Mendidik Anak Tentang Makanan Sehat Menurut Islam

RemajaIslamHebat.Com - Anak-anak menggemari makanan kecil, cemilan, atau jajanan, merupakan hal yang biasa. Anak-anak pun mudah mendapatkannya. Penjual di depan sekolah, atau minimarket dan warung dekat rumah, merupakan penyedia jajanan anak-anak. Secara kemasan, rasa, hingga ragamnya, terdapat banyak pilihan makanan jajanan. Apalagi yang berhadiah, anak-anak pasti makin tertarik membelinya, yang bahkan mereka kadang tak peduli dengan rasa jajanannya.
.
Namun demikian, orang tua tetap harus melakukan pengawasan. Semata agar anak-anak tidak salah dalam memilih jajanan. Orang tua juga perlu waspada, yaitu pada penganan yang sering disebut kurang sehat, atau lebih tepatnya bernilai gizi rendah. Ini karena anak-anak sangat mungkin belum paham jenis-jenis makanan berdasarkan tinjauan nilai gizinya.
.
Makanan jajanan dimaknai sebagai makanan dan minuman yang diproduksi oleh pengusaha sektor informal dengan modal kecil, dijajakan dan siap dikonsumsi di tempat-tempat keramaian, sepanjang jalan, pemukiman, dengan cara berkeliling, menetap, atau kombinasi kedua cara tersebut. Makanan jajanan dapat berupa makanan utama atau selingan.
.
Di samping itu, ilmu gizi berskala umum selayaknya menjadi pemahaman bersama di tengah-tengah masyarakat. Misalnya, hampir semua orang pasti tahu bahwa wortel mengandung vitamin A, buah-buahan mengandung vitamin C, tauge (kecambah) mengandung vitamin E, nasi mengandung karbohidrat, susu mengandung kalsium, telur mengandung protein, dsb. Namun dari sini dapat kita simpulkan bahwa memiliki pengetahuan tentang gizi, meski sedikit, ternyata menunjukkan pengaruh yang berbeda dalam sikap yang diambil masyarakat, khususnya para orang tua, ketika memilihkan penganan untuk buah hatinya.
.
Tak sebatas ilmu gizi, bagi keluarga Muslim, pemahaman mengenai hukum makanan juga menjadi komponen mutlak. Dalam Islam, makanan harus memenuhi dua perkara, yaitu halal dan thoyib (baik). Bagi Muslim, halal itu standar mutlak, sedangkan thoyib bersifat relatif. Relatifnya thoyib di sini bermakna suatu makanan bisa jadi thoyib untuk seseorang, namun belum tentu thoyib untuk orang yang lain. Misalnya ada makanan mengandung gula sebagai salah satu bahan dasarnya, artinya makanan tersebut akan berasa manis. Bagi orang yang sehat tentu tidak masalah makan makanan tersebut. Tapi bagi penderita diabetes, tentu makanan manis adalah pantangan. Jadi makanan manis tidak thoyib bagi penderita diabetes. Nah, aspek thoyib inilah yang harus memiliki acuan. Khususnya agar anak-anak tak jajan sembarang makanan.
.
Berdasarkan tinjauan di atas, maka urgen bagi keluarga Muslim untuk kemudian memilah dan memilih makanan atau jajanan bagi putra-putrinya secara proporsional. Jangan akibat termakan iklan, hingga kita jadi hobi jajan.
.
Bagaimana pun, ibu adalah al-madrasatul ulaa, sekolah pertama dan utama bagi anak-anak. Di sini krusial tentunya bagi seorang ibu untuk menanamkan konsep berpikir benar (rasional) kepada anak sejak usia dini, dalam aspek makanan dan makanan jajanan mereka. Karenanya, ibu memegang kunci dalam penyediaan makanan bergizi bagi anak, berikut cara pandang anak terhadap makanan secara keseluruhan.
.
Konsep berpikir benar ini berprinsip pada metode asasi, yang mengajarkan kita untuk memikirkan fakta yang terindera oleh kita, hingga kemudian dihasilkan suatu pemahaman atau kesadaran terhadap fakta tersebut. Misalnya, jika sebelumnya si anak tidak pernah kenal permen, tidak terbiasa makan permen, atau senantiasa dibiasakan tidak langsung dituruti keinginannya, maka si anak dapat mengikuti arahan kita agar hobi makan permen.
.
Termasuk dalam hal ini adalah mengajak anak jajan ke warung/toko, atau terlalu dini memperkenalkan fungsi dan nominal uang, jika menjadi kebiasaan yang diberikan oleh ibu kepada anak, maka si anak juga bisa hobi jajan. Karena itu, di sini penting sekali bagi ibu memberi teladan untuk terbiasa berpikir benar, agar anak juga mampu berpikir benar.
.
Aspek penting, dalam menyempurnakan konsep berpikir benar tentang makanan di sini adalah konsep syukur dan qana’ah (puas dan rela, merasa cukup dengan pemberian Allah Swt, pen.). Makanan adalah salah satu jenis rezeki yang diberikan oleh Allah Swt. Rezeki yang kita miliki harus disyukuri, dan kita juga harus qana’ah terhadapnya.
.
Disamping itu, tentu kita sembari terus memohon penjagaan Allah Swt bagi mereka. Firman Allah Swt: “Dan orang orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.’ Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (TQS Al-Furqon [25]: 74-76).
.

Penulis : Ummu Yazid
Relawan Opini dan Media
(nindira.a@gmail.com)

Sumber:

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10210688599190524&id=1214957919

Post a Comment

0 Comments