Menikahi Perempuan Hamil & Nasab Anaknya

Ustadzuna Ustadz Rivaldi.. Bagaimana status pernikahan perempuan hamil yang sekarang marak terjadi? Kemudian apakah anaknya dinasabkan pada ibunya tok?

Jawab :

Sungguh, zina adalah perbuatan hina dan jelek dimana mendekatinya saja sudah dilarang oleh Allaah.
ً

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk “ [QS. Al-Isra[17]: 32]

Diantara jalan perantara zina itu antara lain :

-Pacaran. Dianggap wajarnya budaya pacaran serta gaul bebas, merupakan pintu masuk meluasnya perbuatan zina. Para Orang tua, Guru dan Masyarakat tidak boleh menganggap bahwa pacaran itu hal yang wajar. PACARAN ITU HARAM.

- Campur baurnya laki laki dan perempuan dalam berbagai aktivitas kehidupan. Islam tidak memandang campur baurnya laki laki dan perempuan dalam berbagai kesempatan sebagai hal yang baik. Laki laki memiliki kehidupannya sendiri, perempuan juga sama. Kecuali memang beberapa kondisi yang menuntut antara pria dan wanita saling berinteraksi.

- Dibiarkannya para perempuan membuka auratnya, serta menampakkan kecantikannya kepada selain suami/mahromnya. Juga dibiarkannya kaum lelaki memandang hal hal yang terlarang.

Semua ini merupakan perbuatan terlarang, yg menjadi jalan zina. Karena itu, solusi untuk mengenyahkan praktek zina adalah dengan mencegah jalan jalan zina tersebut.

*Menikahi Perempuan Hamil & Nasab Anaknya*

Terkait hukumnya sendiri, maka harus dirinci agar tidak memunculkan salah persepsi. Karena, terkait "menikahi perempuan hamil" akan ada banyak ketentuan, dimana maksud "perempuan hamil" itu sendiri berbeda beda.

1). Hukum Menikahi Perempuan Hamil yang dicerai/ditinggal mati suaminya

Hukumnya haram, karena perempuan ini statusnya masih dalam masa iddah, hingga ia melahirkan.
َ

"Dan perempuan-perempuan yang hamil itu ‘iddah mereka sampai mereka melahirkan." [QS. Ath Thalaq:4]

Nasab anaknya sendiri tentu saja disambungkan kepada mantan suami perempuan ini. Karena bagaimana pun, anak ini merupakan bagian dari benih nya dan berasal dari pernikahan yang sah/hubungan halal.

2). Hukum Menikahi Perempuan Hamil akibat Selingkuh/Zina, dan Ia berstatus Istri Orang lain

Hukumnya tetap haram, karena selama perempuan itu berstatus sebagai istri sah seseorang, maka ia haram dinikahi walaupun laki laki lain menghamilinya.

Perbuatan selingkuh/zinanya tidak menyebabkan perempuan ini berpisah dengan suami sahnya. Begitu pun jika suami berselingkuh/berzina dengan perempuan lain. Tidak terfasakh(batal) pernikahannya. (Al Mughni, 9/565)

Dalam hal ini suaminya berhak mempertahankannya, atau menceraikannya.

Adapun nasab anaknya, walaupun anaknya secara nyata anak biologis dari laki laki pasangan zina nya; status anaknya dinasabkan kepada suami perempuan ini.

Hal ini dikarenakan terdapat hadits : Dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anha, bahwasanya Nabi bersabda,
ُ
"Anak itu haknya (laki-laki) yang memiliki tempat tidur dan bagi yang berzina adalah batu/keterputusan". [HR. Bukhari (No. 6749) dan Muslim (4/171)]

Syaikhul Islam Ibn Hajar menjelaskan hadits ini :

"Diriwayatkan dari Imam Syafi'I dua pengertian tentang makna dari hadist “ Anak itu menjadi hak pemillik kasur/suami “ . Pertama : Anak menjadi hak pemilik kasur/suami selama ia tidak menafikan/mengingkarinya.  Apabila pemilik kasur/suami menafikan anak tersebut (tidak mengakuinya) dengan prosedur yang diakui keabsahannya dalam syariah, seperti  melakukan Li’an, maka anak tersebut dinyatakan bukan  sebagai anaknya. Kedua : Apabila bersengketa (terkait kepemilikan anak) antara pemilik kasur/suami dengan laki-laki yang menzinai istri/budak wanitanya, maka anak tersebut menjadi hak pemilik kasur/suami. Adapun maksud dari “ Bagi Pezina adalah Batu “ bahwa laki-laki pezina itu keterhalangan dan keputus-asaan. Maksud dari kata Al-‘Ahar dengan menggunakan dua fathah (pada huruf ‘ain dan ha’) adalah zina. Ada yang berpendapat bahwa kata tersebut digunakan untuk perzinaan yang dilakukan pada malam hari. Oleh karenanya, makna dari keputus-asaan disini adalah bahwa laki-laki pezina tersebut tidak mendapatkan hak nasab atas anak yang dilahirkan dari perzinaannya.  Pemilihan kata keputus-asaan di sini sesuai dengan tradisi bangsa arab yang menyatakan “Baginya ada batu” atau : "Di mulutnya ada batu” buat orang yang telah berputus asa dari harapan. Ada yang berpendapat bahwa pengertian dari batu di sini adalah hukuman rajam.  Imam Nawawi menyatakan bahwa pendapat tersebut adalah lemah, karena hukuman rajam hanya diperuntukkan buat pezina yang muhsan (sudah menikah).  Di sisi yang lain, hadist ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan hukum rajam, tapi dimaksudkan untuk sekedar menafikan hak anak atas pezina tersebut. Oleh karena itu Imam Subki menyatakan bahwa pendapat yang pertama itu lebih sesuai dengan redaksi hadist tersebut, karena dapat menyatakan secara umum bahwa keputus-asaan (dari mendapatkan hak anak) mencakup seluruh kelompok pezina (muhsan atau bukan muhsan)". (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 12/36)

Namun, jika ternyata suami menolak anak tersebut dinasabkan kepadanya, maka ia mesti melakukan li'aan terhadap istri. Yakni suami bersumpah bahwa anak yang dikandung istrinya bukan anaknya. Dengan begitu, anak tersebut dinasabkan kepada ibunya, dan mereka bercerai serta tidak dapat rujuk kembali selamanya.

Dijelaskan oleh Imam Ibn Abdil Barr :

"Umat telah ijma’ (bersepakat) tentang hal itu dengan dasar hadits Nabi shallallahu 'alayhi wasallam, dan beliau menetapkan setiap anak yang terlahir dari ibu, dan ada suaminya, dinasabkan kepada ayahnya (suami ibunya), kecuali ia menafikan anak tersebut dengan li’an, maka hukumnya hukum li’an." (At-Tamhid, 8/183)

3). Hukum Menikahi Perempuan Hamil akibat Zina, dan Ia berstatus belum menikah

Para Ulama berselisih pendapat mengenai hal ini :

• Jika yang ingin menikahi adalah laki laki yang menghamilinya/pasangan zina nya, maka :
 
a. Menurut Madzhab Syafi'I dan banyak para Ulama : Hukumnya boleh. Bahkan ia juga boleh menggauli meski dalam keadaan hamil. (Kifayatul Akhyar, hal. 579; Al Ma'ani Al Badihah, 2/212)

Meski begitu, dosa mereka tetap ada walau pun akhirnya mereka menikah, kecuali jika mereka berdua taubat nasuha(taubat yang sungguh-sungguh).

Adapun anak nya, maka ia tidak menanggung dosa apa pun. Rasul bersabda :
“Setiap anak terlahir dalam kondisi fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang yahudi, nasrani, atau majusi." [Muttafaq 'Alayh]

b. Menurut Rabi'ah, Imam Malik,  Ats-Tsauri, serta Abu Yusuf : Hukumnya tidak boleh mereka menikah, kecuali setelah perempuan hamil hasil zina itu melahirkan. (Al Ma'ani Al Badi'ah, 2/212; Al Mawsu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 16/272)

c. Menurut Ulama Madzhab Hanbali : Hukumnya tidak boleh mereka menikah, kecuali setelah perempuan hamil hasil zina itu taubat, dan melahirkan anak hasil zina nya. (Al Mughni, 7/141; Al Mawsu'ah, 16/273)

Dalam hal ini, pendapat terkuat adalah pendapat pertama, dengan dalil :

1). Firman Allah Q.S An-Nisa’ : 24, berbunyi :
َ

"Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina." (QS. An-Nisa’ : 24)

Perempuan yang hamil karena zina termasuk dalam kategori mutlaq perempuan yang dihalalkan untuk dinikahi pada ayat diatas, sementara itu, tidak ada dalil atau ‘illat lain yang menunjukkan kepada haram menikahinya. Apabila dikatakan perempuan hamil karena zina itu   ber’iddah, ini juga tidak, karena hamil sebab zina tidak dihormati dalam agama, buktinya anak dalam kandungannya itu tidak dihubungkan nasabnya kepada laki-laki penzinanya. Dan aturan iddah, thalaq, hanya dimiliki dari pernikahan halal.

2). Hadits Nabi :

"Perbuatan haram tidak mengharamkan yang halal." (HR. At-Thabrani)

Istidlalnya : Zina yang menyebabkan hamil adalah perbuatan haram. Karena itu, zina tersebut tidak dapat mengharamkan perbuatan halal, yakni halal dinikahi perempuan oleh seseorang laki-laki.

Imam Nawawi telah menyebut dua dalil di atas sebagai sebagian dalil boleh menikahi perempuan hamil karena zina. [Majmu’ Syarah al-Muhazzab, 16/242]

• Jika dinikahi oleh laki laki yang bukan pasangan zina nya; maka para ulama bersepakat bahwasanya perempuan hamil itu tidak boleh di gauli hingga ia melahirkan dan istibra'(bersih rahimnya dari benih orang lain). (Al Mawsu'ah, 16/273)

Hal tersebut berdasarkan hadits :

Dari Abi Marzuq ia berkata : "Kami bersama  Ruwaifi’ Ibn Tsabit berperang di Jarbah, sebuah desa di daerah Maghrib, lantas ia berpidato : “Wahai manusia, saya sampaikan apa yang saya dengar dari Rasulullah pada saat perang Hunain seraya beliau bersabda: “Tidak halal bagi seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya menyiramkan air (mani)nya ke tanaman orang lain (perempuan hamil hasil orang lain)’ (HR Ahmad 4/108; dan Abu Dawud No. 2158, 2159)

Adapun pernikahannya, maka tidak jauh berbeda dengan menikahi perempuan hamil hasil zina dia sendiri. Boleh bagi madzhab Syafi'I, kecuali ia dalam hal ini tidak boleh menggauli.

Terkait nasabnya, maka jumhur ulama menetapkan bahwa anak hasil zina perempuan yang tidak bersuami, nasabnya di sambungkan ke ibunya. Misal : Fulan bin Fulanah, atau Fulanah binti Fulanah.

Dalilnya :

“Anak Zina untuk keluarga ibunya yang masih ada, baik dia wanita merdeka maupun budak.[HR. Abu Dawud, No. 2268]

Dalil lain yang menegaskan hal itu adalah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abdullah bin Amr bin Ash, beliau mengatakan,
ُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka tidak dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya… [HR. Ahmad, Abu Daud]

Dan ini merupakan pendapat jumhur ulama, termasuk madzhab Syafi'I. [I'anatu At-Thalibin, 2/128; Al Muhalla, 10/323]

Merujuk pada Fatwa MUI No. 11 Tahun 2012 Tentang Kedudukan Anak Zina, Anak Zina tidak dapat dinasabkan kepada ayah biologisnya -walau bagaimana pun juga- demi mencegah munculnya perilaku zina, sebagai bentuk hukuman sosial.

Karena itu, menurut hemat kami, pendapat bahwa anak hasil zina dapat dinasabkan kepada bapak biologisnya, mesti ditinjau ulang. Mudah mudahan Allaah senantiasa membimbing kita. Wallaahul musta'aan.

Ayo Share..

Sumber:

Telegram : Ngaji FIQH

Post a Comment

0 Comments