Musim Nikah

Oleh: Ratu Ika Chairunnisa

BULAN haji bukan hanya bulan berbahagia bagi sesiapa yang Allah panggil ke tanah suci. Namun ianya juga bulan bahagia bagi dua sejoli yang akan menyempurna separuh agama.  Yup, musim nikah pun tiba,  katanya. Akhirnya undangan datang bertamu setiap harinya, janur kuning juga seperangkat tenda menghiasi pemandangan mata sepanjang jalan sejagat raya.

Aaah bahagia bukan,  jika melihat mereka yang tengah berbahagia?

Namun bagi kaum jomblo, bahagia yang dirasa pun berbanding lurus dengan tingkat baper yang menggoda. Setiap melihat sahabat yang nampak cantik sebagai ratu semalam dan pangerannya nan tampan rupawan juga shalih dab banyak hafalan qur'an,  membuat diri sedikit banyak dipenuhi hayal dan harapan. 

"Duuh, bahagia banget yaa mereka... Jadi nggak sabar pengen cepet nyusul"

"iih so sweet yaa dia serasi banget, malu-malu gitu pas difoto tapi romantis, indahnya menikah tanpa pacaran"

dan ungkapan2 sejenis yang seketika menyergap penuhi pikiran n hati. Yang tadinya belum kepikiran nikah akhirnya juga ikut terpancing,   berharap segera datang pangeran berkuda putih (atau ber-alphard putih? )  namun shalih dan ideologis ditambah hafal qur'an, jago bahasa arab, pembicara kereen plus penulis.. Haha,  yang tetiba datang bertamu ke rumah bertemu wali kita dan bilang

" Saya berniat menjadikan anak bapak sebagai ratu dalam hidup saya, mendampingi sisa usia saya menapaki jalan ke surga, menjadi ibu dari anak-anak saya calon mujahid penakluk roma. Semoga bapak memperkenankan niat baik saya ini" 

Duuh langsung baper kan? Haha. Hingga akhirnya menikah dan hidup bahagia selamanyaaa.. Yeey. Indahkan khayalannya. Eeh lagi asyik berkhayal tiba-tiba dikejutkan dengan pertanyaan "Kapan nyusul nih?" "Kapan nikah?" "Masih betah aja jadi jomblo, truk aja gandengan masa kamu sendiri terus sih" aduuuh... Periih banget ya nasib jomblo, sabar aja ya mblo

Tapi tahu kah dear, menikah itu tak sesempurna apa yang ada dalam pikiran jomblo lho.. Yang seolah menikah adalah akhir dari segala masalah yang ada. Atau beranggapan semua kan berakhir bahagia selamanya. Berapa banyak dari kita yang ketika masalah ekonomi mendera, letih mencari sejumput materi tuk penuhi biaya hidup yang semakin tinggi mengangkasa akhirnya berharap besar segera Allah datangkan jodohnya agar selesai masalah ekonomi yang ada, hanya karena ada imam yang kan menafkahi kita. Atau yang nggak juga bisa bahasa arab misalnya,  akhirnya berharap betul dapet suami jago bahasa arab yang akan menyulap kita jadi ikut jago bahasa arab. Ehmm..

Hey, tapi faktanya tak semua pernikahan berakhir bahagia selamanya, tak melulu lantas bisa menyelesaikan masalah materi yang ada,  juga kehidupan sempurna ala cinderella.

Karena nyatanya, menikah bukan cuma sekedar bertambah kebahagiaan saat ada kekasih halal yang sudah teramat dirindukan, tapi juga seiring dengan bertambahnya masalah yang harus diselesaikan. Jadi, tujuan menikah jangan sampai hanya karena ingin masalah pribadi selesai ya dear, niatkan benar-benar untuk ibadah,  karena justru dengan menikah kita harus semakin siap dengan berlipatgandanya masalah yang terus menerpa rumahtangga kita. Yang tadinya ketika single hanya mikirin masalah pribadi, ketika menikah justru akan menggabungkan masalah kita dan suami,  bahkan menggabungkan masalah 2 keluarga besar kita n suami, akan kompleks dan berwarna deh pokoknya, hehe.

Dan ternyata menurut data yang ada, banyaak pernikahan yang justru berakhir perceraian lho. Dan tahukah dear, Indonesia adalah negara dengan peringkat perceraian nomor wahid se Asia Pasifik. Ini menurut data Bkkbn lho, dan angka perceraian ini terus melesat dari tahun ke tahun, duuh ngeri kan?

Seperti yang dikatakan oleh Anwar Saadi, selaku Kasubdit Kepenghuluan Direktorat Urais dan Binsyar Kementerian Agama membenarkan soal adanya peningkatan angka perceraian di Indonesia dari tahun ke tahun. Kenaikan angka perceraian mencapai 16-20 persen berdasarkan data yang didapat sejak tahun 2009 hingga 2016. "Jadi memang perceraian ini semakin meningkat dari tahunnya. Meski kenaikan tak melonjak, ini cukup mengkhawatirkan," papar Anwar. Dan mayoritasnya ternyata dilakukan oleh pasutri yang berusia dibawah 35 tahun. Waah, ini sih pasangan muda yang pernikahannya baru seumur jagung kan?
.
So, bagi kamu-kamu yang sudah terobsesi untuk segera nikah, apalagi sampe kebelet nikah karena desakan pertanyaan yang terus memojokkan, jangan cuma sekedar pengen aja yaa, tapi yang lebih penting adalah mempersiapkan bekal ilmu agama yg cukup untuk bisa membangun rumah tangga hingga ke surga.
.
.
Jadi, pengen aja nggak cukup dear, harus siap juga. Bukan cuma nyiapin bacaan tentang jodoh dan cinta yang cuma bikin baper yaa tapi juga kudu belajar islam secara kaffah, mulai dari bagaimana mengokohkan keimanan, memperbaiki ibadah maghdhah kita, perbaiki akhlak, pakaian, makanan yang halal n thayyib, sampe ke masalah muamalah seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, politik, sosial, de el el. And nggak ketinggalan juga dong tentang ilmu-ilmu seputar pernikahan dan rumah tangga yang sesuai Islam, bagaimana hak dan kewajiban suami istri, bagaimana menjaga keharmonisan rumah tangga, cara mendidik anak, dan jangan lupa bagaimana ta'aruf en khitbah yang sesuai syari'at (bukan pacaran berkedok ta'aruf ya) sampai bagaimana  prosesi walimah yang syar'i, nggak ikhtilat, no tabbaruj, no prosesi yang bertentangan dengan aqidah,  dll.
.

Karena, yang namanya rumah tangga nggak melulu soal romantis-romantisan dan cinta-cintaan dear, tapi berkaitan dengan seluruh aspek kehidupan kita, berkaitan juga dengan masalah muamalah, misalnya, jangan sampe ibadahnya baik, tapi membiarkan suami dapat nafkah dari riba atau bermuamalah tak syar'i lainnya. Duuh jadi nggak berkah kan jadinya. Gimana mau bangun rumah di surga kalo begini? Atau karena nggak ngerti gimana politik dalam islam,  akhirnya terjebak ikut milih pemimpin non muslim sekeluarga, karena merasa kinerjanya bagus atau sebatas suka aja,  yaa nggak berkah lagi kan jadinya.
.
.
Atau berapa banyak perselingkuhan terjadi hanya karena masing-masing suami dan istri tidak paham bagaimana aturan interaksi sosial dalam islam. Berawal dari sebatas rekan kerja, sering makan bareng di tempat kerja, berlanjut jadi tempat curhat dan berakhir jadi tempat menaruh sebagian hatinya. Duuh, sereem kan, padahal dalam Islam kan udah jelas batasan interaksi laki-laki dan permpuan. Jangan merasa aman dulu deh hanya karena masing-masing udah punya pasangan,  karena tetap saja tak boleh ikhtilat dan khalwat dengan lawan jenis kita yang bukan mahrom meskipun dia sudah memiliki suami atau istri.
.
.
Pokoknya, akan bahagia deh kalo ikut apa kata Allah aja, ikut syariat Islam itulah yang akan benar-benar mampu mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rohmah. Ketika Allah yang menjadi pengikat diantara pasangan suami istri, insya Allah deh badai sehebat apapun takkan pernah mampu karamkan bahtera rumah tangga kita, hingga ia akhirnya benar-benar bisa berlabuh di surga saja, bukan tempat lainnya.

Sumber:

Fb: Ratu Ika Chairunnisa

Post a Comment

0 Comments