Menyampaikan Bab Mencela Orang Lain ( Terutama kepada muslim )

RemajaIslamHebat.Com - Bismillah. Sejak kaka yang besar ambil kursus atas pilihannya sendiri. Sepekan 3x, selepas bada maghrib hingga jam 20.00 malam di sebrang komplek rumah. Maka jadwal kami duduk dengan 2anak pra baligh untuk berbagi kisah, sharing, ngobrol menjadi dimajukan. Pukul 17.00 sore hingga maghrib. Terbilang sebentar memang, tapi masih cukup waktu untuk duduk bercengkrama tanpa "gangguan" 2adik balita.

Fenomena mencela, mengejek, becanda dikalangan teman sekolah, sebaya itu mulai banyak. Menganggap hal ini sepele, tidak perlu dibesar-besarkan. Biasa aja, itu kan becanda dikalangan anak-anak. Padahal hal semacam ini tidak jarang menimbulkan rasa kecewa, jengkel, bahkan perisakan secara fisik juga diawali yang becandaan tidak sengaja ini. Kebanyakan anak-anak itu belum paham, mengapa dan apa akibat yang mereka perbuat. Siapa yang merasa perlu memahamkan?

Guru melalui sekolah nya kah? saya rasa guru tentu sudah melakukan itu. Apa sudah merasa cukup , jika anak-anak tidak dibekali dari rumah. Tiada contoh,  bahkan perisakan itu malah sangat mungkin dilakukan oleh orang tua, saudara tanpa penyelesaian yang berarti, dan konkrit.

Harga diri yang direndahkan, atau tayangan kekerasan yang begitu mudah diakses anak dengan mudah yang membuat ejekan, celaan bahkan candaan tanpa memahami adab menjadi hal yang biasa. Seolah lumrah. Menyedihkan.

Hingga hal ini yang membuat saya merasa perlu mengulang-ulang menyampaikan ke anak-anak, mendengarkan curhatan mereka saat bersama teman disekolah. Persoalan apa yang sedang dihadapi. Tanpa keburu ingin menghakimi. Atau merasa senang dan ingin sekali segera memberikan nasihat.

Hanya butuh waktu minimal satu jam saja, ayah-bunda. Menyimak anak-anak bercerita dengan hati lapang orang tua. Menyediakan telinga yang lebar serta mencerna dengan baik sehingga mendengarnya mampu dengan pikiran jernih.

Pembicaraan santai, tapi adanya keilmuan. Mendekatkan jiwa dan membangun rasa satu sama lain. Kemudian lihat lah ketika setelahnya anak bahkan mampu mengucapkan. Alhamdulillah sekarang aku sudah merasa LEGA karena sudah curhat dengan ayah, bapak, bunda, umi, atau ibu. Rasakan aura kesejukan itu hadir. Menampilkan wajah cerah dan mata yang berbinar.

Tanpa perlu biaya mahal. Ibu dan ayah bisa menjadi terapis terbaik untuk anak-anaknya. Hanya syaratnya mau dan mampu meluangkan waktu. Wallahu'allam bii shawab.

Nurliani
-sedang belajar mendengar

Sumber:

Fb: Nurliani Ummu Nashifa-Zhafira

Tulisan tambahan dari fb Baiq Dwi Suci Anggraini :

Dilema santri Bahasa Arab, kata mereka tergantung pada 3 hal utama: Harta, Cita-cita, dan Cinta.

Bayangkan saja jika hanya dunia yang sibuk kau kejar, bukan tidak mungkin urusan menuntut ilmu pun akan menjadi aktivitas sampingan bagi siapa saja. Bagi mereka, belajar bahasa kitab adalah kegiatan di sisa akhir pekan yang bisa dipelajari dengan sekali duduk habis secangkir teh, padahal mendalami ilmu pengantar ini ada waktu utama yang dibutuhkan agar fokus. Konsentrasi diperlukan lebih tinggi agar pemahaman terhadap bahasa kitabullah menjadi titik perhatian yang diutamakan, sehingga dengannya akan datang keberuntungan serta kemuliaan bagi yang serius menjalani. Maka ketika dunia ditinggalkan, lalu akhirat lebih manis dijalankan, Insyaa Allah kemuliaan apapun diperoleh sebagai hadiah daripadanya. Demikianlah kecintaan pada dunia akan lenyap tergantikan oleh kesungguhan menelaah setiap pelajaran darinya. Mulialah siapa saja yang belajar dan mengajarkan bahasa Al Qur'an dengan sungguh-sungguh. Allah akan memuliakan para pembelajar dan seluruh pengajarnya, Aamiin.

Hari ini salah seorang menceritakan, betapa Kairo telah menjadi sebuah negeri yang diberkati. Peradaban islam memancar didalamnya hingga tersebar wanginya ke seluruh penjuru bumi. Di Alexandria sana, rumahnya literatur paling besar di dunia pun ada padanya. Siapapun yang menghafal dan mengamalkan Al Qur'an dengan nyaris sempurna, Allah kelak menghantarkan mereka langsung ke hadapan ka'bah yang dimuliakan. Alangkah indah setiap kisah yang terceritakan, kami menyelami dan mulai tertarik jadi bagian dari salah satunya. Bercita-citalah untuk menyaksikan kegemilangan literatur ilmu dimana saja, bermimpilah mengepakkan harapan agar Al Qur'an dan bahasa Arab mampu membawamu terbang melesat kemanapun. Percayalah, mudah bagiNya mengabulkan apa saja yang kau minta. Jangan malas memohon, sebab jika tak meminta negeri yang jauh pun, artinya kau telah berlaku sombong dengan menafikan keberadaan Allah sebagai Dzat Yang Maha pemberi.

Terakhir, cinta yang membuat luntur seinci niat. Kebanyakan perkara yang menggerogoti langkah penimba ilmu, di antaranya soal cinta. Bahkan menyegerakan menerapkan sunnah itu lebih utama selain tholabul ilmi, namun kemudian jangan jadikan godaan di awal hingga akhirnya bertengkar cuma gara-gara cinta yang tak jelas asal-muasal mereka. Ujungnya, jika belum ada yang berani memasuki pintu rumahmu, jangan sekalipun percaya pada cinta yang biasanya akan merusak perhatianmu pada majelis ilmu. Lepaskanlah harta dan cinta itu, karna telah jelas didepan masing-masing kita, Allah bukakan 70 pintu bukan. Tapi, pintu-pintu itu hanya akan terbuka bagi mereka yang betul-betul meyakini bahwa Allah selalu bersama mereka. Bahwa, harta dan cinta adalah bagian dari pintu-pintu yang Allah bukakan 'asal' engkau yakin.

Belajar bahasa arab, bukanlah dilema yang mestinya dibangun diatas harta atau cinta. Sebab setiap perakara ini, telah Allah rizkikan dengan jalannya tersendiri. Maka bercita-citalah mempelajarinya hanya untuk memahami agamamu dengan benar. Gantungkan cita-cita itu agar ia mendarahdaging dalam benakmu, agar Allah terasa dekat sehingga menjadi musabab bagi langit mencurahkan kasihsayang untukmu. Berbagilah, berbicaralah, berbaringlah dengan ilmu itu. Bahkan saat tidur dan bangunmu pun akan tetap sama,  masih saja terus memikirkannya. Lekas singkirkan kerikilnya, lalu bangunlah jembatannya. Mari menaiki menaranya.

Post a Comment

0 Comments