Perempuan Haidl Baca Qur'an

Assalamualikum, afwan mau tanya ustadz, apakah yang sedang haid itu boleh membaca quran? karna saya tanya ke beberapa ustadz itu jawabannya berbeda. Jadi tolong jelaskan ya ustadz.

Assalamualaikum ustadz Afwan ana mau nanya bagaimana kalau sedang haid apakah sholat harus di Kodo ? Soalnya ana pernah dengar dari beberapa ulama tentang pengkodean sholat
Syukron

---
Jawab :

Untuk pertanyaan, apakah sholat yang terlewat bagi perempuan haidl harus di qodho atau tidak, maka jawabannya tidak perlu. Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu 'alayhi wasallam dari Aisyah radhiyallahu 'anha :

"Kami dahulu diperintahkan untuk mengqodho shaum (karena haidl) dan tidak diperintahkan untuk mengqodho sholat". *(HR. Muslim)*

Kita mengetahui, bahwa masa haidl bagi wanita berbeda-beda. Para Ulama, terkhusus madzhab Syafi'i (dijelaskan dalam kitab Imtâ' al Asma Syarh Matn Abi Syuja' hal. 40-50) menerangkan bahwa seandainya darah keluar kurang dari satu hari, maka darah tersebut tidak dihukumi haidl, melainkan dihukumi sebagai damul fasad(darah kotor). Karena itu, hukum perempuan haidl dalam kondisi ini tidak diterapkan. Begitu juga jika darah yang keluar itu lebih dari 15 hari, maka para 'ulama mengklasifikasikannya sebagai darah istihadloh, sehingga wanita (dalam kondisi ini) wajib untuk melaksanakan mandi dan sholat, untuk kemudian tetap berwudlu dan tetap melaksanakan kewajiban sholat.

Adapun soal, apakah perempuan yang haidl boleh membaca alqur'an?Maka para ulama ikhtilaf dalam masalah ini.
Sebagian kalangan ulama, mengharamkan bagi perempuan haidl membaca alqur'an, berdasarkan hadits
ِ

“Janganlah seseorang yang sedang haidh dan jangan pula seseorang yang sedang junub membaca sesuatupun dari al-Quran”. *(HR .At-Tirmidzi)*

Dan hadist dari Ali ra. bahwasanya Nabi saw. bersabda :
َ

“Nabi shallallahu 'alayhi wasallam keluar dari kamar kecil lalu beliau membacakan al-Quran kepada kami dan makan daging bersama kami, tidak menghijab beliau –tidak menghalangi beliau- dari al-Quran sesuatupun selain junub" *(HR. Ibn Majah)*

Pendapat ini dipegang sebagian kalangan Syafi'iyyah dan banyak ulama dari berbagai madzhab.

Adapun mereka yang membolehkan, berdalil berdasarkan hadits :

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa ia berkata: “Aku datang ke Makkah sedangkan aku dalam keadaan haidl dan aku belum thawaf di Ka’bah dan juga belum sa’i antara Shafa dan Marwa.” Aisyah berkata: “Maka aku adukan hal tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam,” lalu beliau bersabda: “Lakukanlah apa-apa yang dilakukan oleh orang yang berhaji, selain thawaf di Ka’bah”. *(HR. Bukhari)*

Kalangan yang berpendapat bahwa perempuan haidl boleh membaca AlQur'an, mengatakan  bahwa hadits tentang "larangan perempuan haidl untuk membaca qur'an" adalah hadits dlo'if, sehingga tidak dapat diamalkan. Riwayat hadits itu berasal dari riwayat Isma'il ibn Iyas, dari ahli Hijaz. Sedangkan riwayat ia dari ahli hijaz lemah/diragukan.

Adapun hadits tentang Rasulullaah shallallaahu 'alayhi wasallam yang tidak membaca al qur'an saat junub, maka para ulama mengatakan bahwa ini adalah perbuatan khusus bagi beliau saw. Dan junub tidak dapat di qiyaskan pada haidl (qiyas ma'al fariq).

Maka pendapat ini dipegang oleh sebagian Syafi'iyyah, Hanafiyyah, Malikiyyah dan salah satu pendapat Imam Ahmad.

Tentu saja pertanyaan ini terkait qiroah alqur'an tanpa mushaf. Adapun dengan mushaf, jumhur ulama telah sepakat akan keharaman orang yang berhadats(termasuk perempuan haidl) menyentuh mushaf alqur'an.

Maka langkah yang lebih selamat(antara pendapat yang melarang dan membolehkan), ialah tidak membaca alqur'an saat haidl. Hal itu(membaca qur'an) dapat diganti dengan mendengarkan tilawah qur'an dari berbagai qâri, yang hari ini banyak tersebar di berbagai media-media elektronik. In syâ Allâh meraih pahala yang sama. Wallâhu a'lam.

Tanya Jawab : *Rivaldy Abdullah* (+201019133695)

Ngaji FIQH
https://telegram.me/ngajifiqh

Post a Comment

0 Comments