ME TIME TERATUR = WARAS TERUKUR

Oleh : Amalia Sinta

HALO Mak Sayang, rasanya lama ya saya gak posting tulisan di FB. Setelah rangkaian acara launching buku dan sibuk urus pesanan buku, lanjut urus packing untuk pindah ke luar kota. Jadilah baru sempet nulis sekarang.

Semalam sebuah chat dari seorang ibu membuat saya terhenyak. Bagai disambar petir di siang bolong saat dia berkata :
"AKU INGIN BUNUH DIRI, Mbak!"

Huft, saya bukanlah psikolog ataupun psikiater. Tapi saya ingin sekali bisa menolong jika ada ibu yang stress berat sampai terpikir ingin bunuh diri gini.

Alarm dalam diri saya menyala keras-keras, dan saya fokus sepenuhnya ke yang bersangkutan.

Jadi teringat sebuah artikel yang belum lama ini dimuat di The AsianParent Indonesia, tentang cerita seorang ibu muda yang bunuh diri karena depresi pasca melahirkan.

Dear para mama muda,
Menjadi ibu itu memang berat sekali ya. Kehidupan berubah 180 derajat. Kebutuhan pribadi terenggut, pergi jalan-jalan dengan bebas tinggal lah kenangan. Mandi lama dan makan tanpa terburu-buru rasanya sudah jadi impian nomor satu.

Urusan kita hanya seputar menyusui, ganti popok, memandikan dan gendong saja. Belum lagi ditambah episode bergadang yang jelas menguras energi dan emosi.

Masalah dirasa makin berat jika anak sudah lebih dari satu, terutama ketika jaraknya dekat. Kakaknya belum mandiri, adik bayinya rewel sekali. Tak ada asisten rumah tangga yang membantu. Cucian baju dan piring kotor jadi pemandangan sehari-hari. Tak ada teman berbagi, karena suami sibuk sendiri.

Siapa yang tahan dengan situasi seperti ini?
Setiap hari, berulang lagi dan lagi..

Dear para mama muda,
Saya sungguh prihatin akan masih melekatnya stigma negatif di masyarakat kita, bahwa istri harus mampu mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri. Jika tidak, maka akan dilabel pemalas.

Bahwa istri harus selalu merawat anak sebaik-baiknya tanpa cela. Anak sakit, ibu disalahkan. Anak kurus, ibu diinterogasi.

Bahwa dengan segala beban mengurus anak-anak dan rumah, istri harus selalu tampil cantik, wangi dan rapi. Jika tidak, suami akan dengan mudahnya terlibat perselingkuhan dengan pelakor di luar sana. Seolah janji setia dalam perkawinan tiada artinya.

Huft, sedih sekali jika kaum wanita hanya selalu dituntut memenuhi kewajibanya, tanpa dipenuhi haknya.

Iya, HAK nya.

Setiap istri berhak atas sebagian waktu untuk membahagiakan dirinya sendiri, yang sering disebut dengan ME TIME.

Sering sekali saya mendapati istri yang masih menganggap bahwa Me Time itu tidak penting. Dan rasanya para suami lebih banyak lagi yang berpikiran demikian, bahkan mungkin tidak tahu apa itu Me Time.

Bu, bermain dengan anak bukanlah Me Time. Memasak bukanlah Me Time, kecuali masak mie instan plus telor dan cabe rawit untuk diri sendiri hehe..

Me Time adalah sepotong waktu yang kau gunakan untuk melakukan hal pribadi Untuk Dirimu Sendiri, yang kau suka, yang menyenangkan hatimu.

Contoh paling mudah Me Time adalah melakukan hobimu sendiri. Paling aman dilakukan saat anak tidur.

Tak perlu mahal atau keluar rumah. Me Time bisa berupa membaca buku, novel, menulis, menonton film kesukaan, dengerin musik, berkebun, menyulam, menjahit, membuat kue, mandi sepuasnya, makan dengan santai, tidur lama, beribadah dengan tenang, berolahraga atau sekedar berselancar di dunia maya sambil ngemil coklat.

Jika ada waktu dan dana lebih, Me Time bisa berupa jalan-jalan, ke salon, ketemu teman/komunitas. Apapunlah yang kau suka, yang kesemuanya itu, Tidak Diganggu Anak.

Kenapa Me Time ini penting untuk dimiliki para ibu?

Karena secara psikologis, setiap manusia mempunyai batas limit stress. Butuh jeda, butuh istirahat, secara fisik dan mental.

Me Time adalah saat untuk melepas stress. Saat ibu melakukan hal yang disukainya, tanpa diganggu urusan lain, ia akan fokus membahagiakan dirinya sendiri. Selanjutnya otak akan memproduksi hormon endorfin yang memunculkan perasaan bahagia dalam hati.

Ibu pun akan rileks, kembali riang dan segar. Jadi moment stress release ini harus dimiliki agar ibu tetap waras.

Sedangkan ibu yang tidak memiliki Me Time, setiap hari akan menumpuk stress soal anak dan rumah. Lebih parah jika suaminya tidak tanggap, justru menambah beban perasaan.

Makin hari tumpukan emosi negatif makin tinggi, dan bagai bom waktu, akan tiba saatnya meledak. Rasa sesak dalam hati tak terbendung lagi, ingin teriak kencang pun tak mampu lagi, akhirnya jadi depresi yang memunculkan keinginan untuk bunuh diri.

Maka Jangan Merasa Bersalah saat meyisihkan waktu untuk Me Time ya Bu. Ikutlah tidur saat anak tidur siang. Sesekali abaikan rumah yang berantakan jika fisikmu sudah tak kuat. Sayangi dirimu, cintai dirimu.

Dan untuk para suami, sadarkah Pak, bahwa engkau memegang peran yang sangat penting untuk menjaga kesehatan jiwa istrimu.

Duhai Suami,
Plis perhatikan istrimu. Ajak dia mengobrol setiap hari. Meski yang dia katakan bukanlah hal penting semacam manuver politik terkini, tapi ceritanya tentang tetangga baru yang menyetel musik keras-keras sepanjang hari, perlu kau dengarkan. Tanggapi dan biarkan dia melepas emosinya.

Duhai Suami,
Tiap akhir pekan plis bebaskan istrimu dari tugas memasak. Ajak ia makan bakso di lapangan sembari kau ajak main anak-anakmu. Biar dia rileks sebentar.

Duhai Suami,
Plis bela istrimu saat keluarga besarmu menyerangnya soal pengasuhan anak. Jika kau tak ada di pihaknya, apa gunanya ia berpeluh keringat merawat anakmu selama ini?

Dan terpujilah engkau, suami yang mau turun tangan membantu pekerjaan saat tidak ada pembantu di rumah. Wanita yang kau nikahi itu adalah untuk dijadikan istri, bukan pembantu kan?

Namun jika istrimu ingin memiliki asisten rumah tangga, kabulkanlah. Itu bukan berarti ia malas. Biarkan ia pakai tenaganya untuk mengurus anak-anakmu yang super aktif itu.

Jika istrimu memilih untuk tidak memasak dan membeli lauk saja, dukunglah. Itu adalah pilihan tepat bagi mereka yang tidak nyaman di dapur.

Atau jika istrimu ingin memakai jasa loundry, setuju sajalah. Ini adalah solusi bagi mereka yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam dan banyak tenaga untuk menyetrika.

Itu hal-hal kecil yang bisa kau lakukan untuk istrimu, untuk menjaganya tetap waras.

♧♧♧

Jadi Bu, simpan sebagian waktu dan tenagamu untuk Me Time ya.

Kau selalu punya banyak cinta untuk anak-anak dan suamimu, tapi lupa untuk mencintai diri sendiri.

Kau selalu memberikan makanan sehat bergizi tinggi untuk keluargamu, tapi sering melewatkan jam makan diri sendiri.

Percayalah, setelah punya Me Time yang teratur, kualitas hidupmu akan meningkat. Lebih rileks, segar, tidak mudah marah dan makin positif dalam menyikapi permasalahan dalam hidup ini.

Kau akan lebih sering tersenyum. Amarahmu tidak cepat naik saat menghadapi ulah si kecil. Bisa berdiskusi dengan lebih logis dengan suami, karena berkurang kadar bapernya hehe..

Selamat menikmati Me Time ya Bu..

Hilangkan penat sebelum menjadi stress, apalagi depresi. Dan jika depresi membuatmu ingin menyakiti diri sendiri, tolong tunda dulu.

Bicaralah pada orang yang bisa dipercaya, bebanmu akan berkurang. Bicaralah, karena diam hanya akan membuatmu semakin tenggelam.

Jika tak sanggup lagi, segera cari bantuan psikolog atau psikiater ya Bu..

Ingatlah, setiap ibu berhak bahagia, agar bisa membesarkan anak-anak yang bahagia pula..

#SharingnyaSinta

Sumber:

Fb: Amalia Sinta

Post a Comment

0 Comments