Mendidik Anak Mandiri

RemajaIslamHebat.Com - Saya dan kedua adik saya dididik oleh orangtua menjadi pribadi yang mandiri. Tidak boleh bergantung pada siapapun (kecuali Allah dong ya..). Harus bisa kemana-mana sendiri, melakukan apapun sebisa mungkin sendiri, sampai wajib bisa menghidupi diri sendiri langsung setelah lulus kuliah.

Padahal buat yang tau, kuliah di FK itu, lulusannya tidak serta merta bisa langsung praktik. Perjalanan masih panjang. Dari lulus sampai ikut UKDI perlu waktu 3 bulan, dari UKDI ke mendapatkan STR perlu 3 bulan lagi, itu pun masih belum tentu bisa langsung praktik. Sebagian lulusan FK yang beruntung bisa lanjut sekolah spesialis, sebagian lain masih ingin mendapatkan pengalaman berharga dengan PTT, lainnya bertahan hidup dengan kemampuan ala kadarnya, menjadi asisten penelitian PPDS atau dosen misalnya.

Haram hukumnya bagi tiga bersaudara ini berdiam diri menunggu kiriman dari orangtua, sementara ijazah sudah ditangan. Dan orangtua kami juga otomatis menghentikan bantuan hidup dasar setelah kami dinyatakan lulus oleh universitas. Kami bekerja apa saja sementara administrasi belum selesai, supaya tidak lagi membebani orangtua.

Apa yang membentuk pribadi kami hingga bisa sekuat itu?

Orangtua kami tidak pernah membelikan barang diluar kebutuhan kami dengan mudah begitu saja. Sejak SMP, kami sudah diberi uang saku bulanan. Terserah mau aturnya gimana. Terserah mau dihabisin diawal atau ditahan sampai akhir bulan. Yang jelas tidak ada tambahan uang saku kecuali memang kebutuhan sekolah, misal buku, alat tulis, seragam, dst. Kalau kurang gimana dong? Terserah aja. Pokoke ga ada tambahan. Titik.

Sejak SD, saya sudah terbiasa berjualan di sekolah. Jual kacang kerici, jual jambu air panen depan rumah, jual es batu dengan antar ke rumah pembeli gratis pernah saya lakukan. Hasilnya mungkin tidak seberapa, tapi ini membentuk karakter tidak (tahu) malu ketika di masa dewasa harus berjualan jasa. Apa orangtua saya begitu tidak mampu sampai saya harus berjualan? Ada masa itu, tapi ketika mampu pun, saya tetap berjualan.

Saya sudah pulang pergi sekolah sendiri sejak TK. Jaman dulu mah ga ada penculikan ya, makanya ortu santai aja. Saya baru bisa naik sepeda kelas 3 SD, jadi kelas 1-2 SD ya jalan kaki. Jarak rumah ke sekolah lumayan banget. Lewat sawah, empang, jalanan becek, kebon, asrama. Wuih, jauh ya? Tapi heran lho, ngga ngeluh karena perginya rame-rame sama teman-teman yang rumahnya deketan juga sekolahnya satu komplek.

Pindah ke madiun, saya hanya diantar jemput ketika kelas 5, mulai kelas 6 saya naik sepeda. Jarak rumah ke sekolah kira-kira 7km, naik sepeda paling cepat lewat pinggir rel kereta yang hanya bisa dilalui di musim kemarau, kalau musim hujan becek banget bisa nyemplung sawah.

Kuliah jauh dari orangtua? Siapa takut? Tinggal di asrama dan bertemu dengan teman-teman dari daerah membuat saya semakin semangat. Apalah saya, cuma anak dari madiun yang masih bisa pulang kampung kalau ada libur 3 hari. Apa kabar teman saya dari lombok, Delly Chipta Lestari, dari makassar Andi Deviriyanti Agung, yang harus menahan rindu tidak pulang kampung bahkan ketika lebaran karena jauhnya jarak dari jakarta.

Ketika kuliah, pernah saya mengajukan proposal beli laptop seharga 4 juta rupiah. Proses negosiasinya sungguh tidak mudah. Akhirnya keluarlah approval, "Piro regane? 4jt to? Ki duite 2jt." Melongo ga dengernya? Lah yang 2jt darimana dong? Cari sendiri lah.

Kami jadi terlatih untuk memikirkan, bagaimana caranya memenuhi kebutuhan (dan keinginan) yang banyak dengan jatah bulanan yang seadanya. Saya menjadi guru les privat anak SMP mulai tingkat 2. Selain penghasilan yang lumayan, saya jadi terlatih untuk bisa mengatur waktu dengan baik. Kuliah di FK itu sesuatu lho. Mulai kuliah jam 7, selesai paling cepat jam 4, belum urus organisasi, belum kalau ada kegiatan lain, setelahnya masih harus ngajar privat, belum mikirin ujian besoknya (ketauan sukanya wayangan hahahhaa..).

Ketika koass, jadwal lebih kacau balau, kuliah jam 7 sampai jam 4, lanjut jaga malam sampai jam 7 pagi besoknya, lanjut lagi kuliah sampai jam 4 sorenya, dan masih lanjut kegiatan ini, anu, itu, dst, gitu aja terus sampe lulus. Jadi, mata panda ini saya uda punya sejak kuliah, bukan sejak punya bayi .

Ah, jadi kemana-mana kan cerita saya.

Sekarang saya dan suami sepakat menerapkan apa yang orangtua kami ajarkan mengenai kemandirian.

Saat ini anak masih antar jemput, tapi kami siapkan fisik, mental dan spiritualnya agar suatu saat dia pergi sekolah sendiri, kami tidak perlu khawatir lagi.

Ketika anak memiliki keinginan, kami ajarkan dia untuk menabung dulu, menahannya hingga tabungannya cukup dan bisa memenuhi keinginannya.

Kami latih mereka untuk bisa berpikir bagaimana caranya menghasilkan uang. Pasien saya tentu tak asing dengan anak-anak yang ikut serta ke rumah mereka ketika homevisit. Mereka sekarang bisa menawarkan bantuan kepada bunda, diluar tugas rumah, dan mendapatkan imbalan yang cukup membuat mereka bahagia. Misal, pijitin bunda 10 menit, dapet 2 ribu. Lumayan kan buat bocah 6 tahun?

Kami ajarkan mereka untuk melayani diri sendiri, mandiri tanpa harus dibantu lagi, kecuali kalo lagi sakit saja. Mandi, makan, pakai baju, sepatu, siapkan tas sekolah sendiri. Kan mereka yang mau sekolah, siapin sendiri lah.

Kami berusaha konsisten agar dapat membentuk anak dengan karakter, jiwa dan kepribadian yang kuat, karena kita tidak tahu sampai kapan bisa mendampingi mereka.

Kami bukan lah orangtua yang sempurna, setidaknya kami berusaha semaksimal mungkin.

Yuk ikut ceritakan gimana orangtua mendidik jadi mandiri? Dan bagaimana menerapkan prinsip kemandirian ke anak-anak?

Sumber:

Fb: Ika Fajarwati Rifaldi

Post a Comment

0 Comments