampir selalu di 5 besar, dan prodi yang saya inginkan tidak termasuk favorit, yakni jurusan Fisika FMIPA, yang kapasitas PMDK-nya juga besar.  Sekolah saya saat itu termasuk sekolah favorit.  Banyak siswa yang selalu di bawah saya, lolos PMDK masuk Teknik Elektro, Sipil, Arsitektur dsb. Banyak yang menduga ada faktor X di sana, termasuk sebagian guru-guru saya. Tentu saja tidak ada cara memverifikasinya.  Tidak ada gunanya juga.

Duapuluh empat tahun kemudian, saya sangat mensyukuri tidak lolosnya saya dalam PMDK itu.  Gara-gara tidak lolos PMDK, maka selulus SMA saya harus belajar extra keras untuk ikut Test Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru).  Gara-gara belajar itu, saya jadi lolos ikut Test Overseas Fellowship Program (OFP) dari Kemenristek untuk beasiswa ke Luar Negeri.  Tahun 2010 saya dikukuhkan sebagai Profesor.

Jadi kalau hal seperti itu terulang, dan terulang, saya merasa sangat optimis.  Dan saya tidak perlu menunggu 24 tahun untuk mensyukurinya.  Bahkan ketika suatu hari nama saya terpilih oleh pansel sebagai salah satu kandidat untuk Jabatan Pimpinan Tinggi Utama sebuah lembaga, saya berjanji ke teman-teman: "Kalau saya yang terpilih, itu musibah!  Dan kalau saya tidak terpilih, saya akan syukuri dengan traktir kalian makan-makan !!!".

Alhamdulillah, akhirnya yang terjadi, saya mentraktir teman-teman saya makan-makan di Bebek Pak Slamet :D

Rasa syukur makin terus bertambah dari hari ke hari.

Saya tidak menghadapi dilemma tentang apakah utang dari Worldbank sebesar sekian Trilyun Rp itu harus diterima atau ditolak?  Atau kalau dipaksa menerima sebagian, apakah saya boleh tidak hadir sebagai saksi ketika perjanjian utang ribawi itu ditandatangani?  Soalnya ada hadits berbunyi, "Pemberi riba, penerimanya, pencatatnya dan saksinya, semuanya ke neraka".

Saya tidak ikut pusing memikirkan ketika beberapa anak buah saya satu persatu dipanggil oleh Bareskrim atau KPK karena tindakan mereka di masa lalu ...

Saya juga tidak ikut pusing dengan himbauan dari para politisi yang sangat berkuasa agar "membina" sejumlah staf yang disinyalir "kurang memiliki berwawasan kebangsaan", atau "dicurigai pernah dekat dengan suatu organisasi yang baru saja dibubarkan".

Saya bersyukur selalu bisa bertemu keluarga hampir setiap hari, bisa terus belajar bahasa Arab dan menghafalkan Qur'an, dan bisa terus berbagi kepada anak-anak muda tentang mimpi-mimpi generasi saya yang belum kesampaian hingga hari ini ...

Allah Maha Baik.
Allah Pasti Ahli Manajemen.

Post a Comment

0 Comments